
MEMASUKI kawasan Jalan Mesakh Amalo di Kelurahan Oesapa Barat, tampak jelas kontras antara harapan dan kenyataan. Jalan yang baru selesai diperbaiki pada Oktober 2024 itu kini kembali dipenuhi lubang-lubang besar, genangan air berwarna keruh, dan permukaan aspal yang terkelupas. Apalagi pada musim penghujan yang segera tiba, air tumpahan dari mobil-mobil tangki memperparah kerusakan, membuat permukaan jalan licin dan berbahaya. “Kerusakannya muncul cepat sekali, terutama setelah truk-truk pengangkut air mulai hilir mudik setiap hari,” kata Lurah Oesapa Barat, Christian E. Chamdra, ketika diwawancara.

Lurah Eko mengingat kembali proses perbaikan jalan di tahun 2024, yang berlangsung selama empat bulan. Warga terpaksa memutar jauh lewat gang-gang sempit demi keluar masuk permukiman.
“Waktu itu warga dan para pengusaha betul-betul kesulitan. Satu-satunya akses ditutup untuk perbaikan. Banyak toko tutup, bahkan ada yang terpaksa merumahkan karyawan,” kenangnya. Ironisnya, setelah pengorbanan besar itu, masa pakai jalan justru tidak bertahan lama.
Dari pengamatan beberfakta. web.id, titik kerusakan paling parah berada tepat di depan lokasi usaha pengisian air CV Ekasari Dwiputri. Kendaraan tangki bermuatan berat naik-turun setiap hari, meninggalkan jejak lekukan dan pecahan di badan jalan. Tumpahan air dari mobil-mobil tangki mempercepat pelapukan aspal. “Di lokasi usaha itu lubangnya cepat sekali muncul. Air dari tangki itu menggenang terus sampai berhari-hari,” ujar Denny salah seorang warga Oesapa BArat. Ia menambahkan bahwa kondisi ini membuat pengendara motor harus mengambil jalur berlawanan, demi menghindari lubang-lubang dalam yang bisa membahayakan nyawa.
Penindakan awal sebenarnya pernah dilakukan. Pada 3 Desember 2024, Kelurahan Oesapa Barat bersama Satpol PP Kota Kupang menutup usaha tersebut karena hanya mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), tanpa izin operasional, izin komersial, persetujuan pengeboran, maupun studi kelayakan.

Menurutnya, kelurahan juga pernah memfasilitasi pertemuan antara warga dan pemilik usaha pengisian air. Kesepakatan sempat dicapai, tetapi tidak pernah dijalankan oleh pihak pengusaha.
Baca Box: Merry Nggeon, Kepala TK Betlehem “Setiap Minggu Ada Insiden Kecelakaan” di akhir artikel.
“Pengusahanya kurang kooperatif. Kesepakatan dengan warga pun tidak dipenuhi. Bahkan dia bilang, ‘Banyak tempat pengisian air di Kupang, kenapa cuma saya yang disalahkan?’” tutur Lurah Eko, mengulang kembali pernyataan pengusaha yang membuat warga semakin kecewa. ***












