Bongkar ‘Rahasia’ Pakan Ternak di Amfoang

Bukit Teletubbies Disorot Mahasiswa Undana!

BUKIT TELETUBBIES - Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Universitas Nusa Cendana (Undana) turun langsung ke lokasi untuk membedah kondisi pastura atau padang pakan ternak di kawasan Bukit Teletubbies, Amfoang Selatan. (Foto: Dokumentasi FPKP / Olahgrafis: Vico Patty-BF)

Bukit Teletubbies di Lelogama ternyata bukan cuma indah buat foto-foto 📸. Kawasan padang penggembalaan di Amfoang Selatan itu menyimpan potensi besar untuk sektor peternakan NTT. Namun di balik hamparan hijau yang memanjakan mata, muncul ancaman serius yang mulai menggerus kualitas lahan. 👀

BEBER FAKTA – Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Universitas Nusa Cendana (Undana) turun langsung ke lokasi untuk membedah kondisi pastura atau padang pakan ternak di kawasan tersebut, Sabtu (9/5/2026).

Didampingi dosen pakar peternakan, mahasiswa melakukan observasi vegetasi, pengambilan data lapangan, hingga menghitung kapasitas tampung lahan demi mencari solusi nyata bagi masa depan peternakan NTT. 🔥

🐄 Rumput Melimpah, Tapi Ancaman Mulai Muncul

Tim praktikum menemukan Bukit Teletubbies masih menjadi sumber hijauan potensial bagi ternak ruminansia. Sejumlah jenis rumput unggulan tumbuh mendominasi kawasan itu, mulai dari Chloris gayana, Panicum maximum, Heteropogon contortus, hingga Cynodon dactylon.


Dengar lagu keren sambil baca berita di: Tiktok @beber_fakta🔥 “Kampus Bergerak! Undana Siap Transformasi Total”

Kandungan protein kasar hijauan tersebut bahkan tercatat berada di kisaran 5,2 persen sampai 7,8 persen. Angka itu cukup menjanjikan untuk mendukung kebutuhan pakan ternak masyarakat sekitar. 💪

Namun, di sisi lain, mahasiswa juga menemukan sederet persoalan yang mulai mengkhawatirkan.

Komposisi tanaman legum atau kacang-kacangan yang berfungsi sebagai sumber nutrisi tambahan ternyata masih sangat rendah, bahkan kurang dari 5 persen. Sementara itu, populasi gulma justru terus meningkat hingga mencapai 7 sampai 12 persen.

Ir. Dominggus B. Osa“Produksi biomassa hijauan di sini sangat fluktuatif. Pada musim hujan bisa mencapai 3,2 ton per hektar, namun saat kemarau merosot drastis hingga di bawah 1 ton” ⚠️
🌡️ Sistem Gembala Tradisional Jadi Sorotan

Riset lapangan ini juga mengungkap pola penggembalaan tradisional tanpa sistem rotasi mulai memberi tekanan besar terhadap lahan.

Mahasiswa mencatat kapasitas tampung kawasan hanya berada di kisaran 0,35–0,50 ST per hektar per tahun. Akibatnya, sejumlah area mulai menunjukkan gejala degradasi tanah, terutama di titik dengan populasi ternak tinggi.

Selain itu, minimnya ketersediaan air dan rendahnya penerapan teknologi konservasi tanah ikut memperparah kondisi lapangan.

Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, potensi besar Bukit Teletubbies dikhawatirkan tidak mampu menopang kebutuhan pangan ternak secara maksimal di masa depan. 🌍

🎓 Mahasiswa Undana Turun Gunung Cari Solusi

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga dituntut mencari solusi langsung di lapangan.

Lewat penghitungan produksi hijauan dan identifikasi daya dukung tanah, mahasiswa diharapkan mampu melahirkan rekomendasi teknis untuk pengelolaan pastura yang lebih modern dan berkelanjutan.

Langkah tersebut sekaligus mempertegas peran Undana sebagai kampus riset yang aktif mencari solusi nyata demi masa depan industri peternakan NTT yang lebih hijau, produktif, dan tangguh menghadapi perubahan iklim. 🌱 (Sumber: Humas Undana – Hec / Vip-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *