HUKRIM  

🔥Kasus Bastian Bokol Makin Panas! Orang Tua Tuding Polisi Rekayasa

Minta Presiden Turun Tangan

Olahgrafis: Vico Patty-BF

Kasus kematian Bastian Bokol kembali memanas. Kali ini, orang tua para terduga pelaku buka suara keras dan menuding proses hukum penuh kejanggalan.

Orang Tua Bongkar Dugaan Rekayasa

BEBER FAKTA – Kasus kematian Bastian Bokol di Kota Kupang kembali jadi sorotan.

Namun kali ini, orang tua tujuh terduga pelaku angkat bicara. Mereka menilai penanganan oleh Polda Nusa Tenggara Timur penuh kejanggalan.

Selain itu, mereka bahkan menduga ada rekayasa dalam proses hukum.

Kanisius Gabur, salah satu orang tua, menyampaikan protes keras di wilayah Liliba, Sabtu (21/3/2026). Ia menegaskan penangkapan anak-anak mereka tidak jelas dasar hukumnya.

“Kami tidak terima anak kami ditahan lama tanpa kejelasan,” tegasnya.

Minta Presiden dan Kapolri “Turun Gunung”

Tak hanya protes, keluarga juga langsung bergerak.

Mereka sudah mengirim surat ke Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, hingga Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Namun hingga kini, mereka belum mendapat respons serius.

Karena itu, mereka mendesak agar para pejabat pusat turun langsung menangani kasus ini.

Rekonstruksi Dinilai Aneh

Selain soal penangkapan, keluarga juga menyoroti rekonstruksi kasus.

Mereka menilai proses itu tidak wajar.

Pasalnya, adegan justru diperagakan oleh saksi bersama polisi, bukan para tersangka.

“Ini aneh, baru kali ini terjadi. Kami menduga direkayasa,” ujar Kanisius.

Merasa Diperlakukan Tidak Adil

Keluarga juga mengaku kecewa dengan perlakuan yang mereka terima.

Menurut mereka, status sebagai masyarakat kecil membuat mereka dipandang sebelah mata.

Karena itu, mereka menolak keras jika anak-anak mereka langsung dicap sebagai pelaku pembunuhan tanpa bukti kuat.

Versi Polisi: Korban Dikeroyok dan Dibakar

Di sisi lain, pihak Polda Nusa Tenggara Timur sudah menggelar rekonstruksi.

Rekonstruksi itu mengungkap dugaan kronologi kejadian pada 2 Agustus 2022.

Korban disebut dikeroyok oleh tujuh pelaku hingga tewas.

Setelah itu, jasad korban dibawa menggunakan motor.

Kemudian, pelaku membakar jasad di kali mati Liliba untuk menghilangkan identitas.

Rekonstruksi juga memperagakan sejumlah lokasi penting.

Mulai dari tempat pangkas rambut, perempatan menuju TPU Liliba, hingga jembatan dan lokasi pembakaran.

Polisi Belum Beri Tanggapan

Sementara itu, Kabidhumas Polda Nusa Tenggara Timur, Henry Novika Chandra, belum memberikan respons saat dikonfirmasi Minggu pagi (22/3/2026).

Kasus ini pun terus menjadi perhatian publik. (*/Tim-BF/Vip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *