KOTA KUPANG, beberfakta.web.id — Umat Katolik diajak memaknai masa Prapaskah sebagai waktu rahmat untuk memperdalam doa, memperbarui pertobatan, dan menghidupi solidaritas sosial. Seruan itu mengemuka dalam perayaan Rabu Abu di Kapela St Agustinus Bello, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menandai dimulainya perjalanan empat puluh hari menuju Paskah.
Perayaan dipimpin Romo Dus Bone Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua Kupang. Dalam homilinya, ia menegaskan bahwa Prapaskah bukan sekadar rangkaian ritus liturgis, melainkan momentum pembaruan iman yang harus tampak dalam sikap hidup sehari-hari.

“Selagi masih ada waktu, marilah kita bertobat dan kembali kepada Tuhan. Masa ini adalah kesempatan memperbaiki diri melalui doa yang lebih tekun, puasa yang mendidik pengendalian diri, dan tindakan nyata berbagi kasih,” ujarnya di hadapan umat yang memadati kapela.
Menurutnya, spiritualitas Prapaskah berpijak pada tiga pilar utama: doa, puasa, dan sedekah. Ketiganya bukan praktik terpisah, melainkan satu kesatuan yang menuntun umat keluar dari sikap egoisme menuju kepekaan sosial. Doa memperdalam relasi dengan Tuhan, puasa menata ulang keinginan diri, dan sedekah menjadi wujud konkret iman dalam tindakan.
Bukan Mencari Pengakuan Publik
Ia menyoroti realitas sosial yang masih diwarnai kesenjangan. Dalam pengalaman pastoralnya, ia menjumpai keluarga yang berhari-hari tidak memiliki persediaan beras. “Pengalaman itu mengingatkan kita bahwa iman tidak boleh berhenti pada kata-kata. Prapaskah memanggil kita untuk hadir bagi mereka yang menderita,” katanya.
Romo Dus Bone juga mengingatkan agar tindakan amal dilakukan dengan kerendahan hati, tanpa mencari pengakuan publik. Nilai pengorbanan, katanya, terletak pada ketulusan hati dan kesediaan memberi tanpa pamrih. “Allah melihat yang tersembunyi dan menilai keikhlasan, bukan kemeriahan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan identitas Gereja sebagai persekutuan umat beriman. Tanggung jawab kepedulian sosial, menurutnya, tidak hanya berada pada imam atau pengurus gereja, tetapi pada seluruh umat.
“Gereja adalah kita semua. Bila kita tidak bergerak, siapa lagi?” katanya.
Ajakan reflektif juga disampaikan melalui simbol abu yang diterima umat. Tanda itu, katanya, mengingatkan manusia pada keterbatasan hidup sekaligus panggilan untuk hidup setia dalam kasih. Kesadaran akan kefanaan menjadi dasar pertobatan yang autentik dan berkelanjutan.
Apresiasi Keterlibatan Umat
Sementara itu, Ketua Stasi St Agustinus Bello Donatus Y. Manehat menyampaikan apresiasi atas keterlibatan umat dalam mempersiapkan perayaan. Ia berharap masa Prapaskah menjadi kesempatan memperkuat disiplin rohani sekaligus memperluas kepedulian sosial di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Momentum awal ini hendaknya menumbuhkan semangat tapa, pengendalian diri, dan keberanian berbagi, sebagaimana ditekankan dalam homili Romo,” ujarnya.
Perayaan berlangsung khidmat dengan partisipasi umat yang tinggi. Bagi komunitas Katolik setempat, masa Prapaskah diharapkan menjadi perjalanan rohani yang menuntun pada pertobatan sejati, solidaritas sosial yang nyata, serta pembaruan hidup beriman dalam keseharian. (Goe-BF/Vip)











