KOTA KUPANG, beberfakta.web.id – Universitas Nusa Cendana meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali-Nusra.
Peluncuran berlangsung Jumat, 13 Februari 2026, di Gedung Graha Cendana Kupang. Selain itu, Sekjen Kemendiktisaintek Prof. Togar Mangihut Simatupang hadir bersama Gubernur NTT dan para pimpinan kampus mitra.
Program ini mendukung akselerasi pemenuhan dan pemerataan tenaga medis nasional. Selain itu, langkah ini memperkuat visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Bali-Nusra Jadi Wilayah Perdana
Sekjen Kemendiktisaintek, Prof. Togar Mangihut Simatupang, menegaskan peluncuran ini menjadi capaian konkret pemerintah.
“Indonesia masih kekurangan dokter spesialis. Distribusinya juga belum merata,” tegasnya.
Ia menjelaskan kondisi tersebut berdampak pada akses dan mutu layanan kesehatan. Karena itu, pemerintah mempercepat pembukaan program spesialis dan subspesialis.
Sebanyak dua prodi spesialis dibuka di FK Undana. Sementara itu, FK Unram membuka tiga prodi spesialis, dan FK Unud membuka satu subspesialis.
Peluncuran dilakukan serentak secara nasional. Namun demikian, Bali-Nusra menjadi wilayah pertama implementasi program.
160 Prodi Baru Secara Nasional
Sebelumnya, Presiden Prabowo menginstruksikan penambahan program subspesialis dalam Sidang Tahunan MPR RI 2025. Selain itu, Presiden meminta peningkatan kuota mahasiswa penerima beasiswa kedokteran.
Kemendiktisaintek merespons melalui program akselerasi sejak Juli 2025. Program itu menggandeng Kementerian Kesehatan dan Kemendagri.
Hingga kini, pemerintah membuka 160 prodi baru. Rinciannya, 128 spesialis dan 32 subspesialis.
Dengan demikian, total PPDS nasional meningkat menjadi 526 prodi dari sebelumnya 366.
Fokus utama berada di 11 provinsi yang kekurangan dokter spesialis. Termasuk di dalamnya NTT, Maluku, dan Papua.
Selain itu, pemerintah menambah enam jenis subspesialis baru untuk mempercepat pemerataan layanan.
Kolaborasi Kampus dan Rumah Sakit
Program PPDS baru telah bekerja sama dengan 219 rumah sakit daerah. Selanjutnya, kemitraan juga melibatkan rumah sakit swasta nasional.
Dari sisi daya tampung, mahasiswa baru PPDS tahun 2026 mencapai 8.650 orang. Dengan demikian, total mahasiswa aktif diproyeksikan sekitar 24.000 orang.
Pemerintah juga meningkatkan beasiswa melalui LPDP.
Sebanyak 13 fakultas kedokteran kini menempatkan 1.200 residen mandiri setiap tahun. Mereka bertugas di lebih dari 160 rumah sakit.
“Kita ingin sistem kesehatan akademik di Bali dan Nusa Tenggara bersinergi dan berdampak nyata,” ujar Prof. Togar.
Komitmen UNDANA Bangun NTT
Rektor Undana, Prof. Jefri Bale, menegaskan prodi spesialis menjawab persoalan kesehatan NTT.
“Kehadiran dokter spesialis dari Undana akan memutus rantai kendala akses kesehatan,” tegasnya.
Ia menambahkan Undana menyiapkan prodi Kedokteran Gigi, Keperawatan, dan Profesi Farmasi. Karena itu, kampus membangun ekosistem layanan kesehatan terintegrasi.
Menurutnya, strategi ini sejalan dengan konsep kampus berdampak. Selain itu, visi tersebut mendukung gerakan “Ayo Bangun NTT”.
“Kami ingin melahirkan tenaga medis yang kompeten dan berjiwa pengabdian,” katanya.
Dukungan Penuh Pemprov NTT
Gubernur NTT, Emmanuel Melkiades Laka Lena, menyebut daerahnya masih kekurangan dokter spesialis. Terutama untuk wilayah terpencil dan tertinggal.
Ia mencontohkan kasus operasi tertunda akibat ketiadaan dokter anestesi. Karena itu, ia menilai kehadiran spesialis anak dan anestesi sangat mendesak.
“Program ini sangat relevan untuk menekan angka kematian ibu dan anak di NTT,” ujarnya.
Gubernur juga mengapresiasi kolaborasi NTT, NTB, dan Bali. Ia berharap langkah ini memperkuat layanan kesehatan Indonesia Timur secara berkelanjutan. (Gaf-BF/Vip)











