Dari sungai di Kupang hingga terapi pasien pasca-stroke, mahasiswa Undana membuktikan bahwa ide kampus bisa menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
BEBER FAKTA – Ketika banyak anak muda sibuk mengejar nilai kuliah, tiga tim mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) justru melangkah lebih jauh. Mereka menciptakan inovasi yang menjawab persoalan lingkungan dan kesehatan, lalu berhasil menembus Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Nasional 2026.
Prestasi ini semakin membanggakan karena proposal mereka lolos pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kini, mereka bersiap membawa nama NTT ke panggung nasional.
🌊 Berawal dari Sungai yang Makin Mengkhawatirkan
Tim dari Prodi Kimia FST Undana memilih fokus pada kualitas air sungai di Kota Kupang. Mereka mengembangkan teknologi pengambilan sampel air berbasis mikrobutiran inklusi polimer untuk mendeteksi kadar ion besi (Fe³⁺) di Sungai Liliba, Naioni, dan Naimata.
Bagi mereka, riset ini bukan sekadar penelitian laboratorium. Sebaliknya, riset ini lahir dari keresahan terhadap aktivitas masyarakat yang berpotensi mencemari sungai.
“Jika ditemukan kadar berlebih, kami akan melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas yang mencemari air tersebut,” tegas Paskalina Fransiska Patus, ketua tim.
❤️ Saat Pengasuh Panti Juga Butuh Dukungan
Sementara itu, tim Farmasi Undana menghadirkan pendekatan yang berbeda. Mereka menjalankan program “PKM-PM TANGGUH” di Panti Asuhan Kasih Agape.
Menariknya, program ini tidak berfokus pada anak-anak panti. Justru, tim memilih mendampingi para pengasuh yang setiap hari menjadi tempat bersandar bagi anak-anak tersebut.
“Kami ingin memastikan mereka memiliki pola asuh yang efektif dan kesehatan mental yang terjaga dalam membimbing anak-anak panti,” jelas Meliana Dominika Wensia.
Karena itu, program ini berupaya memperkuat mental para pengasuh agar mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan suportif.
🧠 Mimpi Besar untuk Penyintas Stroke
Di sisi lain, tim gabungan Pendidikan Dokter dan Farmasi melahirkan gagasan bernama “SARAMA”. Perangkat ini dirancang sebagai alat stimulasi saraf adaptif untuk membantu pemulihan fungsi motorik pasien pasca-stroke.
Meski menyusun proposal di tengah padatnya jadwal kuliah, tim berhasil mencuri perhatian juri nasional.
“Alat ini dirancang untuk membantu mengembalikan kemampuan gerak penderita disabilitas akibat stroke,” ungkap Ivander Yosef Lelo.
🏆 Menuju Panggung Ilmiah Nasional
Lolos pendanaan PKM hanyalah awal perjalanan. Selanjutnya, ketiga tim akan menjalankan program hingga November 2026 sebelum bersaing menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Universitas Diponegoro.
Bagi Undana, pencapaian ini bukan hanya soal prestasi. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa NTT mampu menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan Indonesia. (Sumber: Humas Undana/Ref/Vip-BF)











