Scroll TikTok sampai subuh, susah lepas dari HP, hingga terjebak judol dan pinjol ilegal kini jadi ancaman nyata di NTT. Karena itu, Universitas Nusa Cendana (Undana) bergerak cepat lewat gerakan “Siber Sehat NTT” untuk menyelamatkan generasi muda dari jebakan adiksi digital.
BEBER FAKTA– Aksi ini berlangsung saat Car Free Day di Jalan El Tari, Kupang, Sabtu (9/5/2026). Undana menggandeng Pemerintah Provinsi NTT untuk membangun gerakan digital sehat berbasis riset ilmiah dan edukasi langsung ke masyarakat.
🚨 Undana Bawa “Senjata” Saintifik Lawan Kecanduan Gadget
Undana tidak datang dengan teori kosong. Kampus ini langsung menyiapkan tiga pilar strategis untuk menghadapi ancaman kecanduan digital yang makin mengkhawatirkan.
Pilar pertama yaitu alat ukur deteksi adiksi digital. Instrumen ini membantu memetakan tingkat kecanduan teknologi di masyarakat.
Selain itu, Undana juga menyiapkan pilar kedua, materi edukasi berbasis psikologi yang mudah dipahami warga. Materi tersebut mengajarkan cara menggunakan teknologi secara sehat tanpa merusak mental.
Tak berhenti di situ, Undana juga menyusun pilar ketiga, yaitu SOP layanan psikologis untuk menangani korban adiksi digital berat. SOP ini menjadi jalur penanganan profesional bagi masyarakat yang sudah mengalami kecanduan serius dan membutuhkan intervensi klinis.
Rektor Undana, Jefri S. Bale, menegaskan bahwa kampus harus hadir langsung menjawab persoalan masyarakat.
“Kegiatan ini memfasilitasi kami di perguruan tinggi untuk menciptakan generasi muda yang unggul,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan pemerintah daerah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi kesehatan mental generasi muda.
👨👩👧👦 Zona Bebas HP Mulai dari Rumah
Gerakan ini tidak hanya berhenti di seminar dan teori. Sebanyak 60 mahasiswa relawan dari Program Studi Psikologi dan UKM Kehumasan Undana turun langsung memberikan edukasi kepada warga.
Siapa Karin Bistolen?? Mahasiswi Cantik Undana Ini Kenapa? —> Tiktok @beber_fakta
Mereka mengajak keluarga membuat “Zona Bebas HP” di rumah, terutama di meja makan dan kamar tidur.
Selain itu, warga juga diingatkan agar tidak menyentuh gadget selama 30 menit setelah bangun pagi.
Langkah sederhana ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan digital yang makin tidak terkendali.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari keluarga.
“Kita harus memaksimalkan teknologi untuk kebaikan dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap kesehatan mental,” tegas Melki.
Ia juga mengajak masyarakat menjaga ruang digital agar tidak merusak tatanan sosial.
⚠️ Judol dan Pinjol Ilegal Jadi Ancaman Baru
Dalam kampanye tersebut, Pemprov NTT juga menyoroti bahaya judi online dan pinjaman online ilegal.
Kedua layanan ini dinilai sangat adiktif dan mampu menghancurkan kondisi ekonomi maupun kesehatan mental masyarakat.
Karena itu, warga diminta tidak mencoba layanan tersebut meski hanya “sekadar iseng”.
Gerakan “Siber Sehat NTT” pun diharapkan menjadi benteng baru agar masyarakat NTT tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga kuat secara mental menghadapi era digital. (Sumber: Humas Undana-IyL / Vip-BF)











