Pemerintah mengubah konsep pelatihan calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dengan menghapus latihan dasar militer. Program kini berfokus pada pelatihan bela negara dan manajerial setelah evaluasi menyeluruh.
BEBER FAKTA — Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI M Qodari menyatakan pemerintah menyempurnakan program pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi manajer Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
🇮🇩 Pelatihan Berbasis Bela Negara dan Manajerial
Qodari mengatakan pemerintah menerima berbagai masukan dari masyarakat. Karena itu, konsep pelatihan yang sebelumnya berbasis latihan dasar kemiliteran kini diubah menjadi pelatihan bela negara dan penguatan kemampuan manajerial.
“Pemerintah tidak menutup mata. Pemerintah menerima setiap saran dari masyarakat sebagai wujud kepedulian bersama,” kata Qodari dalam keterangan Bakom, Senin (6/7/2026) malam.
Baca juga:⚠️ Usai 5 Peserta Meninggal, Kemhan Pangkas Pelatihan SPPI Jadi 2 Pekan
Meski konsep berubah, pemerintah tetap mempertahankan pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan rasa cinta Tanah Air. Namun, metode pelatihan disesuaikan agar lebih efektif serta lebih ramah terhadap kondisi fisik dan mental peserta.
📌 Pemerintah Targetkan SDM Profesional
Qodari menilai penyempurnaan program akan menghasilkan sumber daya manusia yang profesional, berintegritas, dan siap mendukung program prioritas pemerintah.
“Kami ingin mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya profesional dan berintegritas, tetapi juga siap menyongsong program-program prioritas pemerintah dengan penuh rasa percaya diri,” ujarnya.
Ia juga menegaskan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan peserta menjadi prioritas selama pelatihan berlangsung.
⚠️ Perubahan Dilakukan Setelah Lima Peserta Meninggal
Perubahan konsep pelatihan dilakukan setelah lima calon manajer Kopdes Merah Putih meninggal saat mengikuti program sebelumnya.
Wakil Menteri Pertahanan Marsekal TNI (HOR) Donny Ermawan Taufanto menjelaskan penyebab kematian berbeda pada setiap peserta. Faktor kelelahan, perubahan pola hidup dari lingkungan sipil ke kehidupan barak, cuaca, dan penyakit bawaan menjadi penyebab utama.
Menurut Donny, tiga peserta meninggal akibat penyakit jantung. Sementara dua lainnya meninggal karena gangguan paru-paru. Pemerintah menyatakan hasil evaluasi tersebut menjadi dasar penyempurnaan sistem pelatihan agar lebih aman bagi seluruh peserta.(*/Red.01-BF)











