Malam ronda berubah mencekam. Tiga pria di TTU berakhir babak belur usai dicurigai mencuri rumah adat. Video penyeretan mereka kini viral dan bikin publik geger.
BEBER FAKTA- Kepolisian Resor Timor Tengah Utara atau Polres TTU akhirnya membongkar kronologi kasus tiga pria yang diikat, diseret, lalu diduga dikeroyok massa di Desa Fafinesu B, Kecamatan Insana Fafinesu, Kabupaten TTU, Nusa Tenggara Timur, Minggu malam, 24 Mei 2026.
Baca juga: “Korupsi Insinerator Rp5,9 Miliar di DLHK NTT Naik Penyidikan!”
Kasus ini langsung menyedot perhatian publik setelah dua video berdurasi pendek beredar luas di media sosial. Dalam video itu, tiga pria terlihat diikat pada bagian leher, tangan, hingga kaki menggunakan tali nilon biru. Bahkan, mereka tampak diseret warga di jalan umum sambil diteriaki “pencuri”.
🚨 Ronda Malam Berujung Chaos
Peristiwa bermula sekitar pukul 19.30 Wita. Saat itu, warga Desa Fafinesu B sedang menggelar ronda malam. Warga meningkatkan penjagaan karena maraknya dugaan pencurian rumah adat yang beberapa waktu terakhir meresahkan masyarakat.
Di tengah situasi itu, warga mencurigai tiga pria yang melintas menggunakan dua sepeda motor. Ketiganya diketahui berinisial PS alias Petrus, RT alias Reginaldus, dan AT alias Anis.
Warga kemudian menghentikan mereka untuk dimintai keterangan. Ketiga pria itu mengaku datang untuk mengambil madu di wilayah Desa Fafinesu B. Mereka juga mengklaim sudah mendapat izin dari seorang warga di Desa Fafinesu C.
Baca berita viral: Sambil dengar lagu keren di Tiktok @beber_fakta
Namun, setelah warga melakukan pengecekan, izin tersebut ternyata tidak pernah diberikan. Karena itu, suasana langsung memanas. Emosi warga pun meledak setelah mengaitkan kedatangan ketiga pria itu dengan maraknya kasus pencurian rumah adat di kawasan tersebut.
😱 Massa Diduga Main Hakim Sendiri
Situasi yang semula hanya pemeriksaan berubah ricuh. Massa diduga melakukan pengeroyokan terhadap tiga pria tersebut hingga mengalami luka serius di bagian kepala dan wajah.
Tak lama kemudian, video penanganan brutal itu viral di media sosial. Dalam salah satu rekaman, terdengar warga berteriak:
“Pencuri, pencuri. Ini pencuri!”
Sementara di video lain, massa terdengar terus berteriak saat ketiga pria itu diseret di jalan umum.
“Tarik, tarik, tarik. Woi mati. Curi lai, curi lai!”
Video tersebut memicu reaksi keras publik. Banyak netizen mengecam aksi kekerasan itu. Namun, sebagian lainnya menyoroti keresahan warga akibat maraknya dugaan pencurian di wilayah tersebut.
👮 Polisi Bergerak Tengah Malam
Mendapat laporan kejadian, aparat kepolisian langsung menuju lokasi. Sekitar pukul 23.50 Wita, personel Polres TTU bersama anggota Polsek Insana Utara berhasil mengendalikan situasi.
Polisi kemudian mengevakuasi ketiga korban ke RSUD Kefamenanu untuk mendapat penanganan medis intensif.
Kapolres TTU, Eliana Papote, menegaskan pihaknya kini menangani seluruh rangkaian kasus tersebut secara serius dan transparan.
“Kejadian ini sudah ditindaklanjuti oleh Polres TTU. Korban telah mendapatkan penanganan medis di RSUD Kefamenanu. Kami berkomitmen menangani persoalan ini secara serius, profesional, dan transparan,” tegas AKBP Eliana Papote.
⚖️ Polisi Selidiki Dua Dugaan Kasus Sekaligus
Selain mendalami dugaan pencurian yang memicu kecurigaan warga, polisi juga menyelidiki dugaan penganiayaan terhadap ketiga korban.
Menurut Eliana Papote, keresahan masyarakat memang bisa dipahami. Meski begitu, aksi main hakim sendiri tetap tidak dibenarkan.
“Kami memahami adanya keresahan masyarakat terkait dugaan tindak pidana pencurian. Namun tindakan kekerasan ataupun pengeroyokan tidak dibenarkan karena dapat memunculkan masalah hukum lainnya,” ujarnya.
Karena itu, polisi meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu liar, termasuk informasi yang belum tentu benar di media sosial.
📱 Polisi Minta Video Viral Tak Disebar Lagi
Selain fokus pada penyelidikan, Polres TTU juga meminta masyarakat menghentikan penyebaran video kekerasan tersebut.
Polisi khawatir video itu memicu keresahan baru dan memperkeruh situasi sosial di tengah masyarakat.
Di sisi lain, pihak kepolisian juga mengajak tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta keluarga korban untuk bersama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
“Kepolisian menjamin setiap warga negara memiliki hak yang sama di hadapan hukum,” tegas Eliana.
Hingga kini, polisi masih terus mengusut kronologi lengkap kasus tersebut, termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam aksi pengeroyokan. (*/Vip)











