Mahasiswa NTT di Yogyakarta Bertahan Hidup dengan Ngebon di Warmindo

Foto: Istimewa
Kabar gempa NTT membuat mahasiswa asal Manggarai Timur, Vansianus Masir alias Ancik, cemas. Ia harus bertahan di Yogyakarta sambil menunggu kabar ibunya yang tinggal seorang diri di daerah terdampak.

BEBER FAKTA— Ancik merupakan mahasiswa semester 8 di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Ia mengetahui gempa melalui unggahan teman-temannya di WhatsApp pada 15 Agustus 2026.

“Buka WA banyak teman yang update status kan sekitar jam 6 kurang, langsung saya telepon mama,” kata Ancik saat ditemui di Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (19/8/2026).

🌋 Gempa dan Longsor Berdampak ke Kampung Ancik

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Ibu Ancik selamat, tetapi komunikasi mereka sempat terputus.

Ancik mengatakan listrik di wilayah tempat tinggal ibunya baru menyala pada 17 Agustus 2026. Pada hari ketiga setelah gempa, ia bahkan tidak dapat menghubungi ibunya.

“Listrik baru menyala tanggal 17, dua hari setelah gempa,” ujar Ancik.

Selain gempa, Manggarai Timur juga mengalami tanah longsor. Ancik mengatakan lereng di bagian barat kampungnya longsor hingga merusak sejumlah rumah.

“Kampung saya kan di atas bukit, nah di bagian baratnya ada lereng akibat gempa kemarin tanahnya itu luruh sehingga rumah-rumah di bagian barat tu rusak,” katanya.

💸 Ancik Tak Tega Minta Kiriman Uang

Situasi tersebut membuat Ancik berada dalam kondisi sulit. Ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta.

Namun, Ancik tidak tega meminta kiriman uang kepada keluarga yang sedang menghadapi dampak bencana. Apalagi, kondisi keuangannya sendiri pas-pasan.

Baca Berita Terkait: Warga Lelak Keluhkan Bantuan Gempa Tak Kunjung Tiba

Ia kemudian mengandalkan sejumlah gerakan sosial di Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk kebutuhan saya kemarin pesan nasi darurat itu. Mama belum aktif kemungkinan sendirian di rumah adik-adik di Surabaya, Bapak sudah tidak ada,” ujarnya.

🍜 Bertahan Hidup dengan Ngebon di Warmindo

Dalam kondisi terbatas, Ancik mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup di Yogyakarta. Salah satunya dengan berutang sementara kepada warung makan sekitar kosnya.

“Ada beberapa cara lah untuk bisa bertahan hidup di sini, ngebon Warmindo-warmindo gitu,” kata Ancik.

Kondisi serupa juga dirasakan mahasiswa NTT lainnya di Yogyakarta. Cornelisiano Ligi Longa mengatakan keluarganya di NTT dalam kondisi baik.

Namun, komunikasi dengan keluarga masih terkendala jaringan dan listrik.

“Mungkin kendala dengan listrik, mama saya tinggal di kota terakhir komunikasi sebelum berangkat ke sini,” kata Cornelisiano.

🤝 Pemda DIY Salurkan Bantuan Rp1 Miliar

Di tengah kesulitan komunikasi tersebut, Pemda DIY memberikan perhatian kepada mahasiswa asal NTT di Yogyakarta.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan Pemda DIY memberikan bantuan Rp1 miliar kepada Pemerintah Provinsi NTT.

Bantuan tersebut merupakan hasil konsolidasi Pemda DIY bersama organisasi perangkat daerah lainnya.

Pemda DIY juga memberikan bantuan kepada mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Sultan mengatakan bantuan kepada korban bencana merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak era Sultan Hamengku Buwono IX.

“Sebetulnya saya hanya melanjutkan hal-hal seperti ini yang pernah dilakukan oleh Sultan ke-9 pada waktu peristiwa PRRI Permesta,” ujar Sultan, Rabu (19/8/2026).

Bagi Ancik, bantuan tersebut memberi dukungan di tengah ketidakpastian kondisi keluarganya.

Ia memilih tetap bertahan di Yogyakarta sambil menunggu komunikasi dengan ibunya kembali normal.(*/Red.03-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *