Konsumsi Telur, 5 Butir Sehari Masih Bisa?

Foto: Ilustrasi
Bagi sebagian orang, telur bukan sekadar lauk praktis. Telur menjadi pilihan ketika tubuh membutuhkan protein, sementara pilihan makanan lain terasa terbatas.

DI MEJA makan, telur memang terlihat sederhana. Harganya terjangkau, mudah diolah, dan bisa menjadi sumber protein sehari-hari.

Namun, muncul satu pertanyaan yang kerap mengusik: sebenarnya berapa banyak telur yang masih aman dikonsumsi dalam sehari?

🍳 Kebutuhan Setiap Orang Tidak Sama

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan kebutuhan konsumsi telur setiap orang berbeda.

Menurut dia, jumlah telur perlu disesuaikan dengan kebutuhan total protein masing-masing individu. Karena itu, tidak ada satu batas yang otomatis berlaku bagi semua orang.

“Kalau ditanya maksimal untuk setiap orang, itu pasti beda-beda. Jadi kalau misalnya beberapa pasien, memang ada yang saya harus hitung juga nih proteinnya,” kata dr Yaze.

Perhitungan tersebut menjadi penting karena telur bukan satu-satunya sumber protein yang dikonsumsi seseorang dalam sehari.

🥚 Saat Telur Jadi Pilihan Utama

Dalam praktiknya, seseorang bisa saja tidak menyukai atau menghindari sumber protein tertentu.

Kondisi itu membuat pilihan makanan berprotein menjadi lebih terbatas. Telur kemudian dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kalau misalnya dia nggak suka makan ayam, terus nggak suka juga tahu tempe, akhirnya kita beralihnya ke daging, telur, atau beralih ke ikan,” terangnya.

Dengan kondisi seperti itu, jumlah telur yang dikonsumsi tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan protein harian orang tersebut.

🔢 Lima Butir Masih Mungkin

Lalu, bagaimana dengan jumlahnya?

Dr Yaze menjelaskan bahwa konsumsi beberapa butir telur dalam sehari masih mungkin dilakukan. Bahkan, lima butir bisa saja dikonsumsi apabila jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan protein seseorang.

“Jadi, kalau misalnya dibilang maksimal berapa, ya 5 bisa. Tergantung nanti hitungan protein yang dibutuhkan berapa untuk memenuhi target proteinnya orang tersebut,” jelasnya.

Artinya, angka lima bukan batas mutlak yang berlaku untuk semua orang. Jumlah tersebut tetap bergantung pada kebutuhan protein masing-masing individu.

🩺 Kondisi Ginjal Jadi Perhatian

Meski lima butir telur sehari masih mungkin, dr Yaze memberikan catatan penting.

Kondisi kesehatan seseorang tetap menjadi pertimbangan. Terutama bagi mereka yang memiliki gangguan atau riwayat gangguan pada ginjal.

“Tapi kalau untuk kamu, memakannya 5 butir pun masih oke, selama tidak ada gangguan di ginjal atau riwayat gangguan ginjal,” pungkas dia.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan protein tidak bisa disamaratakan. Apa yang sesuai bagi satu orang belum tentu berlaku bagi orang lain.

❤️ Bukan Sekadar Menghitung Butir

Pada akhirnya, pertanyaan tentang berapa banyak telur yang boleh dimakan tidak berhenti pada jumlah butir.

Kebutuhan protein setiap orang berbeda. Pilihan sumber protein juga bisa berbeda, tergantung preferensi dan kondisi kesehatan.

Karena itu, telur tetap dapat menjadi pilihan protein dalam menu harian. Namun, jumlah konsumsinya perlu melihat kebutuhan protein masing-masing serta kondisi kesehatan, terutama terkait ginjal.(*/Red.01-BF)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *