Dokter Icha Berpulang, Kasus Dugaan Intimidasi DPRD TTU Kembali Jadi Sorotan

Olahgrafis cover: Vico Patty-BF
Kepergian dr Icha memicu duka sekaligus kembali mengangkat isu perlindungan tenaga medis di Indonesia.

BEBER FAKTA – Kabar duka datang dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Dokter Icha, tenaga medis RS Leona Kefamenanu yang sebelumnya mengaku mengalami tekanan psikologis usai dugaan intimidasi saat bertugas, meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026).

😢 Kabar Duka Datang dari Keluarga

Kabar wafatnya dr Icha dibenarkan sang paman, Victor Manbait. Ia menerima informasi tersebut pada pukul 18.30 WITA.

“Dokter Icha telah berpulang ke rumah Bapa di Surga,” ujar Victor.

Namun, keluarga belum mengungkap penyebab meninggalnya dr Icha. Mereka masih menunggu proses penanganan medis selesai.

“Terima kasih atas atensi dan dukungan teman-teman semua dalam menjaga tenaga medis yang menjalankan tugas kemanusiaan,” tambah Victor.

⚠️ Dugaan Intimidasi Jadi Sorotan

Sebelumnya, dr Icha menangani pasien di IGD RS Leona sesuai SOP dan arahan dokter spesialis. Namun, situasi memanas ketika keluarga pasien meminta vaksin yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia.

Victor menyebut  tiga orang yang mengaku anggota DPRD TTU mendatangi ruang perawatan, berbicara dengan nada tinggi, bahkan salah satunya menunjuk wajah dr Icha.

“Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” kata Victor.

🗣️ DPRD TTU Bantah Lakukan Intimidasi

Tiga anggota DPRD TTU yang disebut, Therensius Lazakar,  Norbertus Tubani, & Veronika Lake, membantah melakukan intimidasi.

“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta,” kata Therensius.

Ia mengakui nada bicaranya sempat meninggi karena panik melihat kondisi keponakannya yang menjadi korban gigitan ular. Sementara itu, Norbertus menegaskan mereka hanya meminta penjelasan medis dan telah meminta maaf kepada pihak rumah sakit setelah situasi mereda.

Kini, kasus tersebut kembali menjadi perhatian publik karena menyoroti pentingnya perlindungan tenaga kesehatan sekaligus komunikasi yang baik antara keluarga pasien dan tenaga medis saat menghadapi kondisi darurat. (*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *