Sup Konro dan Konro Bakar, Rasa Legendaris Makassar

Sup Konro & Konro Bakar (Foto: Istimewa)
Ada yang berubah dari semangkuk sup konro ketika iga sapi empuk bertemu kuah rempah yang kaya. Dari hidangan sederhana, lahir cita rasa khas yang terus dikenal sebagai kuliner legendaris Makassar.
Ketika Iga Sapi Menjadi Ikon Kuliner

Bagi pencinta daging iga, sup konro menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan. Kuahnya kaya rempah, sementara daging pada iga dibuat empuk hingga mudah dinikmati.

Dalam bahasa Makassar, kata “konro” merujuk pada tulang iga. Karena itu, iga menjadi bagian utama dalam sajian sup konro maupun konro bakar.

Keduanya menghadirkan karakter berbeda. Sup konro mengandalkan kuah kaya rempah, sedangkan konro bakar menghadirkan iga yang dibakar lalu disiram bumbu kacang.

Kuah Pekat dengan Aroma Rempah

Sekilas, warna kuah sup konro mengingatkan pada rawon. Keluak menjadi salah satu bumbu yang membuat keduanya tampak memiliki kemiripan.

Namun, warna kuah konro cenderung kecokelatan. Rawon memiliki warna hitam yang lebih pekat.

Perbedaan juga terasa dari rempah yang digunakan. Sup konro memadukan ketumbar, pala, kunyit, kencur, kayu manis, daun lemon, cengkih, dan daun salam.

Campuran tersebut membuat kuah terasa kaya, kuat, dan aromatik. Kaldu dari daging iga kemudian melengkapi karakter kuah yang menjadi daya tarik utama hidangan ini.

Dari Iga Kerbau Beralih ke Iga Sapi

Ada perjalanan panjang di balik penggunaan iga sapi dalam sup konro. Dahulu, masyarakat setempat lebih sering menggunakan iga kerbau sebagai bahan utama.

Namun, kondisi kemudian berubah. Populasi kerbau menurun dan harganya meningkat.

Sejak tahun 1990-an, masyarakat setempat beralih menggunakan iga sapi yang lebih terjangkau. Perubahan itu kemudian melekat dalam sajian konro yang dikenal hingga sekarang.

Konro Bakar, Sajian dengan Cara Berbeda

Konro tidak hanya hadir dalam semangkuk kuah. Ada pula konro bakar yang menawarkan cara menikmati iga dengan karakter berbeda.

Iga yang sudah empuk dibakar terlebih dahulu. Setelah itu, iga disiram dengan bumbu kacang yang kaya rasa.

Sajian tersebut kemudian disandingkan dengan kuah sop konro yang segar. Nasi hangat menjadi pendamping yang cocok untuk menikmatinya.

Konro bahkan dapat disantap kapan saja. Hidangan ini bisa hadir saat sarapan, makan siang, maupun makan malam.

Resepnya Tercatat Sejak 1972

Jejak sup konro juga memiliki catatan sejarah kuliner. Menurut berbagai sumber, resep sup konro pertama kali ditemukan sekitar tahun 1972.

H. Hanaping disebut sebagai orang yang pertama kali menemukan resep tersebut. Informasi itu dikutip dari *Sop Konro Kuliner Legendaris Makassar* terbitan 2019.

Sejak itu, sup konro tidak sekadar menjadi santapan sehari-hari. Hidangan ini juga hadir dalam berbagai momen penting masyarakat.

Hadir dalam Momen Istimewa

Sup konro kerap disajikan pada acara besar. Pernikahan, Idulfitri, dan Iduladha menjadi beberapa momen ketika hidangan ini hadir.

Sup konro juga dapat dinikmati bersama nasi maupun ketupat. Kehadirannya membuat makanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan rasa.

Ada pula pengalaman menikmati makanan bersama dalam sebuah perayaan. Di situlah perjalanan panjang konro bertemu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kunci Kelezatannya Ada pada Iga

Semangkuk sup konro memiliki kuah yang agak kehitaman dan sedikit berminyak. Minyak tersebut berasal dari kaldu daging yang berpadu dengan rempah.

Namun, bukan hanya kuah yang menentukan kelezatannya. Keempukan daging yang melekat pada iga menjadi bagian penting dalam sajian tersebut.

Karena itu, proses memasak perlu memperhatikan tingkat keempukan daging. Bagian inilah yang menjadi kunci untuk menghasilkan sup konro maupun konro bakar yang lezat.

Dari iga kerbau hingga iga sapi, konro terus mengikuti perubahan zaman. Namun, kekuatan rempah dan karakter iga tetap menjadi bagian penting dari kuliner khas Makassar ini.(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *