🔥 “Turun Gunung! 30 Profesor Undana Siap ‘Hajar’ Kemiskinan & Stunting di NTT”

Olahgrafis: Vico Patty-BF

Langkah tak biasa diambil Universitas Nusa Cendana. Puluhan guru besar kini turun langsung ke lapangan. Mereka tak lagi hanya meneliti—mereka siap jadi ujung tombak solusi di pelosok NTT.

 

🚀 Profesor Tak Lagi di Menara Gading

BEBER FAKTA – Program “Guru Besar Berdampak” resmi diluncurkan. Sebanyak 30 profesor langsung diterjunkan ke delapan wilayah strategis di Nusa Tenggara Timur.

Langkah ini bukan sekadar simbolik. Sebaliknya, Undana mengubah total peran akademisi. Kini, para guru besar memimpin langsung intervensi riset dan pengabdian.

Rektor Jefri S. Bale menegaskan arah baru ini. Ia ingin riset tidak berhenti di jurnal. Sebaliknya, hasilnya harus terasa nyata bagi masyarakat.

 

💰 Suntikan Rp34 Miliar, Fokus Aksi Nyata

Tahun ini, Undana menggelontorkan dana besar. Total anggaran penelitian dan pengabdian tembus Rp34 miliar.

Dari jumlah itu:

  • Rp30 miliar dikelola melalui sistem SIPP
  • 492 penelitian didanai
  • 447 program pengabdian dijalankan

Menariknya, setiap kelompok profesor memegang kendali langsung di wilayah dampak. Dengan begitu, mereka tak hanya merancang—tetapi juga mengeksekusi solusi.

 

📍 8 Daerah Jadi Medan “Tempur” Ilmuwan

Undana sudah memetakan delapan wilayah prioritas, yaitu:

  • Provinsi NTT
  • Kota Kupang
  • Kabupaten Kupang
  • TTS
  • Rote Ndao
  • Sumba Timur
  • Sumba Tengah
  • Ngada

Setiap wilayah mendapat dukungan minimal Rp1 miliar. Sementara itu, tiap kelompok profesor mengelola sekitar Rp100 juta untuk aksi lapangan.

 

🎯 Fokus Serius: Dari Stunting hingga Tata Kelola

Program ini langsung menyasar masalah krusial. Di antaranya:

  • Kemiskinan ekstrem
  • Stunting
  • Ketahanan pangan lokal
  • Kesehatan dan pendidikan
  • Tata kelola keuangan daerah

Dengan fokus ini, Undana ingin hasil cepat sekaligus berkelanjutan.

 

⚠️ Catatan Kritis: Jangan Jalan Sendiri!

Ketua Senat Undana, Fredrik L. Benu, memberi peringatan penting. Ia meminta pemerintah daerah ikut terlibat dalam pembiayaan.

Menurutnya, kolaborasi anggaran wajib terjadi. Tanpa itu, program bisa berat di satu pihak saja.

Selain itu, David B.W. Pandie menekankan sinkronisasi. Ia meminta riset harus sejalan dengan RKPD dan RPJMD. Tujuannya jelas: agar program tepat sasaran dan berkelanjutan.

 

🗓️ Catat! Jadwal Pengajuan Dimulai

Proses pengusulan proposal:
📅 9–23 Maret 2026
📢 Pengumuman: awal April 2026

Setelah itu, program langsung bergerak cepat di lapangan.

 

🌊 Undana Mau Jadi “Mercusuar” NTT

Lewat langkah ini, Undana ingin membuktikan diri. Kampus bukan lagi menara gading. Sebaliknya, kampus harus jadi pusat solusi nyata.

Kini, semua mata tertuju: mampukah para profesor ini benar-benar mengubah wajah NTT? (Sumber: undana.ac.id/Ref/Vip-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *