Kasoami Wakatobi bukan sekadar makanan berbahan singkong. Di balik tampilannya yang sederhana, kuliner ini menyimpan kisah panjang tentang cara masyarakat kepulauan bertahan hidup sekaligus menjaga tradisi hingga sekarang.
SAAT azan Magrib berkumandang di Wakatobi, aroma ikan segar yang berpadu dengan kasoami mulai memenuhi meja makan. Hidangan sederhana itu menjadi teman berbuka puasa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi identitas kuliner masyarakat kepulauan di Sulawesi Tenggara.
🌊 Dari Kepulauan Karang Lahir Tradisi Kuliner
Wakatobi, yang terdiri dari Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, selama ini dikenal sebagai destinasi menyelam kelas dunia. Perairannya memiliki sekitar 750 spesies terumbu karang dan telah ditetapkan UNESCO sebagai cagar biosfer dunia.
Namun, di balik pesona bawah lautnya, masyarakat Wakatobi juga memiliki kekayaan kuliner yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah kasoami, makanan berbahan dasar singkong yang menjadi santapan khas saat berbuka puasa.
Bagi masyarakat setempat, singkong dikenal dengan sebutan kayu Jawa.
🌱 Singkong yang Menjadi Penyelamat Kehidupan
Perjalanan kasoami bermula sekitar abad ke-16. Saat itu, pelaut Wakatobi membawa bibit singkong dari Pulau Jawa menuju kepulauan tersebut.
Keputusan itu menjadi titik penting bagi kehidupan masyarakat. Meski Wakatobi kaya akan hasil laut, kondisi kepulauan karang membuat padi sulit dibudidayakan.
Karena itulah, singkong kemudian berkembang menjadi sumber karbohidrat utama yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat hingga kini.
🍽️ Sederhana, Tetapi Selalu Dirindukan
Kasoami memiliki cita rasa yang cenderung tawar dengan sedikit manis alami dari singkong. Teksturnya kenyal, berserat, dan cukup mengenyangkan.
Hidangan ini paling nikmat disantap saat masih panas. Masyarakat biasanya menyajikannya bersama ikan parende, ikan parape, atau ikan bakar khas Wakatobi.
Ikan parende menawarkan perpaduan rasa asam, pedas, dan gurih dalam kuahnya. Sementara itu, ikan parape merupakan ikan goreng yang diberi racikan cabai, bawang putih, bawang merah, dan bumbu lainnya.
Perpaduan tersebut menghadirkan cita rasa khas yang menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa masyarakat Wakatobi.
🧺 Tiga Bentuk, Tiga Cerita Rasa
Kasoami hadir dalam beberapa jenis dengan proses pembuatan yang berbeda.
Kasoami gunung dibuat dari singkong yang telah dihaluskan, kemudian dikukus menggunakan wadah anyaman daun kelapa berbentuk kerucut.
Sementara itu, kasoami pepe dibuat dengan tambahan minyak kelapa dan bawang goreng sehingga menghasilkan aroma yang lebih harum.
Ada pula kasoami hitam yang berasal dari singkong yang dijemur hingga menghitam. Setelah kering, singkong diiris tipis, dicuci, dimasukkan ke dalam wadah anyaman, lalu dikukus.
Sebagian masyarakat juga menambahkan kacang merah ke dalam adonan kasoami. Campuran tersebut memberikan rasa gurih sehingga hidangan ini tetap lezat meski disantap tanpa lauk tambahan.
❤️ Lebih dari Sekadar Menu Berbuka
Bagi masyarakat Wakatobi, kasoami bukan hanya makanan pengganjal lapar setelah seharian berpuasa. Hidangan ini menjadi simbol kemampuan masyarakat kepulauan beradaptasi dengan alam sekaligus menjaga warisan kuliner yang telah bertahan selama berabad-abad.
Di tengah beragam pilihan makanan modern, kasoami tetap memiliki tempat istimewa di meja makan keluarga Wakatobi. Kesederhanaannya justru menjadi pengingat bahwa tradisi dan rasa dapat terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.(*/Red.01-BF)











