Kristus Memberkati, Landmark Baru NTT dari Semau

Olahgrafis cover: Vico Patty-BF
Bupati Kupang Yosef Lede membawa sebuah gagasan besar dari Pulau Semau: membangun Patung Yesus Kristus setinggi 70 meter sebagai landmark wisata religi yang dapat mengangkat nama Kabupaten Kupang dan NTT.

BEBER FAKTA— Gagasan itu tidak lahir dalam satu malam. Jauh sebelum rencana pembangunan memasuki tahapan teknis, Yosef Lede sudah membayangkan Pulau Semau sebagai ruang baru bagi pariwisata Kabupaten Kupang.

Kini, gagasan tersebut bergerak dari wacana menuju pekerjaan perencanaan. Patung Yesus Kristus Memberkati direncanakan berdiri di kawasan Tanjung Batu Kong, Desa Hansisi, Pulau Semau.

🌊 Dari Sebuah Gagasan di Semau

Cerita itu bermula ketika Yosef masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Kupang.

Kepala Desa Letbaun Carlens Herison Bising mengungkapkan, ide wisata rohani tersebut pernah disampaikan Yosef ketika mengunjungi Letbaun pada 2023.

“Kami datang bukan untuk menagih janji atau meminta, tetapi kami datang untuk menyampaikan dukungan kami terhadap ide yang sudah dimunculkan oleh Bapak Bupati Kupang,” kata Carlens.

Yosef kemudian membawa gagasan tersebut ke dalam visi dan program pemerintahannya.

Dalam program prioritasnya, pembangunan dan pengembangan destinasi wisata rohani Patung Kristus Memberkati tercantum sebagai salah satu agenda pembangunan Kabupaten Kupang.

“Saya pasti bangun,” kata Yosef ketika menjelaskan komitmennya terhadap proyek tersebut.

✝️ Patung yang Dirancang Menjadi Penanda

Pemilihan Tanjung Batu Kong bukan tanpa alasan.

Kawasan itu berada di Pulau Semau, berhadapan dengan kawasan Teluk Kupang dan berada dekat Pelabuhan Hansisi serta jalur menuju Kota Kupang.

Dokumen sayembara desain bahkan menyebut posisi tersebut memiliki panorama laut dan hutan.

FINAL DESIGN – Rapat Final Design, Belanja Jasa Konsultasi Perencanaan Pembuatan Patung Kristus di Semau, Kabupaten Kupang. (Foto: Indonusra.com)

Lokasinya juga dinilai memungkinkan patung terlihat dari darat, laut, bahkan udara.

Karena itu, patung tersebut sejak awal tidak dirancang sekadar sebagai bangunan religi.

Konsepnya diarahkan menjadi landmark kawasan dan bagian dari taman wisata rohani.

Bupati Kupang menyebut pembangunan itu sebagai bagian dari strategi mengembangkan pariwisata Kabupaten Kupang.

Pada Desember 2025, Pemkab Kupang menyatakan menyiapkan anggaran Rp30 miliar untuk pembangunan patung tersebut.

Namun, perkembangan perencanaan kemudian menunjukkan nilai proyek yang lebih besar.

Pada September 2026 ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kupang Marthen K. Timate menyebut anggaran pembangunan berkisar Rp153 miliar.

Proyek itu juga direncanakan menggunakan skema multiyears.

🏗️ Dari Sayembara Menuju Desain Final

Pemerintah Kabupaten Kupang lebih dahulu membuka sayembara desain.

Sebanyak lima pemenang menerima total hadiah Rp30 juta. Emanuel Wicaksono keluar sebagai pemenang pertama.

JUARA 1 – Bupati Kupang, Josef Lede menyerahkan hadiah kepada juara pertama Lomba Desain Patung Kristus Memberkati, Emanuel Wicaksono, Minggu (17/8/2025). (Foto: Swaratimor.co.id)

Proses tersebut kemudian berlanjut ke tahap perencanaan teknis.

Pada Juni 2026, LPSE Kabupaten Kupang diberitakan telah memproses jasa konsultan perencana pembangunan Patung Kristus Memberkati setinggi 70 meter.

PT Delta Buana Konsultan ditetapkan sebagai pemenang dengan nilai penawaran sekitar Rp1,63 miliar.

Dokumen pekerjaan tersebut menempatkan patung sebagai pusat orientasi wisata ikonik Kabupaten Kupang.

Pada September 2026, rapat final design kembali digelar.

Marthen menyebut konstruksi akan memilih material terbaik dari sejumlah alternatif.

“Yang terbaik dari empat jenis ini adalah perunggu. Sehingga kita menggunakan perunggu,” katanya.

Ia juga menyebut aspek beban angin dan potensi bencana telah dibahas dalam proses perencanaan.

🌴 Semau Tidak Berdiri Sendiri

Patung itu tidak berdiri sebagai destinasi tunggal.

Pemkab Kupang menempatkan pengembangan wisata religi bersama pengembangan Pantai Liman dan Bendungan Uikiban di Letbaun.

Yosef juga pernah menyampaikan rencana menempatkan kapal pinisi untuk mendukung pariwisata Pulau Semau.

“Supaya Pulau Semau bisa seperti Labuan Bajo yang sudah lebih dahulu terkenal,” kata Yosef.

Pemerintah Provinsi NTT sendiri menyebut Pulau Semau sebagai kawasan yang diarahkan menjadi ikon baru pariwisata.

Konsep tersebut menghubungkan wisata religi, pantai, alam, dan aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu kawasan.

💰 Ketika Landmark Bertemu Ekonomi

Pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting: berapa nilai ekonomi yang dapat lahir dari patung tersebut?

Data BPS menunjukkan Kabupaten Kupang mencatat 8.920 wisatawan pada 2024 untuk objek wisata yang memungut retribusi.

Angka itu masih jauh dari potensi sebuah destinasi ikonik berskala regional.

Karena itu, Patung Kristus Memberkati dapat menjadi pintu masuk untuk menaikkan arus kunjungan ke Semau jika pembangunan diikuti akses, promosi, fasilitas, dan pengelolaan profesional.

Sebagai ilustrasi, jika kelak kawasan tersebut mampu menarik 100.000 pengunjung per tahun, dengan tiket hipotetis Rp50.000, nilai penerimaan kotor tiket mencapai Rp5 miliar.

Jika kunjungan mencapai 200.000 orang, penerimaan kotor dengan asumsi tiket sama mencapai Rp10 miliar.

Dengan tiket hipotetis Rp100.000 dan 200.000 pengunjung, nilainya bisa mencapai Rp20 miliar per tahun.

Angka tersebut bukan proyeksi resmi Pemkab Kupang, melainkan simulasi untuk melihat skala ekonominya.

Penerimaan tiket juga tidak otomatis menjadi PAD seluruhnya.

Besarnya PAD akan bergantung pada status pengelolaan, tarif retribusi, regulasi daerah, pola kerja sama, serta pendapatan lain seperti parkir dan aktivitas ekonomi kawasan.

🏨 Efek Ekonominya Bisa Lebih Panjang

Nilai sebuah landmark tidak hanya dihitung dari tiket masuk.

Wisatawan yang datang membutuhkan transportasi, penginapan, makanan, pemandu, oleh-oleh, jasa fotografi, hingga aktivitas wisata lainnya.

Rantai ekonomi itu dapat menyentuh masyarakat Pulau Semau.

Jika kunjungan meningkat, pelaku UMKM dan usaha jasa memiliki ruang lebih besar untuk tumbuh.

Pemerintah juga berpeluang memperoleh PAD dari berbagai sumber yang sah sesuai kewenangan dan regulasi.

Karena itu, investasi patung seharusnya dibaca sebagai investasi kawasan, bukan hanya investasi sebuah monumen.

🌏 Mimpi Sebuah Ikon untuk NTT

NTT memiliki banyak destinasi yang sudah dikenal luas.

Labuan Bajo, Komodo, Kelimutu, Sumba, Alor, dan berbagai destinasi bahari telah memiliki daya tarik masing-masing.

Namun, Patung Kristus Memberkati di Semau menawarkan sesuatu yang berbeda.

Ia dapat menjadi sebuah penanda visual yang langsung menghubungkan wisatawan dengan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, dan Nusa Tenggara Timur.

Bila desain, kawasan, akses, promosi, dan pengelolaannya berhasil, patung itu berpotensi menjadi salah satu wajah baru NTT.

Bukan hanya tempat berfoto.

Bukan pula sekadar monumen.

Tetapi sebuah titik awal perjalanan wisata yang menghidupkan ekonomi di sekitarnya.

🚢 Dari Teluk Kupang, Sebuah Ikon Sedang Disiapkan

Pada September 2026, proses pembangunan memasuki tahapan final design.

Pemkab Kupang juga menyebut pembangunan akan menggunakan skema multiyears.

Di tengah proses tersebut, satu gagasan lama Yosef Lede perlahan berubah menjadi proyek nyata.

Dari sebuah ide yang pernah disampaikan di Pulau Semau, kini muncul rancangan sebuah landmark setinggi 70 meter.

Jika seluruh ekosistem pendukungnya bergerak bersama, pandangan wisatawan terhadap Semau bisa ikut berubah.

Dari pulau yang berada di seberang Kupang, Semau dapat tumbuh menjadi salah satu pintu baru pariwisata NTT.

Dan dari sana, sebuah patung dapat menjadi penanda bahwa sebuah daerah sedang mencoba membangun masa depannya melalui pariwisata. (Vico Patty-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *