Dari Sidang MPH & HUT PGI ke- 76 “Detak Oikoumene dari Timur”

Polarisasi Sosial, Krisis Lingkungan, Intoleransi hingga Kemanusiaan

Olahgrafis cover: Vico Patty-BF

Di tengah laut, angin, dan tenun Alor, Ketua PGI mengingatkan Indonesia: gereja jangan sibuk dengan temboknya sendiri. Gereja harus hadir di tengah luka sosial, konflik digital, dan krisis kemanusiaan.

BEBER FAKTA-Pagi itu, langit Kalabahi terlihat cerah. Bunyi gong dan tarian adat menyambut rombongan gereja-gereja dari seluruh Indonesia yang datang ke Alor, Nusa Tenggara Timur.

Namun, di balik kemeriahan Sidang Majelis Pekerja Harian (MPH) dan HUT ke-76 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), ada pesan yang terasa jauh lebih besar daripada seremoni.

SIDANG MPH – Kiri ke Kanan: Sekretaris Umum Pdt. Darwin Darmawan, Ketua II Olly Dondokambey, Ketua Umum Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, dalam Sidang MPH PGI 2026 di Alor. (Foto: Istimewa)

Pesan itu datang langsung dari Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty. Bukan tentang kekuasaan gereja. Bukan pula tentang kemegahan organisasi.

Sebaliknya, ia berbicara tentang persaudaraan yang mulai retak, tentang dunia digital yang makin gaduh, dan tentang gereja yang menurutnya tidak boleh diam melihat manusia saling menghancurkan.

Dari Alor, sebuah pulau di timur Indonesia, ia mengirim pesan keras untuk seluruh negeri.

 

🌊 “Detak Oikoumene dari Timur”

Kalimat itu menjadi salah satu kutipan paling kuat selama Sidang MPH PGI berlangsung sejak 23 hingga 25 Mei 2026.

“Detak oikoumene juga ada di pulau-pulau terluar seperti Alor.” Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi banyak peserta sidang, pesan tersebut terasa sangat dalam.

Ketua PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty (jaket hijau) saat diberikan sarung dan ikat kepala tenunan Alor saat penyambutan pada kedatangan dengan rombongan di Bandara Mali, Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Istimewa)

 

Pdt. Samuel Pandie, Ketua Sinode GMIT (kanan), saat diberikan sarung dan ikat kepala tenunan Alor saat penyambutan. (Foto: Istimewa)
Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena (kiri), Sekretaris Sinode Gmit, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi (tengah) dan Ketua PGI Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty (kanan), dalam acara HUT PGI ke-76 di Alor, NTT. (Foto: Istimewa)

Selama ini, banyak agenda nasional sering berpusat di kota besar. Jakarta menjadi simbol pusat. Pulau Jawa menjadi titik perhatian. Sementara wilayah timur kerap dianggap pinggiran. Tetapi PGI justru memilih Alor. Dan keputusan itu bukan tanpa makna.

PGI ingin menunjukkan bahwa suara dari wilayah terluar Indonesia tetap penting. Bahwa gereja di pelosok memiliki martabat yang sama. Bahwa persaudaraan nasional tidak boleh berhenti di kota-kota besar.

Karena itu, Alor bukan hanya tuan rumah. Alor menjadi simbol.

 

🔥 Ketika Ketua PGI Bicara Soal Dunia yang Makin Bising

Di depan peserta sidang, Manuputty tidak hanya berbicara soal internal gereja. Ia justru menyinggung sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan generasi hari ini: ruang digital yang makin penuh kebencian.

Media sosial berkembang cepat. Informasi bergerak liar. Orang saling menyerang hanya karena berbeda pilihan, keyakinan, bahkan identitas.

BACA JUGA: Wali Kota Kupang: “Budaya Itu Titipan Anak Cucu”

Dan di tengah situasi itu, PGI merasa gereja tidak boleh hanya menjadi penonton. “Gereja harus tetap menjadi pembawa damai,” menjadi salah satu pesan utama yang terus digaungkan selama sidang berlangsung.

Karena itu, forum MPH PGI di Alor tidak hanya membahas organisasi. Mereka juga membahas polarisasi sosial, krisis lingkungan, intoleransi, hingga tantangan kemanusiaan.

Pesannya jelas. Gereja tidak boleh sibuk dengan dirinya sendiri. Gereja harus hadir di tengah masyarakat yang sedang lelah oleh konflik dan kebisingan digital.

 

🧵 Tenun Alor dan Makna Persaudaraan

Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika peserta sidang membentuk lingkaran sambil memegang kain tenun Alor… Lego-Lego.

Di mata sebagian orang, itu mungkin hanya seremoni budaya. Namun, bagi PGI, tenun Alor punya makna jauh lebih dalam.

Setiap benang berbeda warna. Setiap motif tidak sama. Tetapi semuanya terhubung menjadi satu kain yang utuh. Itulah Indonesia. Dan itulah yang ingin disampaikan PGI.

Bahwa perbedaan bukan ancaman. Perbedaan justru menjadi kekuatan ketika dirawat dengan persaudaraan.

Pdt. Ira Imelda, Anggota MPH PGI dari Gereja Pasundan Indonesia. (Foto: Istimewa)

Pdt. Ira Imelda, Anggota MPH asal Gereja Pasundan Indonesia bahkan menyebut kain tenun Alor sebagai simbol kehidupan bersama dalam keberagaman.

Pesan itu terasa kuat karena datang di tengah situasi bangsa yang masih sering terpecah akibat isu agama, politik, dan identitas sosial.

 

🤝 Alor Mengajarkan Sesuatu yang Mulai Hilang

Selama sepekan kegiatan berlangsung, satu hal paling banyak dibicarakan peserta ialah suasana persaudaraan masyarakat Alor.

Sapaan “Taramiti Tominuku!” terdengar hampir di setiap sudut kota. Kalimat adat itu berarti semangat persaudaraan dan keterbukaan bagi siapa saja.

Banyak peserta mengaku tersentuh karena masyarakat Alor menerima tamu lintas daerah dengan hangat tanpa melihat latar belakang.

Di saat dunia maya dipenuhi kemarahan, Alor justru memperlihatkan wajah Indonesia yang sederhana: saling menerima.

Karena itu, PGI menilai Alor bukan hanya tempat kegiatan. Alor adalah pesan itu sendiri.

 

⚡ PGI Tak Mau Gereja Hanya Jadi Penonton Zaman

Puncak HUT ke-76 PGI pada 25 Mei 2026 berlangsung meriah. Ribuan umat memadati lokasi ibadah syukur dan pawai budaya di Kalabahi.

Tetapi di balik kemeriahan itu, PGI sebenarnya sedang menyampaikan kegelisahan besar. Mereka melihat dunia berubah cepat.

Anak muda hidup dalam tekanan digital. Polarisasi politik makin tajam. Krisis lingkungan memburuk. Konflik sosial mudah meledak.

Dan dalam situasi seperti itu, Manuputty mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya hadir saat ibadah hari Minggu.

Gereja harus hadir di tengah persoalan nyata manusia. Gereja harus berani bersuara ketika ada ketidakadilan. Gereja harus merawat perdamaian ketika masyarakat mulai saling membenci.

Dan gereja harus menjadi rumah yang menenangkan ketika dunia terasa makin gaduh.

🌅 Dari Timur Indonesia, Sebuah Pesan Dikirim untuk Negeri

Sidang MPH dan HUT PGI di Alor akhirnya bukan sekadar agenda tahunan gereja. Acara itu berubah menjadi ruang refleksi tentang Indonesia hari ini. Tentang bagaimana manusia mulai kehilangan empati. Tentang bagaimana teknologi mendekatkan orang, tetapi juga memecah mereka. Dan tentang bagaimana persaudaraan perlahan menjadi sesuatu yang mahal.

Dari pulau kecil di timur Indonesia, PGI mencoba mengingatkan kembali bahwa bangsa ini tidak dibangun oleh kebencian. Melainkan oleh kebersamaan.

Karena itu, ketika Ketua PGI berkata, “Detak oikoumene juga ada di pulau-pulau terluar seperti Alor,” pesan itu sebenarnya bukan hanya untuk gereja. Pesan itu untuk seluruh Indonesia. (Vic-BF/Vip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *