
Dari Kerusakan Parah ke Upaya Pemulihan: Jejak Kronologis
Jalan Taebenu dikenal sebagai penghubung penting antara Kelurahan Oebufu dan Kelurahan Naimata, wilayah strategis dalam Kota Kupang. Sebelumnya, ruas ini sempat “baru selesai dikerjakan pada 2022” — tapi kemudian mengalami kerusakan berat.
Cuaca ekstrem dan hujan lebat di awal 2024 kembali memperparah kondisi jalan: retak dari pinggir hingga ke tengah, hingga nyaris putus. Akibatnya, jalan sempat ditutup sementara dan pengendara dialihkan.

Karena lokasi Jalan Taebenu berada di area dengan struktur tanah yang labil dan rawan longsor, perbaikan tidak bisa dilakukan asal-asalan. Butuh kajian mendalam dan perencanaan matang agar kerusakan tidak terjadi berulang.
2025: Tahun Rekonstruksi dengan Teknologi “Tahan Longsor”
Pada awal 2025, Pemerintah Kota Kupang bersama DPRD menyepakati anggaran untuk perbaikan: kisaran Rp 13,5 — 13,9 miliar.
Perbaikan baru benar-benar digarap mulai Juni 2025, setelah persiapan lelang dan perencanaan teknis selesai.
Lihat Infografis: Data Kuantitatif & Teknis Proyek Jalan Taebenu di akhir artikel
Untuk mengatasi masalah tanah labil dan potensi longsor, proyek memakai metode bored-pile (pondasi dalam) — yakni pengeboran tanah dalam (hingga 11 m, 16 m, hingga 21 m kedalaman), diikuti pemasangan tulangan baja dan pengecoran beton kelas mutu tinggi (FC 30).
Tahap piling telah rampung — standar 117 titik pile di sisi kiri dan kanan jalan — lalu dilanjutkan dengan pengecoran dan penimbunan. Struktur dinding beton dibuat tebal (bagian bawah ±70 cm, bagian atas ±30 cm) untuk memastikan daya tahan dan stabilitas jangka panjang.
Harapan Baru Bagi Warga — Dampak Sosial & Mobilitas
Bagi warga Kelurahan Oebufu, Naimata dan sekitarnya, kelanjutan proyek ini membawa harapan akan akses jalan yang aman dan stabil — terutama saat musim hujan. Setelah berbagai kerusakan dan penutupan jalan, publik bisa kembali nyaman melewati jalur utama tanpa harus mengambil jalur alternatif sempit atau berbahaya.

Tak hanya kenyamanan, tapi juga aspek keselamatan: dengan pondasi dan konstruksi baru, risiko longsor atau amblas bisa ditekan, sehingga mengurangi kekhawatiran warga terhadap zona rawan longsor.
Di sisi administrasi dan pemerintahan lokal, keberhasilan proyek ini bisa jadi tolok ukur kemampuan perencanaan dan eksekusi infrastruktur di Kota Kupang — menunjukkan bahwa anggaran, pengawasan, dan teknologi konstruksi dapat bersinergi untuk hasil yang berkelanjutan. (Vico Patty-BF/Vip)












