Piala Dunia 2026 Jadi Ladang Judi Online, Kenapa Indonesia Selalu Dibidik?

Rakhmat Hidayat - Sosiolog UNJ (Foto : Istimewa)
Euforia Piala Dunia ternyata membawa ancaman lain. Saat jutaan orang fokus mendukung tim favorit, pelaku judi online justru gencar memburu korban baru di Indonesia.

BEBER FAKTA – Di balik ramainya pertandingan Piala Dunia FIFA 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan 126.180 konten judi online yang memanfaatkan siaran ilegal, media sosial, hingga tautan tersembunyi untuk menjaring pemain baru.

⚽ 126 Ribu Konten Judi Bermunculan

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander, mengungkapkan para pelaku sengaja menyisipkan link taruhan dalam siaran ilegal.

“Mereka melakukan broadcasting secara ilegal… lalu mengarahkan pengguna ke situs judi online.”

📱 Kenapa Indonesia Jadi Target?

Sosiolog UNJ, Rakhmat Hidayat, menilai Indonesia dipilih bukan tanpa alasan. Populasi besar, pengguna internet yang sangat aktif, serta dominasi anak muda membuat Indonesia menjadi pasar yang sangat menggiurkan.

“Indonesia bukan dipilih secara acak, tetapi karena kombinasi beberapa faktor struktural.”

Selain itu, ketimpangan ekonomi membuat sebagian orang tergoda mencari jalan pintas memperoleh uang.

“Ada jarak antara aspirasi ingin cepat kaya dengan kesempatan yang tersedia. Judi lalu dipersepsikan sebagai jalan pintas.”

🚨 Blokir Satu, Muncul Seribu

Rakhmat menegaskan pemblokiran situs belum cukup karena pelaku terus membuat domain baru. Menurutnya, judi online merupakan bagian dari shadow digital economy yang bergerak lintas negara dan cepat beradaptasi.

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya juga mengingatkan Indonesia menjadi sasaran karena jumlah penduduk yang besar serta literasi digital dan finansial yang masih rendah.

💡 Solusinya Tak Cukup Blokir Situs

Rakhmat menilai pemberantasan judi online harus dibarengi edukasi literasi digital, penguatan ekonomi keluarga, serta perubahan pola pikir masyarakat terhadap iming-iming uang instan.

“Edukasi literasi digital, penguatan ekonomi rumah tangga, dan perubahan norma sosial menjadi kunci.”(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *