Biaya alat bantu jantung mencapai sekitar Rp2 miliar. Di tengah mahalnya pengobatan gagal jantung, teknologi baru memberi harapan, tetapi aksesnya masih menjadi tantangan.
BEBER FAKTA — Bagi pasien gagal jantung kronis, persoalan tidak berhenti pada perjuangan melawan penyakit. Ada pertanyaan lain yang tak kalah berat: bagaimana membayar pengobatan ketika biayanya mencapai miliaran rupiah?
❤️ Saat Jantung Tak Lagi Mampu Bekerja Sendiri
Gagal jantung kronis menjadi salah satu ancaman kesehatan utama di Indonesia. Penyakit ini berdampingan dengan penyakit mematikan lain, seperti stroke dan kanker.
Berbagai masalah kardiovaskular dapat berujung pada gagal jantung. Jantung koroner, hipertensi, aritmia, hingga infeksi bisa menjadi pemicunya jika tidak tertangani optimal.
Pada tahap lanjut, jantung mengalami peregangan dan kehilangan kemampuan memompa darah. Padahal, darah harus terus mengalir untuk menyuplai oksigen ke seluruh tubuh.
Dalam kondisi tersebut, kerja jantung dapat membutuhkan bantuan mesin.
Selama ini, transplantasi jantung menjadi salah satu pilihan utama. Namun, keterbatasan organ donor membuat pilihan tersebut sulit direalisasikan.
Karena itu, teknologi Left Ventricular Assist Device (LVAD) hadir sebagai alternatif untuk membantu kerja jantung.
🫀 Teknologi Kecil yang Membawa Harapan
Harapan baru itu datang melalui perangkat LVAD dari HeartSpan.ai.
Alat tersebut diklaim sebagai alat bantu jantung terkecil dan teringan di dunia. Untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, perangkat itu berhasil diimplantasi tim dokter Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Pasien pertama yang menjalani tindakan tersebut adalah seorang penjual nasi uduk. Pasien itu diidentifikasi sebagai Nyonya S, 45 tahun.
Namun, teknologi yang membawa harapan tersebut juga menghadirkan persoalan lain.
Harganya mencapai miliaran rupiah.
💰 Rp2 Miliar untuk Sebuah Harapan
Direktur Utama RSCM Dr. dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes menyebut total biaya tindakan sekitar Rp2 miliar.
“Yang jelas ini paling tidak sekitar Rp 2 miliar. Alatnya saja sekitar Rp 1,7 (miliar), totalnya nanti sekitar Rp 2 miliar,” kata Supriyanto dalam konferensi pers di RSCM Kiara, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).
Meski mahal, perangkat tersebut justru diklaim memiliki harga paling rendah di kelasnya.
Biayanya diperkirakan hanya seperempat dari perangkat alat bantu jantung generasi lama. Perangkat generasi lama itu juga memiliki ukuran jauh lebih besar di pasar global.
Untuk operasi perdana Nyonya S, perangkat tersebut diperoleh melalui skema donasi.
Namun, skema itu belum menjadi solusi bagi pasien berikutnya.
🏥 Saat BPJS Belum Bisa Menanggung
Untuk ke depan, tindakan medis bernilai miliaran rupiah tersebut belum masuk dalam jaminan kesehatan negara.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan dr. Azhar Jaya, S.H., SKM, MARS., memahami bahwa biaya menjadi kendala utama.
“Cuman kalau alat ini semakin banyak yang menggunakan, tentu kita bisa menekan harganya sehingga bisa di-cover oleh BPJS,” ujar Azhar.
Pemerintah melihat jumlah pengguna sebagai salah satu jalan untuk menekan harga.
Semakin banyak perangkat digunakan, biaya diharapkan semakin rendah. Dengan begitu, peluang pembiayaan melalui BPJS Kesehatan juga semakin terbuka.
🏭 Ada Harapan dari Produksi Dalam Negeri
Upaya menekan harga tidak hanya bergantung pada jumlah pengguna.
Kementerian Kesehatan meminta adanya kontrak eksklusif dengan produsen. Tujuannya agar Indonesia mendapatkan harga khusus untuk perangkat tersebut.
Di sisi lain, pendiri dan Chairman BHG sekaligus Founder HeartSpan.ai, dr. Wei Siang Yu, menyampaikan komitmen perusahaannya.
Ia berencana mengeksplorasi peluang membangun pabrik perangkat medis tersebut di Indonesia.
Produksi di dalam negeri diharapkan dapat memangkas biaya sekaligus memperluas akses pasien gagal jantung.
“Kami akan mengeksplorasi manufaktur di sini sehingga biayanya bisa lebih rendah untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia yang mengalami gagal jantung,” terang dr. Wei.
🤝 RSCM Tetap Buka Pintu bagi Pasien Kurang Mampu
Di tengah mahalnya teknologi tersebut, pertanyaan lain muncul.
Bagaimana pasien dari keluarga kurang mampu bisa mendapatkan perawatan?
Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah, RSCM memastikan tetap menjalankan fungsi sosialnya.
Rumah sakit menyediakan anggaran khusus bagi pasien yang perawatannya belum dapat ditanggung BPJS Kesehatan.
“Tugasnya RSCM itu adalah mensubsidi. Jadi pendapatan-pendapatan RSCM ini, tidak diambil oleh Kementerian Kesehatan, tetapi dikembalikan lagi kepada masyarakat,” jelas Supriyanto.
Menurutnya, masyarakat dari keluarga kurang beruntung tetap dapat menikmati fasilitas kesehatan RSCM.
Catatan rumah sakit menunjukkan, sepanjang 2025, subsidi silang bagi pasien kurang mampu mencapai Rp1,2 triliun.
Angka itu menunjukkan besarnya peran subsidi silang dalam menjaga akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
🌱 Harapan Agar Pasien Tak Harus ke Luar Negeri
Agar sistem subsidi silang tetap berjalan, Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat menengah ke atas.
Mereka diminta tidak ragu menjalani pengobatan penyakit kompleks di dalam negeri. Pilihan tersebut dinilai dapat membantu mempertahankan kemampuan rumah sakit dalam memberikan subsidi kepada pasien kurang mampu.
Azhar menegaskan kemampuan RSCM menangani penyakit kompleks sekaligus mengajak masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan dalam negeri.
“Saya nyatakan bahwa RSCM sudah mampu. Lebih baik dioperasi di sini, nanti uangnya akan bisa dipergunakan untuk mensubsidi pasien BPJS yang biayanya enggak bisa di-cover,” pungkas Azhar.
Bagi pasien gagal jantung, hadirnya LVAD memberi secercah harapan ketika jantung tak lagi mampu bekerja optimal.
Namun, perjalanan teknologi itu belum selesai.
Harga sekitar Rp2 miliar masih menjadi tembok besar bagi banyak pasien. Karena itu, produksi lokal, penurunan harga, dan peluang pembiayaan BPJS menjadi bagian penting dari harapan berikutnya.(*/Red.01-BF)











