Sefrans Banamtuan mendedikasikan enam tahun hidupnya terjun langsung ke lapangan demi mengubah nasib peternak sapi potong di Kabupaten Kupang. Lewat jembatan kemitraan taktis Bappenas RI dan riset Universitas Nusa Cendana (Undana), ia memutus rantai kerugian peternak lokal dari permainan harga pasar.
BEBER FAKTA—Keringat dan dedikasi di balik debu peternakan Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap tak terlihat. Selama ini, para peternak lokal terjerat pola tradisional yang rentan dieksploitasi rantai tengkulak. Namun, hadirnya alumni FPKP Undana membawa angin segar dan harapan baru bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Undana terus memelihara peran alumni berprestasi untuk mendorong kontribusi nyata bagi pembangunan daerah NTT. Kampus negeri ini menjembatani kolaborasi strategis antara dunia akademik dan instansi pemerintah pusat. Ketiadaan akses pasar langsung serta minimnya kepastian *off-taker* (mitra pasar) selama ini membuat peternak lokal kerap terpaksa menjual ternaknya dengan harga murah saat beban pakan melonjak. Sementara itu, hasil riset akademis sering kali berhenti sebagai dokumen yang mengendap di perpustakaan kampus.
🐾 Dedikasi Enam Tahun Mengubah Peternakan Tradisional
Perjalanan panjang ini dikawal oleh Sefrans Banamtuan, S.Pt., M.Pt., sosok lulusan sarjana dan magister FPKP Undana yang akrab disapa Frans. Sebagai Community Development Officer (CDO) Kementerian PPN/Bappenas RI, Frans memikul tanggung jawab teknis selama hampir enam tahun di lapangan. Ia memfasilitasi kemitraan terstruktur dengan pihak *off-taker* demi mentransformasikan pola peternakan masyarakat menjadi unit bisnis mandiri.
🎓 Mengintegrasikan Data Tesis S2 Demi Solusi Ilmiah Peternak
Saat menempuh studi S2 di FPKP Undana melalui Beasiswa Unggulan pada tahun 2023, Frans mengintegrasikan data pekerjaannya ke dalam riset tesis. Riset ilmiah tersebut menganalisis produksi serta nilai ekonomi sapi Bali betina afkir demi efisiensi kerja lapangan. Dedikasi akademik dan praktis ini berhasil ia tuntaskan hingga resmi lulus pada tahun 2025.
💬 Makna Keberhasilan dan Kemandirian Usaha Peternak
Kutipan kuat dari Frans menegaskan filosofi di balik perjuangan dan pemberdayaan yang dilakukannya di lapangan:
“Salah satu hal yang menarik dari program ini adalah pendekatannya yang menekankan kemandirian usaha, di mana peternak didorong untuk berkembang melalui penguatan kapasitas, akses pasar, dan kemitraan yang saling menguntungkan. Keberhasilan sejati bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita memberikan bagi orang lain,” ulas Frans.
🛡️ Memutus Rantai Kerugian dan Memperkuat Posisi Tawar
Langkah taktis Frans mengunci stabilitas harga dan melindungi para peternak binaan dari jerat kerugian akibat gagal jual. Terhubungnya peternak dengan rantai pasok nasional berhasil memutus pola kerugian sistematis di pedesaan Kupang. Di sisi lain, integrasi riset kampus memastikan ilmu pengetahuan langsung terhilirisasi menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat NTT.
🔄 Asisten Pengajar, Konsultan Independen, dan Sinkronisasi Kurikulum
Sekembalinya ke FPKP Undana sebagai asisten pengajar dan konsultan independen, Frans kini mengaitkan kemitraan taktis antara kampus dengan Kementerian PPN/Bappenas RI. Jejaring ini dimanfaatkan untuk menyelaraskan kurikulum pengajaran FPKP Undana dengan kebutuhan riil industri peternakan nasional. Kolaborasi strategis ini memperkokoh posisi Undana dalam mencetak lulusan yang inovatif, berdaya saing, serta berdampak langsung bagi daerah.
Pemberdayaan sejati lahir saat hasil riset akademis menyatu erat dengan keringat perjuangan di lapangan. Lewat peran alumni seperti Frans, karya ilmiah tidak lagi berdebu di lemari arsip, melainkan menjadi penopang kesejahteraan peternak lokal di bumi Nusa Tenggara Timur.(*Sumber: Humas Undana-Audc/Red.01-BF)











