Saat bahasa daerah mulai ditinggalkan, satu sosok ini justru bangkit melawan! Dari buku hingga film, perjuangannya bikin budaya lokal tetap hidup di tengah gempuran zaman.
🚨 Bahasa Kodi Terancam, Jovin Langsung Bergerak
BEBER FAKTA – Ancaman kepunahan bahasa daerah di NTT makin nyata. Namun, Paulina Maria Yovita Kosat atau akrab disapa Jovin memilih tidak diam.
Sebagai dosen di Universitas Nusa Cendana, ia langsung mengambil langkah konkret. Ia menulis buku dwibahasa dan memproduksi film dokumenter demi menjaga identitas budaya lokal.
Selain itu, dalam forum edukatif Undana Talk, Jovin menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi.
“Bahasa adalah ekspresi diri dan jendela untuk memahami cara pandang orang lain,” ungkapnya.
⚠️ Fakta Mengejutkan: 47% Anak Tak Bisa Bahasa Daerah!
Namun, hasil risetnya bikin miris. Sekitar 47 persen anak-anak di Kodi, Sumba Barat Daya, sudah tidak mampu menuturkan bahasa daerah dengan baik.
Fenomena ini terjadi karena dua hal utama. Pertama, penggunaan bahasa gaul yang makin dominan. Kedua, distraksi gadget yang terus meningkat.
Karena itu, Jovin mengingatkan dampak serius dari kondisi ini:
“Banyak bahasa daerah di NTT terancam punah. Jika bahasa hilang, masyarakat juga kehilangan identitasnya.”
📚 Dari Buku hingga Film, Semua Digarap Total!
Tak berhenti di keresahan, Jovin langsung beraksi. Ia bahkan masuk dalam 20 penulis terbaik Sayembara Cerita Anak tingkat NTT selama empat tahun berturut-turut (2023–2026).
Melalui capaian itu, ia aktif memproduksi buku dwibahasa khusus untuk anak-anak. Tujuannya jelas: meningkatkan minat baca sekaligus mengenalkan bahasa lokal sejak dini.
Salah satu karya besarnya adalah buku “Kembaliku ke Uma Bokolo” dan film dokumenter “Uma Bokolo”. Karya ini mengangkat rumah adat dan budaya Kodi secara visual dan naratif.
Selain itu, ia juga merilis kamus bergambar Bahasa Kodi–Indonesia agar lebih mudah dipahami generasi muda.
🌿 Alam Rusak, Bahasa Ikut Hilang?
Menariknya, riset Jovin juga menemukan fakta unik. Ia melihat hubungan erat antara alam dan bahasa.
Ketika spesies tumbuhan hilang, kosakata lokal ikut lenyap. Bahkan, perubahan bahan rumah adat dari kayu ke beton membuat istilah adat mulai terlupakan.
Dengan kata lain, kerusakan alam ikut menggerus bahasa daerah secara perlahan.
🤖 AI Tak Bisa Gantikan Rasa Manusia
Di tengah perkembangan teknologi, Jovin juga menyoroti peran Kecerdasan Buatan (AI).
Namun, ia menegaskan satu hal penting:
“AI tidak mampu menuangkan sisi humanis dalam tulisan. Karya memiliki jiwa, dan itu tidak bisa digantikan teknologi.”
🤝 Literasi NTT Butuh Kolaborasi
Di akhir, Jovin mengajak semua pihak bergerak bersama. Meski NTT punya banyak taman baca, tingkat literasi masih perlu ditingkatkan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran keluarga, guru, dan pemerintah dalam menjaga budaya.
Melalui karya yang kini tersebar di Kupang hingga Sumba Barat, Jovin ingin memastikan satu hal: bahasa daerah tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap hidup di hati generasi muda. (Sumber: Undana.ac.id/FnT/Vip-BF)











