Investasi Rp40 Miliar Masuk Bolok, NTT Bersiap Jadi Basis Ekspor Woodchip ke China

Olahgrafis cover: Vico Patty-BF
Investasi senilai Rp35–40 miliar segera masuk Kawasan Industri Bolok (KIB), Kabupaten Kupang. Pabrik pengolahan woodchip itu diproyeksikan membuka lapangan kerja dan mendorong NTT menjadi pusat pengolahan serta ekspor woodchip.

BEBER FAKTA—Kesepakatan itu mulai menemukan bentuk setelah Direktur Utama Harvest Green Global Agriculture (HGGA), Alfyan Irsyad Nasrum S.P.M.Agb, datang langsung meninjau kawasan PT Kawasan Industri Bolok (KIB), Senin, 24 Agustus 2026.

Kunjungan tersebut berujung pada kesepakatan (gentlemen’s agreement) penyewaan lahan untuk pembangunan pabrik pengolahan woodchips. Bagi kedua perusahaan, langkah ini menjadi awal menuju kerja sama investasi jangka panjang di NTT.

🏭 Dari Lahan Bolok Menuju Pabrik Woodchip

Direktur Utama PT KIB, Rusyanto N.C. Hiskia, mengatakan HGGA akan menyewa lahan milik KIB untuk membangun pabrik pengolahan woodchips.

“Kami telah mencapai kesepakatan dengan HGGA. Mereka akan menyewa lahan milik PT KIB untuk pembangunan pabrik pengolahan woodchips di lokasi tersebut,” jelas Rusyanto.

Kedua pihak menargetkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada awal September 2026.

“Kami segera melakukan penandatangan MoU, paling lambat pada awal bulan depan,” kata Rusyanto.

Setelah MoU, kedua pihak juga telah menyiapkan agenda ground breaking pembangunan pabrik. Peletakan batu pertama direncanakan dilakukan Gubernur NTT Melkiades Laka Lena pada minggu pertama September 2026.

“Rencananya pak Gubernur NTT yang akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik HGGA, setelah penandatanganan MoU, kira-kira segera dalam minggu pertama September ini,” jelas Rusyanto.

🌱 Sepuluh Hektare untuk Investasi 20 Tahun

HGGA akan menyewa lahan KIB seluas 10 hektare pada tahap awal. Masa sewanya diperkirakan berlangsung sekitar 20 tahun.

Menurut Rusyanto, luas lahan tersebut masih dapat bertambah. Ekspansi akan terbuka jika HGGA mengembangkan bisnisnya di kawasan tersebut.

“Untuk tahap awal HGGA akan menyewa lahan KIB seluas 10 hektar dengan masa kontrak kurang lebih dua puluh tahun. Tidak tertutup kemungkinan, untuk ekspansi bisnisnya, mereka akan memperluas lahan yang akan disewa,” jelas Rusyanto.

Rusyanto menilai investasi tersebut dapat memberi keuntungan bagi NTT. Selain menambah pendapatan asli daerah (PAD), pembangunan pabrik juga diharapkan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar kawasan industri.

🚢 Dekat Pelabuhan Jadi Alasan Memilih Bolok

Bagi HGGA, posisi KIB menjadi salah satu alasan penting memilih NTT sebagai pusat bisnis.

Alfyan mengatakan kawasan tersebut memiliki lokasi strategis karena dekat dengan pelabuhan. Kondisi itu dapat memudahkan penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga pengiriman woodchips kepada pembeli melalui jalur laut.

“Lokasi KIB yang dekat dengan pelabuhan tentunya akan sangat membantu menekan biaya logistik dan membuat kegiatan ekspor lebih efisien.”

Selain faktor logistik, HGGA melihat NTT memiliki potensi bahan baku yang besar. Potensi tersebut mencakup Acacia, Eucalyptus, serta jenis kayu lainnya.

Namun, HGGA tidak hanya melihat ketersediaan bahan baku. Perusahaan juga ingin membangun sistem pengadaan yang legal, terorganisir, dan berkelanjutan.

“Potensi bahan baku NTT cukup besar, dengan adanya pabrik kami di Bolok, kami juga ingin membangun sistem pengadaan bahan baku yang legal, terorganisir dan berkelanjutan,” jelas Alvian.

💰 Rp35–40 Miliar untuk Fasilitas Pabrik

HGGA memperkirakan nilai investasi awal berada pada kisaran Rp35–40 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas pabrik, mesin produksi, gudang, area penyimpanan, utilitas, serta kebutuhan pendukung lainnya.

“Estimasi awal investasi sekitar 35 hingga 40 miliar. Nantinya akan kami finalisasi berdasarkan desain kapasitas pabrik, spesifikasi mesin, kebutuhan lahan, serta hasil kajian teknis dan finansial,” jelas Alfyan.

HGGA berharap kerja sama dengan PT KIB berlangsung dalam jangka panjang. Dengan begitu, investasi dapat memiliki kepastian dan berkembang secara bertahap.

Alfyan menyebut jangka waktu tersebut akan menyesuaikan skema sewa lahan dan kesepakatan kedua pihak.

👷 Harapan Lapangan Kerja bagi Masyarakat NTT

Bagi HGGA, pembangunan pabrik di Bolok bukan sekadar mendirikan fasilitas industri baru.

Alfyan berharap investasi tersebut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat NTT. Perusahaan juga ingin meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam penyediaan bahan baku.

“Dengan kehadiran pabrik Harvest kami ingin dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat NTT, meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam penyediaan bahan baku, serta menciptakan kegiatan ekonomi baru di sekitar kawasan industri dan pelabuhan,” jelas Alvian.

Ia melihat investasi ini sebagai peluang untuk mengembangkan industri pengolahan hasil hutan di NTT. Dengan pengolahan dilakukan di daerah, nilai tambah komoditas diharapkan lebih banyak dirasakan masyarakat dan daerah.

🌏 NTT Dibidik Jadi Pusat Pengolahan dan Ekspor

Harapan HGGA tidak berhenti pada pembangunan satu pabrik.

Perusahaan ingin NTT tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. NTT juga diharapkan berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan dan ekspor woodchip di Indonesia.

“Kami ingin investasi ini menjadi kerja sama jangka panjang yang memberikan manfaat bagi tiga pihak: Harvest sebagai investor dan pengelola, PT KIB sebagai kawasan industri, serta masyarakat dan Pemerintah NTT sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah,” tutup Alvian.

Kini, tahapan berikutnya mengarah pada penandatanganan MoU dan ground breaking pada awal September 2026. Dari lahan 10 hektare di Bolok, sebuah rencana investasi mulai diarahkan untuk membuka ruang baru bagi industri, pekerjaan, dan kegiatan ekonomi di NTT. (Vic-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *