Vitamin D untuk Tulang dan Imunitas: Kenali Manfaat, Gejala Kekurangan, dan Risikonya

Foto: Ilustrasi
Vitamin D berperan penting menjaga kesehatan tulang dan mendukung sistem imunitas. Namun, kekurangan maupun kelebihan vitamin D sama-sama berisiko bagi kesehatan sehingga asupannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

BEBER FAKTA — Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang diproduksi tubuh saat kulit terpapar sinar matahari. Selain itu, vitamin ini juga diperoleh dari makanan dan suplemen. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan National Institutes of Health (NIH) menyebut vitamin D sebagai mikronutrien penting untuk menjaga fungsi tubuh secara optimal.

🦴 Vitamin D Penting untuk Kesehatan Tulang

Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor yang dibutuhkan untuk pembentukan serta pemeliharaan tulang.

Menurut NIH, tanpa kadar vitamin D yang cukup, tubuh hanya mampu menyerap sekitar 10–15 persen kalsium dari makanan. Angka tersebut meningkat menjadi 30–40 persen pada individu dengan kadar vitamin D yang memadai.

Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan rakitis pada anak, osteomalasia pada orang dewasa, hingga meningkatkan risiko osteoporosis pada lansia. Vitamin ini juga berperan dalam proses remodeling tulang yang menjaga kepadatan dan kekuatan tulang sepanjang hidup.

🛡️ Mendukung Sistem Imunitas

Selain menjaga kesehatan tulang, vitamin D membantu mengatur respons sistem imun.

Penelitian menunjukkan vitamin D merangsang produksi peptida antimikroba yang membantu tubuh melawan bakteri, virus, dan jamur. Vitamin ini juga berperan mengendalikan proses inflamasi dengan menekan produksi sitokin proinflamasi.

Meski demikian, penelitian menunjukkan manfaat suplemen vitamin D paling terasa pada individu yang mengalami defisiensi. Hingga kini, belum ada bukti konsisten bahwa suplemen dosis tinggi mampu mencegah semua infeksi pada orang dengan kadar vitamin D normal.

⚠️ Tanda Kekurangan Vitamin D

Kekurangan vitamin D sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Namun, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

* Mudah lelah.
* Nyeri tulang dan sendi.
* Otot terasa lemah.
* Mudah sakit.
* Perubahan suasana hati.

Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami kesulitan berjalan, penurunan kekuatan otot, hingga meningkatnya risiko jatuh, terutama pada lansia.

Kelompok yang berisiko mengalami defisiensi meliputi lansia, orang yang jarang terkena sinar matahari, penderita obesitas, penyakit ginjal kronis, penyakit hati, dan gangguan penyerapan nutrisi.

☀️ Sumber Vitamin D

Paparan sinar matahari menjadi sumber utama vitamin D alami. Di negara tropis seperti Indonesia, paparan sinar matahari selama 10–30 menit pada wajah, lengan, dan tungkai sebanyak dua hingga tiga kali per minggu umumnya membantu pembentukan vitamin D.

Selain itu, vitamin D juga terdapat pada ikan berlemak seperti salmon, tuna, dan sarden, kuning telur, hati sapi, susu fortifikasi, serta sereal fortifikasi.

Pada individu dengan defisiensi yang telah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium, dokter dapat merekomendasikan suplemen vitamin D sesuai kebutuhan.

⚕️ Risiko Kelebihan Vitamin D

Kelebihan vitamin D umumnya terjadi akibat konsumsi suplemen dosis tinggi dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan hiperkalsemia atau kadar kalsium darah yang terlalu tinggi. Gejalanya meliputi mual, muntah, sering haus, sering buang air kecil, tubuh lemah, gangguan ginjal, nyeri perut, hingga gangguan irama jantung.

NIH menyebut batas asupan maksimum yang dianggap aman bagi orang dewasa sehat adalah 4.000 IU per hari, kecuali terdapat indikasi medis dan pengawasan dokter.

“Suplementasi vitamin D sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan tubuh dan rekomendasi tenaga medis.”(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *