
Di balik keluhan warga tentang kerusakan parah di ruas Jalan Mesakh Amalo, tersimpan sebuah kisah panjang tentang nama besar yang kini terjebak dalam ironi. Ruas jalan yang rusak itu sejatinya memanggul sebuah kehormatan—nama seorang tokoh yang pernah menyalakan obor kepemimpinan di Kota Kupang. Nama itu diberikan bukan sembarangan, tetapi sebagai penghormatan melalui SK Wali Kota Kupang Nomor 150/Kep/HK/2020. Pada 19 Agustus 2020, Wali Kota Kupang saat itu, Jefri Riwu Kore, meresmikan nama Mesakh Amalo, sang Wali Kota Administratif Kupang pertama, sebagai nama jalan di kawasan Tirosa, Oesapa Barat.

Saat meresmikan nama jalan itu, Jefri Riwu Kore (saat itu adalah Wali Kota Kupang) menyampaikan penghormatan mendalam. “Pemikiran-pemikiran luar biasa yang almarhum berikan, termasuk kontribusi positif dan nyata yang beliau buat, telah membawanya pada titik kesuksesan,” ujarnya. Ia berharap nama jalan itu menjadi pengingat, bukan sekadar penanda lokasi. “Semangat dan spirit pembangunan yang telah Mesakh Amalo tanamkan harus terus bertumbuh dalam diri warga Kota Kupang,” tambahnya.

Namun hari ini, ironi itu terasa menohok. Jalan yang menyandang nama seorang peletak dasar kota justru rusak akibat aktivitas usaha yang tak tertib aturan. Jalan yang dulu diberi nama sebagai wujud penghargaan, kini memanggil perhatian karena luka-luka aspal yang menganga, seolah menantang generasi hari ini agar tidak lupa pada nilai yang ditinggalkannya.

Bagi keluarga, pemberian nama jalan itu adalah kehormatan besar. “Apa yang telah beliau buat untuk Kota Kupang kami harap dapat dilanjutkan oleh wali kota berikutnya,” kata Daud Amalo, mewakili keluarga besar Amalo. Kata-katanya seakan menjadi pesan yang bergema lebih kuat hari ini—bahwa penghormatan pada sosok besar tidak berhenti pada papan nama, tetapi pada cara kota ini dirawat dan dijaga.
Di tengah polemik kerusakan Jalan Mesakh Amalo, cerita tentang sang tokoh kembali terasa relevan. Nilai integritas, ketegasan, dan penghargaan pada kepentingan publik yang dulu Mesakh pegang teguh, justru menjadi cermin bagi pemerintah, pengusaha, dan warga: apakah kita sudah menjaga kota ini sebagaimana ia dulu merintisnya?
Jalan ini punya nama. Dan nama itu mengandung pesan yang tak boleh lagi diabaikan. (Vico Patty-BF)











