Puluhan Hektare Sawah Raimataus Terancam Gagal Panen, Petani Krisis Air

Foto: Ist. (Olahgrafis: Diego Tristan-BF)
Puluhan hektare sawah warga Desa Raimataus, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, NTT, terancam gagal panen. Kekeringan hampir satu bulan membuat tanah retak dan tanaman padi mulai menguning.

BEBER FAKTA— Kondisi tersebut terjadi saat musim kemarau melanda wilayah Desa Raimataus. Petani kini kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mempertahankan tanaman padi.

🌾 Kekeringan Ancam 90 Persen Sawah

Warga Desa Raimataus, Yohanes Hane, menyampaikan kondisi tersebut pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurut Yohanes, kekeringan sudah berlangsung hampir satu bulan. Kondisi itu membuat area persawahan mengalami kekurangan air.

“Sampai saat ini sawah-sawah mengalami kekeringan bisa dikatakan sekitar 90 persen terancam gagal panen,” kata Yohanes.

Ia menjelaskan, usia tanaman padi saat ini berkisar 1,5 hingga 2 bulan. Pada usia tersebut, tanaman padi rentan mati jika tidak mendapat pasokan air yang cukup.

💧 Petani Minta Sumur Bor dan Pompa

Yohanes berharap pemerintah membantu petani menghadapi kekeringan. Ia mengusulkan pembangunan sumur bor dan penyediaan mesin pompa.

“Harapan kami agar pemerintah kiranya dapat membantu, paling tidak untuk sumur bor dan mesin pompa. Satu desa paling tidak kebutuhannya minimal 5 sumur bor,” katanya.

Menurut Yohanes, sumur bor dapat membantu warga menghadapi musim kemarau. Fasilitas tersebut juga dapat mendukung petani meningkatkan frekuensi panen.

Baca Juga:Aksi Kemanusiaan Flores! PMKRI Atambua dan Satgas Citarum BAIS Bergerak

Dengan ketersediaan air, warga berharap dapat melakukan panen dua atau tiga kali dalam setahun.

🌱 Dinas Pertanian Ingatkan Kondisi Irigasi

Media ini kemudian berupaya meminta konfirmasi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Malaka.

Konfirmasi dilakukan kepada Laurens Bere selaku pihak terkait. Laurens menyampaikan kondisi Indeks Pertanaman (IP) perlu menyesuaikan ketersediaan air.

“Kalau IP hanya 100 jangan dipaksa IP menjadi 200, sekarang awal musim kemarau,” kata Laurens.

IP 100 atau Indeks Pertanaman 100 berarti lahan hanya ditanami dan dipanen satu kali dalam setahun.

Sementara itu, IP 200 berarti lahan ditanami dan dipanen dua kali dalam setahun.

🌽 Petani Diminta Sesuaikan Komoditas

Laurens sebelumnya mengingatkan petani agar tidak memaksakan penanaman padi pada musim tanam kedua.

“Saya sudah pernah memperingatkan bila irigasinya belum permanen jangan coba memaksa menanam padi di MT2, beralih komoditi padi ke Jagung atau ahuklean,” kata Laurens.

Peringatan tersebut berkaitan dengan kondisi irigasi yang belum permanen. Petani diminta mempertimbangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi air selama musim kemarau.(*/Red.03-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *