Pagi dimulai dengan telur rebus, tetapi siang hari tetap makan nasi. Bagi sebagian orang yang sedang diet, pola ini mungkin terasa seperti kesalahan.
BEBER FAKTA—Keraguan meninggalkan nasi ternyata tidak perlu membuat program penurunan berat badan terasa berat. Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan nasi putih tetap boleh masuk dalam menu diet.
🥚 Pagi Kenyang Lebih Lama
Bagi orang yang sedang berjuang menurunkan berat badan, rasa lapar sering menjadi tantangan. Karena itu, pilihan makanan saat sarapan menjadi penting.
Dr Yaze menyarankan makanan tinggi protein dan serat pada pagi hari. Telur rebus menjadi salah satu pilihan yang bisa dikonsumsi.
“Kalau menurunkan berat badan, makan telur pagi hari boleh, enggak masalah. Telur rebus juga bagus,” terang dr Yaze.
Menurutnya, kandungan protein pada telur membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Karena itu, sarapan dengan protein dan serat dapat membantu menahan lapar hingga waktu makan siang.
“Itu kan memang tinggi protein, jadi biasanya kalau pagi-pagi saya sarankan yang dikonsumsi tinggi protein dan tinggi serat. Supaya kenyangnya lebih lama sampai siang,” lanjutnya.

🍚 Siang Datang, Nasi Bukan Musuh
Ketika waktu makan siang tiba, persoalan lain muncul. Banyak orang yang diet mulai ragu mengambil nasi putih karena khawatir berat badan kembali naik.
Namun, dr Yaze justru menegaskan nasi bukan musuh dalam program penurunan berat badan. Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai salah satu sumber energi utama.
“Siangnya makan nasi enggak ada masalah sih. Sebenarnya si nasi ini enggak salah apa-apa, jadi enggak perlu dimusuhin,” tegas dr Yaze.
Artinya, seseorang tetap dapat makan nasi saat siang. Bahkan, nasi juga masih boleh dikonsumsi kembali saat malam.
“Mau jam 12 makan siang pakai nasi, terus malam makan nasi lagi, oke enggak ada masalah. Mungkin memang porsinya aja yang disesuaikan sama kebutuhan kalori dan karbohidrat seseorang,” sambung dia.
🥔 Tak Harus Terpaku pada Satu Jenis Karbohidrat
Selain nasi putih, ada pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. Kentang, ubi rebus, hingga oatmeal dapat menjadi alternatif.
Namun, orang yang menjalani diet juga tidak wajib memaksakan diri mengganti nasi putih. Nasi merah, shirataki, atau beras porang bukan sebuah keharusan.
Menurut dr Yaze, pola makan justru perlu menyesuaikan kebiasaan seseorang. Perubahan makanan yang terlalu drastis dapat membuat pola hidup sehat sulit dipertahankan.
🔄 Diet Bukan Sekadar 2-3 Bulan
Bagi dr Yaze, keberhasilan diet tidak hanya diukur dari perubahan berat badan dalam waktu singkat. Yang lebih penting ialah kemampuan seseorang mempertahankan pola hidup tersebut dalam jangka panjang.
Karena itu, kebiasaan makan yang realistis menjadi bagian penting dalam menjalankan diet. Seseorang tidak perlu memusuhi makanan yang sudah biasa dikonsumsi.
“Kalau memang terbiasa makan nasi putih, ya silakan makan aja. Karena kan kita mau lifestyle ini berjalan seumur hidup, bukan cuma 2-3 bulan,” pungkasnya.
Pesan itu membuat perjalanan diet terlihat lebih realistis. Menurunkan berat badan bukan berarti harus menghapus nasi dari meja makan.
Yang perlu diperhatikan adalah pilihan makanan, kebutuhan kalori, kebutuhan karbohidrat, serta konsistensi menjalani pola hidup sehat.(*/Red.01-BF)











