Rambut rontok memang normal. Namun, jika kerontokan tak kunjung berhenti hingga berbulan-bulan, jangan anggap sepele. Dokter transplantasi rambut mengungkap tanda-tanda yang menunjukkan rambut membutuhkan penanganan lebih serius.
BEBER FAKTA – Dokter Bedah Transplantasi Rambut sekaligus pendiri Crown, Dr. Mayank Singh, mengingatkan bahwa rambut rontok tidak selalu berujung pada kebotakan. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai jika berlangsung terus-menerus tanpa penyebab yang jelas.
💇 Kerontokan Tidak Selalu Berbahaya
Menurut Singh, rambut bisa rontok akibat sakit, diet ekstrem, pola makan yang buruk, perubahan hormon, hingga efek samping obat.
Meski demikian, folikel rambut umumnya masih hidup sehingga rambut berpeluang tumbuh kembali setelah penyebabnya teratasi.
“Mengonsumsi makanan yang lebih baik, melengkapi nutrisi, mengurangi stres, dan merawat kulit kepala dengan lembut dapat membantu membalikkan keadaan,” jelas Singh.
⚠️ Kapan Harus Mulai Khawatir?
Singh menegaskan, jika kerontokan berlangsung lebih dari tiga bulan dan terjadi berulang dalam keluarga, kondisi itu bisa mengarah pada kebotakan genetik.
Selain itu, pola tersebut banyak dialami pria seiring bertambahnya usia, meski wanita juga dapat mengalaminya.
🧴 Jangan Mudah Percaya Produk Viral
Saat ini banyak orang tergoda membeli serum, vitamin, atau sampo mahal karena tren media sosial. Padahal, menurut Singh, tidak semua produk memberikan hasil yang sama.
“Tidak setiap solusi bekerja dengan cara yang sama; sekitar setengahnya mungkin hanya membantu memperlambat kerontokan rambut,” ujarnya.
Bahkan, beberapa produk tidak mampu mengaktifkan kembali akar rambut yang sudah tidak aktif.
🔬 Terapi Medis Bisa Jadi Solusi
Singh menjelaskan terapi laser tingkat rendah, minoxidil, dan plasma kaya trombosit (PRP) dapat membantu pada tahap awal kerontokan. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada penyebab dan kondisi setiap orang.
Jika folikel rambut sudah mati permanen, transplantasi rambut menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan.
“Memulai lebih awal lebih berpengaruh daripada meniru solusi populer secara online,” tegas Singh.(Sumber: Artikel Kesehatan Antara/*Red.01-BF)











