Hasil tryout Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Matematika untuk jenjang SMP/MTs di Kota Kupang mulai memetakan tingkat kesiapan akademik siswa menjelang ujian sekolah. Data sementara menunjukkan capaian nilai yang cukup kompetitif dengan sejumlah siswa dari berbagai sekolah masuk dalam daftar 20 besar.
BF/Kota Kupang – Peringkat pertama diraih oleh Gian Afriza dari MTs Negeri Kota Kupang dengan nilai 89,39. Posisi kedua ditempati Habibi Putra Mukolang dari sekolah yang sama dengan nilai 87,88, disusul Keshawa Paramawidya dari SMP Abdi Kasih Bangsa dengan nilai 87,88.
Selain itu, beberapa sekolah lain juga menempatkan siswanya dalam 20 besar, di antaranya UPTD SMP Negeri 1 Kupang, UPTD SMP Negeri 8 Kupang, SMPK Santa Maria Assumpta Kupang, SMP Kristen Mercusuar, dan SMMTs Plus Nurul Iman Kupang.
Instrumen Pemetaan
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernes Ludji, mengatakan tryout tersebut tidak hanya bertujuan melihat peringkat siswa, tetapi lebih jauh menjadi instrumen pemetaan kemampuan akademik sekaligus bahan evaluasi bagi sekolah.

“Tryout ini menjadi alat untuk memetakan kompetensi siswa sebelum menghadapi ujian sekolah yang sebenarnya. Dari hasil ini, sekolah dapat mengetahui materi apa yang sudah dikuasai siswa dan bagian mana yang masih perlu diperkuat,” kata Ernes di Kupang Kamis (5/3/2026).
Menurut dia, hasil tryout harus dimanfaatkan oleh sekolah dan guru sebagai dasar untuk memperbaiki strategi pembelajaran sehingga capaian akademik siswa dapat meningkat pada ujian sekolah mendatang.
“Kami mendorong setiap sekolah memanfaatkan data hasil tryout ini sebagai dasar pembinaan akademik yang lebih terarah,” ujarnya.
Representasi Kondisi Pembelajaran
Sementara itu, Pengawas Sekolah SMP Kota Kupang, Maurits Floris, menilai hasil tryout Matematika tersebut cukup merepresentasikan kondisi pembelajaran di sekolah. Soal yang digunakan, kata dia, telah disusun berdasarkan kisi-kisi dan standar kompetensi yang mengacu pada pola soal ujian sekolah.

“Tujuannya agar siswa terbiasa dengan model soal berbasis kompetensi, bukan sekadar menghafal rumus,” kata Maurits.
Dari hasil evaluasi sementara, ia mengungkapkan masih ada sejumlah materi yang menjadi tantangan bagi sebagian siswa, terutama yang berkaitan dengan pemecahan masalah, aljabar, dan soal berbasis penalaran.
“Banyak siswa masih mengalami kesulitan pada soal yang menuntut analisis dan penalaran, bukan hanya perhitungan. Ini menjadi catatan penting bagi guru untuk memperkuat metode pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tryout bukan sekadar latihan menghadapi ujian, tetapi juga menjadi alat evaluasi bagi sekolah untuk mengetahui posisi capaian belajar siswa dan merancang langkah perbaikan pembelajaran.
“Kami optimistis jika hasil tryout ini ditindaklanjuti secara serius oleh sekolah, guru, dan didukung orang tua, maka capaian siswa pada ujian sekolah nanti dapat meningkat,” ujarnya. (Goe-BF/Vip)











