Jam Apel Pagi Undana Resmi Digeser: Demi Senyum Anak di Hari Pertama Sekolah

Foto: Humas Undana
Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) memilih melonggarkan jam masuk kerja bagi ribuan pegawainya. Kebijakan ini hadir agar para ayah memiliki waktu mengantar sang buah hati ke sekolah.

BEBER FAKTA—Langkah berani ini membuktikan bahwa birokrasi kampus mampu berempati pada hangatnya hubungan keluarga.

Perubahan waktu apel pagi ini berlaku resmi di lingkungan Rektorat Undana, Kupang, sejak Senin (13/7/2026). Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., memimpin langsung apel pagi tersebut. Pihaknya menggeser jam apel dari pukul 07.30 WITA menjadi pukul 08.30 WITA.

Langkah strategis ini menjadi bentuk dukungan nyata institusi terhadap program prioritas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemprov NTT merancang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Manajemen universitas kini merumuskan mekanisme teknis agar penyesuaian jam kerja berjalan efektif tanpa mengganggu organisasi.

👨‍👧‍👦 Ruang untuk Ayah dan Senyum Sang Buah Hati

Masa transisi akademik pada Juli hingga Agustus membawa suasana baru di lingkungan kampus Undana. Beban mengajar dosen melandai, sementara aktivitas perkuliahan mahasiswa sedang meliburkan ritme rutinitasnya. Momentum ini dimanfaatkan Rektorat untuk merangkul keharmonisan keluarga para pegawai kampus.

Seluruh jajaran pimpinan, direktur, kepala biro, hingga staf *outsourcing* menghadiri apel pagi tersebut. Kebijakan ini memberi ruang bagi para ASN dan tenaga kependidikan untuk hadir dalam momen penting anak. Mereka kini bisa memegang tangan sang anak di hari pertama sekolah tanpa ketakutan terlambat apel.

Kebijakan humanis ini sekaligus menyelaraskan langkah universitas dengan visi sosial Gubernur NTT. Manajemen kampus membuktikan bahwa efisiensi kerja tidak harus mengorbankan peran penting orang tua di rumah.

📊 Momentum Bersih-Bersih Birokrasi Kampus

Di balik kebijakan yang hangat ini, Rektor Undana tetap menegaskan kedisiplinan dan evaluasi tata kelola. Masa transisi akademik dimanfaatkan sebagai momentum audit internal menyeluruh dari rektorat hingga program studi.

Rektorat menginstruksikan evaluasi ketat pada pemanfaatan fasilitas perpustakaan dan program bahasa Inggris dosen serta mahasiswa. Keuangan kampus juga disorot, terutama efektivitas anggaran langganan jurnal internasional sebesar Rp1,3 miliar per tahun. Investasi besar negara tersebut harus berdampak langsung pada mutu penelitian serta publikasi ilmiah civitas akademika.

“Evaluasi ini sangat penting dan harus dilakukan sampai ke tingkat pimpinan bawah sehingga kita mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan, tetapi menjadi dasar bagi kita dalam mengambil kebijakan yang lebih baik,” tegas Prof. Jefri Bale pada Senin (13/7/2026).

💻 Menjawab Keluhan Mahasiswa dan Membuka Diri

Sorotan Rektor Undana juga tertuju pada pengembangan SDM dan peningkatan mutu pelayanan publik. Kampus mengumpulkan data studi lanjut dosen jenjang doktor untuk mengukur keberhasilan pengembangan kapasitas pengajar.

Hak-hak mahasiswa menjadi perhatian utama melalui penyusunan instrumen survei kepuasan layanan secara objektif. Pihak rektorat juga mendorong peningkatan performa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) agar mampu berprestasi nasional. Pengelolaan teknologi informasi tak luput dari perhatian, terutama kecepatan akses website resmi Undana sebagai wajah kampus.

“Saya tidak mau ketika orang membuka website Undana harus menunggu lama. Website harus dikelola dengan baik karena menjadi pintu pertama masyarakat mengenal Undana,” ujar Prof. Jefri.

🚀 Mengikis Budaya ‘Asal Bapak Senang’

Instruksi tegas mengenai pergeseran jam apel dan kewajiban evaluasi kinerja membawa perubahan kultur yang fundamental. Tata kelola perguruan tinggi yang kerap terjebak rutinitas formalitas kini mulai dikikis secara bertahap. Budaya kerja “asal bapak senang” diubah menjadi sistem kerja berbasis data dan dampak nyata.

Dahulu, anggaran besar rawan terbuang sia-sia tanpa audit kemanfaatan yang jelas dan terukur. Layanan digital yang lambat kerap merugikan hak mahasiswa dan menurunkan citra universitas di mata publik.

Kini, pengabaian suara mahasiswa dan lambannya respons birokrasi resmi dihentikan melalui instrumen evaluasi objektif. Masa transisi akademik berubah menjadi fase produktif untuk membenahi seluruh kerentanan administrasi kampus. Setiap rupiah dana negara dipastikan bertransformasi menjadi peningkatan mutu pendidikan global yang transparan.

🌟 Wajah Baru Kampus yang Humanis dan Akuntabel

Langkah terintegrasi ini membuktikan komitmen Undana dalam membangun fondasi birokrasi yang sehat dan adaptif. Kampus mampu menyelaraskan program sosial daerah sekaligus menjaga akuntabilitas anggaran negara secara disiplin.

Pergeseran jam apel pagi bukan sekadar perubahan jadwal di atas kertas formal. Kebijakan ini adalah simbol kepedulian kampus terhadap masa depan anak-anak di Nusa Tenggara Timur.

Undana kini berdiri sebagai institusi yang tak hanya mengejar mutu akademis, tetapi juga merawat nilai kemanusiaan. Sebuah awal baru bagi pelayanan pendidikan tinggi yang lebih berkualitas dan penuh empati.(Sumber: Humas Undana-Alk/*Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *