NTT Mart Digagas Besar, Tapi Terlihat Setengah Jadi?

Ini Masalah yang Mulai Disorot Publik

Olahgrafis: Vico Patty-BF

Program NTT Mart digadang-gadang jadi senjata ekonomi baru NTT. Namun, di lapangan, banyak gerai justru terlihat setengah matang. Branding lemah, konsep belum jelas, dan kini harus berhadapan langsung dengan raksasa ritel nasional. Seperti pendapat dari Pakar Ekonomi NTT, Dr. Frits Fanggidae yang menyoroti ketersediaan produk dari pelaku UMKM. Mampukah NTT Mart bertahan, atau hanya jadi proyek ambisi yang terburu-buru?

 

BEBER FAKTA – Program NTT Mart yang digagas Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, memang membawa misi besar: mengangkat produk lokal dan memperkuat ekonomi rakyat.

Namun, di lapangan, berbagai kritik mulai bermunculan. Publik menilai program ini berjalan tanpa perencanaan bisnis yang matang.

TERBURU BURU- Pembukaan salah satu Gerai NTT Mart. proyek ambisi yang terburu-buru? (Olahfota: Vico Patty-BF)

Gerai Ada, Konsep Belum Jelas

Seperti dikutip dari Kefamenanu News, sejumlah gerai NTT Mart sudah berdiri di beberapa wilayah. Pemerintah bahkan menyebutnya sebagai “ruang strategis” untuk pemasaran produk lokal.

Namun, persoalan mendasar muncul:
banyak gerai terlihat hanya sebagai etalase, bukan sistem bisnis yang terintegrasi.

Alih-alih menjadi jaringan distribusi kuat, NTT Mart masih tampak seperti proyek simbolik.

Bahkan, Gubernur sendiri mengakui program ini masih tahap awal dan butuh waktu berkembang.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa fondasi bisnisnya belum solid.

 

Branding Lemah, Sulit Bersaing

Masalah lain yang krusial adalah branding.

Hingga kini, NTT Mart belum memiliki identitas kuat di benak konsumen. Tidak ada positioning yang jelas:
apakah sebagai toko UMKM premium, ritel murah, atau pusat oleh-oleh khas.

Akibatnya, NTT Mart sulit membangun loyalitas pasar.

Padahal, dalam dunia ritel modern, branding adalah kunci utama untuk bertahan.

Tanpa itu, NTT Mart hanya akan menjadi toko biasa—tanpa daya tarik.

 

Harus Hadapi Raksasa Ritel Nasional

Tantangan terbesar justru datang dari luar.

NTT Mart harus bersaing langsung dengan jaringan ritel besar seperti Alfamart dan Indomaret.

Kedua raksasa ini sudah memiliki:

  • Sistem distribusi yang matang
  • Branding kuat
  • Harga kompetitif
  • Jaringan luas hingga pelosok

Sementara itu, NTT Mart baru mulai dan belum memiliki keunggulan kompetitif yang jelas.

Bahkan, Gubernur sendiri meminta agar NTT Mart tidak dibandingkan dengan ritel besar tersebut karena masih tahap awal.

Namun di sisi lain, pasar tidak memberi “dispensasi waktu”. Konsumen tetap akan memilih yang paling praktis dan murah.

 

Dipaksa Jalan, Tapi Kepercayaan Belum Terbangun

Fakta lain yang menarik, program ini bahkan sudah menuai protes sejak awal peluncuran.

Gubernur mengakui adanya kritik terhadap NTT Mart, namun tetap meminta program ini dijalankan.

Artinya, ada kesenjangan antara kebijakan dan penerimaan publik.

Masalahnya sederhana:
masyarakat belum sepenuhnya percaya bahwa NTT Mart bisa menjadi solusi ekonomi.

 

Potensi Besar, Tapi Butuh Desain Ulang

Secara konsep, NTT Mart sebenarnya punya peluang besar.

Program ini bisa menjadi:

  • pusat distribusi UMKM
  • penguat ekonomi lokal
  • pengendali arus uang keluar daerah

Bahkan, pemerintah menargetkan perputaran uang besar dari program ini.

Namun tanpa:

  • perencanaan bisnis yang jelas
  • strategi branding kuat
  • sistem logistik profesional

NTT Mart berisiko hanya menjadi proyek jangka pendek.

 

Pakar Ekonomi: Kunci Bukan di Gerai, Tapi Produk

Seperti yang dikutip dari Media ViktoryNews edisi Kamis, 5 Februari 2026, Pakar ekonomi NTT, Dr Frits Oscar Fanggidae, menegaskan bahwa keberhasilan NTT Mart bukan ditentukan oleh jumlah gerai.

Menurutnya, faktor utama justru terletak pada ketersediaan produk dari pelaku UMKM.

“Yang menentukan itu bukan NTT Martnya, tapi pelaku-pelaku UMKM yang menghasilkan produk,” tegasnya.

Ia bahkan mengibaratkan NTT Mart seperti toko biasa.

“Kalau tidak ada barang, dia mau untung dari mana?” ujarnya lugas.

Pernyataan ini menjadi kritik tajam terhadap kondisi saat ini, di mana gerai sudah dibangun, tetapi pasokan produk belum tentu siap.

 

Masalah Fundamental: Supply Belum Kuat

Menurut Dr Frits, pemerintah harus fokus memastikan UMKM mampu memproduksi barang secara konsisten.

Tanpa itu, NTT Mart tidak akan berjalan optimal.

Ia mendorong Pemprov NTT untuk:

  • Memberikan pendampingan berkelanjutan
  • Menyalurkan bantuan produksi
  • Memastikan rantai pasok UMKM stabil

“Yang penting sekarang, pastikan dulu ada produk yang dijual,” katanya.

Artinya, fondasi program ini belum sepenuhnya kokoh.

 

Eksekusi Tergesa-gesa

NTT Mart bukan ide yang salah.

Namun, cara eksekusinya yang terlihat tergesa-gesa membuat program ini rentan gagal bersaing.

Di tengah ekspansi agresif ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret, NTT Mart dituntut lebih dari sekadar “niat baik”.

Tanpa pembenahan serius, program ini bisa berakhir sebagai simbol kebijakan—bukan solusi ekonomi nyata bagi masyarakat NTT. (Vic-BF/Vip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *