Tren salt bread yang ramai di media sosial membawa Sasha Hiskia pada sebuah perjalanan. Dari pengalaman belajar kuliner di Bali dan Amerika Serikat, ia kini mengubah tren itu menjadi peluang usaha di Kupang.
BEBER FAKTA—Bagi Sasha, sebuah ide bisnis bisa muncul dari sesuatu yang sederhana. Saat berada di Amerika Serikat, ia berulang kali melihat konten salt bread berseliweran di media sosial.
Pengalaman itu kemudian bertemu dengan latar belakang pendidikannya di bidang kuliner. Dari sana, Sasha mulai membawa ide tersebut pulang ke Kupang.
🍞 Dari Bangku Kuliner ke Ide Bisnis
Sasha merupakan alumni SMA Negeri 3 Kupang dengan latar belakang pendidikan kuliner. Ia pernah menempuh pendidikan kuliner di Bali dan menjalani internship di hotel bintang lima, Miami, Amerika Serikat.

Selama berada Miami, tren salt bread menarik perhatiannya. Apalagi, Sasha memang memiliki pengalaman di bidang pastry dan pengetahuan tentang bakery.
“Pas di Amerika sering melihat salt bread muncul di media sosial. Kebetulan saya memang dari bidang pastry dan belajar sedikit bakery, sehingga akhirnya tertarik membuatnya,” ujar Sasha saat ditemui di Hotel Haston Kupang, Sabtu (19/9/2026).
Nonton Video Wawancara Sasha di Tiktok @beber_fakta: Sasha, SaltySash, Saltibread
Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik awal lahirnya SaltySash.
🧈 Gurih, Renyah dan Sensasi Asin
Berbeda dari roti yang umumnya identik dengan rasa manis, salt bread menawarkan karakter rasa yang berbeda.
Roti ini menghadirkan sensasi gurih, renyah dan sensasi asin pada kulit tipis di luar, tetapi tetap empuk dengan citarasa khas dari setiap pilihan isinya. Karakter tersebut menjadi pilihan bagi penikmat kudapan dengan sensasi dan cita rasa asin.
SaltySash kini menyediakan lima pilihan rasa. Ada Original, Choco Mochi, Ube, Smoked Beef Nori, dan Garlic Cream Cheese.
Dari lima varian tersebut, Garlic Cream Cheese menjadi salah satu menu yang disebut paling diminati pelanggan.
👩🍳 Dua Bulan Berjalan, Semua Masih Dikerjakan Sendiri
SaltySash masih tergolong usaha baru. Bisnis ini baru berjalan sekitar dua bulan.
Namun, dalam sekali produksi, Sasha mampu membuat sekitar 200–250 buah salt bread. Seluruh proses produksi tersebut masih ia kerjakan secara mandiri.
Harga setiap buah juga berbeda sesuai varian. SaltySash membanderol produknya mulai Rp20 ribu hingga Rp26 ribu per buah.
Di tengah proses membangun usaha, Sasha belum memiliki toko fisik. Ia memilih media sosial sebagai jalur pemasaran.
Pelanggan dapat melakukan pemesanan melalui Instagram @salty.sash. Setelah memesan, pelanggan bisa memilih layanan self-pickup atau menggunakan ojek online.
📱 Dari Layar Ponsel ke Pelanggan Kupang
Menariknya, usaha yang baru berusia sekitar dua bulan ini mulai memiliki pelanggan yang kembali memesan.
Setiap kali open order dibuka, sejumlah pelanggan kembali melakukan pemesanan. Kondisi itu menjadi bagian dari perjalanan awal SaltySash di Kupang.
Bagi Sasha, perjalanan usaha tersebut berawal dari sebuah tren yang ia temukan melalui media sosial.
Tren itu kemudian ia pelajari, bawa pulang, dan kembangkan dengan pengalaman kuliner yang dimilikinya.
🎪 SaltySash Akan Hadir Offline
Warga Kupang yang penasaran dengan salt bread SaltySash juga mendapat kesempatan untuk mencobanya secara langsung.
SaltySash akan hadir secara offline untuk pertama kalinya dalam Mooncake Festival. Kegiatan tersebut berlangsung pada 25–27 September 2026 di kawasan depan Kantor Gubernur NTT, Kota Kupang.
Kehadiran offline itu menjadi langkah baru bagi SaltySash setelah selama ini mengandalkan pemasaran melalui media sosial.
🌱 Ketika Tren Berubah Menjadi Peluang
Perjalanan Sasha tidak berhenti pada melihat tren kuliner di media sosial.
Pengalaman belajar kuliner di Bali, menjalani internship di luar negeri, melihat tren salt bread di Amerika Serikat, kemudian kembali ke Kupang menjadi rangkaian perjalanan yang melahirkan SaltySash.
Tren yang awalnya hanya terlihat melalui layar ponsel kini mulai hadir di meja makan warga Kupang.
Salt bread memang sedang viral. Namun bagi Sasha, tren tersebut menjadi pintu untuk mengembangkan sebuah peluang usaha di daerah.
Dari sebuah ide yang ditemukan jauh dari Kupang, Sasha kini mencoba menghadirkan pengalaman kuliner itu untuk warga di kotanya sendiri. (*/Die-BF)











