🔥Bank NTT kembali jadi sorotan. Kali ini, kritik keras datang dari Hans Rumat. Ia menilai arah bisnis bank daerah itu terlalu nyaman di kredit pegawai. Jika dibiarkan, dampaknya bisa serius: ekonomi rakyat mandek, bahkan kemiskinan meningkat.
⚡ Kredit Pegawai Disorot, Dinilai Terlalu ‘Zona Nyaman’
BEBER FAKTA – Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD NTT, Rabu (25/3/2026), Hans Rumat langsung “menyemprot” jajaran direksi Bank NTT.
Ia menegaskan, Bank NTT tidak boleh terus bergantung pada kredit konsumtif, khususnya bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurutnya, pola lama ini berisiko besar.
“Kalau Bank NTT terus bertahan, kita bisa kehilangan momentum pembangunan,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan risiko lebih serius. Bank bisa ikut menyumbang kemiskinan jika tidak segera berubah.
📉 Peran Strategis, Tapi Belum Maksimal
Hans menilai Bank NTT punya posisi penting dalam ekonomi daerah. Namun, peran itu belum dimaksimalkan.
Ia menegaskan, bank daerah harus mendorong ekonomi rakyat, bukan sekadar mengejar laba.
“Kontribusi harus diperbesar lewat sektor produktif,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa Bank NTT punya dua fungsi utama:
- Mesin bisnis penyumbang PAD
- Agen pembangunan ekonomi
Jika tidak seimbang, dampaknya bisa jadi bumerang.
🚜 Dorong Sektor Riil: UMKM hingga Pertanian
Hans kemudian menyoroti pentingnya pergeseran pembiayaan.
Ia meminta Bank NTT fokus ke sektor produktif seperti:
- UMKM
- Pertanian
- Peternakan
- Perikanan
Menurutnya, sektor ini punya efek pengganda besar terhadap ekonomi daerah.
“Kalau kredit produktif lemah, ekonomi rakyat tidak bergerak,” katanya.
📲 Digitalisasi UMKM Jadi Kunci
Selain pembiayaan, Hans juga menekankan pentingnya digitalisasi.
Ia menilai Bank NTT harus aktif membantu UMKM masuk ke ekosistem digital.
Dengan begitu, pelaku usaha bisa:
- Memperluas pasar
- Meningkatkan daya saing
- Bertahan di era ekonomi digital
⚠️ Risiko Besar: Kredit Macet & Tata Kelola
Namun, kritik paling tajam muncul di sektor tata kelola.
Hans mengingatkan, jika manajemen tidak profesional, dampaknya bisa luas.
Ia menyoroti risiko:
- Kredit macet tinggi
- Pelayanan lemah
- Kepercayaan publik turun
“Kalau salah kelola, ini bisa mematikan UMKM,” tegasnya.
💰 Laba Naik, Tapi Rakyat Belum Merasakan?
Meski begitu, Hans mengakui kinerja keuangan Bank NTT cukup positif.
Namun, ia langsung mempertanyakan dampaknya.
“Apakah laba itu sudah terasa di masyarakat?” ujarnya.
Ia menegaskan, indikator keberhasilan bukan hanya angka laba. Namun, harus terlihat pada penurunan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan.
🚨 Pesan Tegas: Transformasi Itu Wajib!
Di akhir pernyataannya, Hans menegaskan satu hal: transformasi bukan pilihan.
Bank NTT harus fokus pada:
- Inklusi keuangan
- Pemberdayaan ekonomi rakyat
- Kredit sektor produktif
“Bank ini milik rakyat. Jadi rakyat harus sejahtera,” pungkasnya. (Vic-BF/Vip)











