Gusi Berdarah Jangan Dianggap Sepele, Bisa Berkaitan dengan Jantung hingga Diabetes

Foto: Ilustrasi
Darah yang muncul saat menyikat gigi sering dianggap sebagai masalah kecil. Padahal, gusi berdarah bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi kronis.

BEBER FAKTA — Kebiasaan menyikat gigi seharusnya membuat mulut terasa bersih dan segar. Namun, jika darah justru muncul setiap kali menyikat gigi atau menggunakan benang gigi, kondisi itu perlu mendapat perhatian.

🦷 Masalah di Mulut Bisa Berkaitan dengan Tubuh

Gusi berdarah sering dianggap hanya berkaitan dengan kesehatan gigi. Namun, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menemukan hubungan penyakit gusi dengan sejumlah kondisi kronis.

Kondisi tersebut antara lain penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Meski begitu, para ilmuwan masih mempelajari secara pasti bagaimana kondisi tersebut saling memengaruhi.

Pendiri dan Kepala Dokter Gigi Dr Jaydev Dental, Dr Jaydev, menjelaskan mulut tidak berdiri sendiri dari organ tubuh lainnya.

“Gusi Anda bukanlah bagian terpisah dari bagian tubuh Anda yang lain. Saat gusi terinfeksi secara kronis, infeksi tersebut memiliki jalan langsung ke aliran darah Anda.”

Mulut menjadi salah satu pintu masuk ke dalam tubuh. Pada penyakit gusi stadium lanjut, jaringan di sekitar gigi mengalami peradangan dan membentuk luka-luka kecil seperti ulkus.

🩸 Saat Bakteri Mendapat Jalan ke Aliran Darah

Menurut Dr Jaydev, kondisi tersebut memungkinkan bakteri dan racunnya masuk ke aliran darah. Proses itu terutama dapat terjadi saat seseorang makan atau menyikat gigi.

Namun, ia menegaskan penyakit gusi tidak otomatis menyebabkan serangan jantung. Peradangan kronis akibat penyakit gusi diduga memiliki peran dalam proses tersebut.

“Mulut bukanlah kompartemen tertutup, ia terbuka langsung ke aliran darah. Setiap kali pasien tersebut mengunyah atau menyikat gigi, bakteri dan racun bakteri mendapat jalan bebas masuk ke dalam sirkulasi,” katanya.

Setelah masuk ke tubuh, sistem kekebalan merespons dengan menghasilkan protein inflamasi. Di antaranya protein C-reaktif atau CRP dan interleukin-6 atau IL-6.

Peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat merusak pembuluh darah. Kondisi itu juga dapat berkontribusi terhadap pembentukan atau ketidakstabilan plak arteri.

Plak tersebut merupakan endapan lemak yang berkaitan dengan serangan jantung dan stroke iskemik. Peneliti bahkan menemukan bakteri oral dalam plak arteri.

Meski demikian, temuan tersebut belum berarti bakteri oral secara langsung menyebabkan penyakit kardiovaskular.

🔄 Diabetes dan Gusi Bisa Membentuk Lingkaran Masalah

Hubungan penyakit gusi dan diabetes juga menjadi perhatian. Peradangan akibat infeksi gusi dapat membuat tubuh lebih resisten terhadap insulin.

Akibatnya, gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan. Sebaliknya, kadar gula darah yang tinggi dapat melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi.

Kondisi tersebut juga memperlambat proses penyembuhan. Akhirnya, penyakit gusi dapat berkembang semakin parah.

Dr Jaydev menggambarkan hubungan tersebut sebagai sebuah siklus yang saling memperburuk.

“Ini menjadi lingkaran setan. Peradangan memperburuk resistensi insulin dan membuat gula darah lebih sulit dikendalikan, gula darah tinggi pada gilirannya mengganggu kekebalan dan penyembuhan, sehingga penyakit gusi menjadi lebih agresif. Masing-masing kondisi saling memperburuk,” kata Dr Jaydev.

⚠️ Darah Saat Sikat Gigi Sering Diabaikan

Berbeda dengan kerusakan gigi, penyakit gusi sering tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal.

Karena itu, seseorang bisa tidak menyadarinya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Padahal, ada tanda sederhana yang sering muncul ketika masalah gusi mulai terjadi. Salah satunya darah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi.

“Tanda yang paling sering diabaikan adalah pendarahan saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi,” kata Dr Jaydev.

Ia mengingatkan bahwa gusi sehat seharusnya tidak mudah berdarah.

“Gusi yang sehat tidak berdarah. Jika tangan Anda terdapat darah tiap kali membersihkannya, Anda akan segera menemui dokter, tetapi gusi berdarah sering kali diabaikan selama bertahun-tahun,” tambahnya.

Selain gusi berdarah, beberapa tanda lain juga perlu diperhatikan, seperti:

* Bau mulut yang terus-menerus.
* Gusi merah.
* Gusi bengkak.
* Rasa tidak enak di mulut.
* Gusi menjauh dari gigi.
* Makanan sering tersangkut di antara gigi yang sama.

🚨 Kelompok Ini Lebih Berisiko

Tidak semua orang memiliki risiko masalah gusi yang sama. Orang dengan diabetes yang tidak terkontrol memiliki risiko lebih besar.

Risiko juga lebih tinggi pada perokok dan pengidap penyakit kardiovaskular. Wanita hamil serta orang yang mengonsumsi obat dengan efek mulut kering juga termasuk kelompok berisiko.

Karena itu, tanda-tanda masalah gusi sebaiknya tidak terus dibiarkan. Apalagi ketika kondisi tersebut muncul berulang kali.

🪥 Menjaga Gusi, Menjaga Kesehatan Tubuh

Dr Jaydev menekankan bahwa penanganan masalah gusi tidak menggantikan perawatan penyakit kardiovaskular.

Namun, mengurangi peradangan di dalam mulut dapat membantu mengurangi peradangan sistemik. Kondisi tersebut juga dapat membantu meningkatkan fungsi pembuluh darah.

Langkah menjaga kesehatan gusi sebenarnya cukup sederhana. Kebiasaan tersebut meliputi menyikat gigi secara rutin dan menggunakan benang gigi.

Pemeriksaan gigi juga penting dilakukan secara berkala. Selain itu, masyarakat dianjurkan menghindari tembakau.

Pembersihan profesional atau scaling juga disebut aman dan penting. Prosedur tersebut membantu menghilangkan penumpukan karang gigi.

Pada akhirnya, perhatian terhadap gusi bukan sekadar soal senyum dan penampilan. Darah yang muncul saat menyikat gigi bisa menjadi sinyal bahwa kesehatan mulut perlu diperiksa lebih serius.(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *