BEBER FAKTA – Rupiah makin tertekan, tetapi Presiden Prabowo Subianto justru terlihat santai. Di tengah kekhawatiran publik soal dolar AS yang terus meroket, Prabowo malah menilai masyarakat desa tidak terlalu terdampak. Prabowo: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar
Pernyataan itu langsung memicu perhatian publik setelah rupiah sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, angka tertinggi sejak krisis moneter 1998. 😳
🔥 Prabowo: “Indonesia Mau kolaps? Saya Enggak Ngerti!”
Saat menghadiri kegiatan di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026, Prabowo menanggapi santai isu pelemahan rupiah.
Ia menyebut banyak pihak terlalu sering menyampaikan narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di ambang kehancuran.
Baca Berita Sambil Dengar Lagu-lagu terkini!! di Tiktok @beber_fakta: Kasus Anggota Polisi Terlibat Penjualan BBM Ilegal: “Polda NTT Jangan Tebang Pilih!”
“Sekarang ada yang selalu, entah mengapa saya enggak mengerti, sebentar-sebentar bilang Indonesia akan kolaps, akan chaos, akan apa, ya kan?” ujar Prabowo.
Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu, kondisi Indonesia masih jauh lebih aman dibanding banyak negara lain, terutama di sektor pangan dan energi.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik menghadapi gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
💬 “Rakyat Desa Tak Pakai Dolar”
Pernyataan paling menyita perhatian muncul saat Prabowo membahas dampak dolar terhadap masyarakat desa.
Ia menilai warga pedesaan tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari, sehingga pelemahan rupiah tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
BACA JUGA: Aktivis Kuliti Beda Nasib Aipda Djefri dan Ipda Rudy Soik di Kasus Mafia BBM Subsidi
“Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?” katanya.
Ucapan tersebut langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet menilai pernyataan itu nyeleneh, sementara sebagian lainnya menganggap Prabowo sedang mencoba menenangkan publik agar tidak panik berlebihan. 👀
📉 Rupiah Sentuh Level Tertinggi Sejak Krisis 1998
Pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, rupiah sempat melemah hingga Rp17.600 per dolar AS.
Angka itu menjadi level terlemah sejak krisis moneter Asia 1997-1998. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai waspada terhadap tekanan ekonomi global dan domestik.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, bahkan memperkirakan rupiah masih bisa melemah lebih jauh.
“Kalau seandainya tembus Rp18.000 di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp22.000,” ujarnya.
Prediksi itu muncul setelah tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas saat pasar domestik sedang libur panjang.
🌍 The Fed dan Geopolitik Jadi Pemicu
Menurut Ibrahim, tekanan eksternal datang dari menguatnya dolar AS akibat kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
The Fed diperkirakan belum akan menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena inflasi AS masih tinggi.
Di sisi lain, tekanan internal juga membesar. Pelemahan rupiah dinilai bisa membuat beban APBN melonjak, terutama untuk subsidi minyak dan energi.
Sementara itu, Bank Indonesia disebut hanya bisa melakukan intervensi pasar internasional selama masa libur perdagangan nasional.
⚡ Publik Mulai Khawatir Efek Domino
Meski Prabowo meminta masyarakat tetap tenang, banyak ekonom mengingatkan bahwa pelemahan rupiah bisa berdampak luas.
Harga barang impor berpotensi naik. Selain itu, biaya energi dan kebutuhan produksi juga bisa ikut terdorong.
Jika kondisi terus berlangsung, daya beli masyarakat pun terancam ikut melemah. 🚨(*/Vip)











