DI SUDUT sunyi Jalan Air Lobang 1, Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, dini hari itu menjadi saksi dari sebuah peristiwa yang berakhir tragis. AL, 27 tahun, seorang pemuda yang datang dari kampung untuk berobat penyakit batu ginjalnya, tergeletak tak berdaya setelah dihajar massa yang menuduhnya sebagai pelaku pencurian sepeda motor.

Awalnya, AL tertangkap warga saat mendorong sepeda motor milik IM (34), warga setempat. IM mendengar suara mencurigakan di teras rumahnya sekitar pukul 02.35 WITA, sebelum mendapati motornya sudah tidak ada. Ia bergegas keluar dan melihat seorang pria tak dikenal tengah mendorong motornya. Teriakan IM memancing perhatian warga, yang kemudian beramai-ramai menangkap AL. Ia diamankan, tetapi juga menjadi sasaran amukan massa sebelum akhirnya pihak Polsek Maulafa tiba di lokasi.

Saat petugas datang sekitar pukul 02.45 WITA, kondisi AL sudah kritis. Luka parah tampak di wajah dan tubuhnya. Pelaku pun diserahkan ke SPKT Polresta Kupang Kota bersama barang bukti untuk proses hukum lebih lanjut. Namun takdir berkata lain. Sehari setelah kejadian, Selasa 25 November 2025, AL menghembuskan napas terakhir di rumah keluarga tempat ia menumpang selama berada di Kupang.

“Almarhum tinggal di rumah keluarganya, datang dari kampung untuk berobat penyakit yang dideritanya,” jelas Kapolsek Maulafa, AKP Fery Nur Alamsyah. Ia juga membenarkan bahwa AL memiliki riwayat batu ginjal yang menurut keluarga sudah lama dikeluhkan.
Kematian AL menambah dimensi baru pada kasus ini. Tidak hanya dugaan pencurian kendaraan bermotor, kini polisi juga menelusuri dugaan pengeroyokan yang menyebabkan kematian. Polsek Maulafa memastikan sedang mendalami siapa saja yang terlibat dalam aksi main hakim sendiri tersebut. Kapolsek Fery menegaskan bahwa identifikasi para pelaku pengeroyokan telah berjalan dan pihaknya akan menetapkan tersangka dalam waktu dekat.
“Ada unsur pengeroyokan yang sedang kami dalami. Tim sudah mengumpulkan keterangan saksi dan petunjuk dari lokasi. Hingga 1 Desember 2025 kami telah mengamankan tiga orang terduga pelaku pengeroyokan,” katanya.
Kasus ini kembali menyentil persoalan klasik: maraknya aksi main hakim sendiri ketika warga mendapati pelaku kejahatan tertangkap tangan. Di tengah tekanan adrenalin dan kepanikan, batas antara mengamankan pelaku dan melakukan kekerasan kerap kabur. Namun konsekuensinya bisa fatal, seperti nasib AL—seorang terduga pelaku yang sekaligus pasien pencari pengobatan—yang nyawanya berakhir di tengah proses hukum yang belum berjalan.
Polisi mengimbau agar masyarakat menahan diri dan mempercayakan penanganan pelaku ke aparat. Sebab, di balik setiap tindakan kekerasan, selalu ada konsekuensi hukum, dan dalam kasus ini, bahkan ada nyawa yang melayang. (Denny Fernandez-BF/Vip)











