Universitas Nusa Cendana (Undana), GMIT, dan Pemerintah Kabupaten Kupang berkolaborasi memberdayakan jemaat melalui budidaya ayam. Pemkab Kupang menyiapkan dukungan awal sekitar Rp600 juta untuk program tersebut.
BEBER FAKTA— Kolaborasi itu berlangsung dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Aula Lantai III Gedung Rektorat Undana, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Jemaat melalui Budidaya Ayam sebagai Sumber Gizi dan Pendapatan Keluarga” itu juga berlangsung secara daring.
Peserta mencakup perwakilan ketua klasis teritori Kupang Daratan dan Semau. Akademisi Undana serta pimpinan OPD terkait di Kabupaten Kupang juga mengikuti kegiatan tersebut.
🤝 Kolaborasi Tiga Lembaga
Program ini bertujuan mendorong pemberdayaan masyarakat dan jemaat melalui usaha budidaya ayam.
Pengembangan ayam diharapkan memenuhi kebutuhan protein keluarga sekaligus membuka sumber pendapatan.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menilai kolaborasi tiga lembaga penting untuk menjawab persoalan masyarakat.
Menurutnya, setiap lembaga memiliki tugas dan fungsi berbeda. Karena itu, penyelesaian persoalan masyarakat membutuhkan kerja bersama.
“Tempat ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tinggi, pemerintah dan lembaga agama bisa duduk bersama untuk memikirkan apa yang harus kita lakukan bagi masyarakat sesuai dengan porsi, tugas dan fungsi kita masing-masing,” kata Jefri Bale.
Jefri juga berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kewajiban akademik. Ia ingin kegiatan itu menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Baca Juga: Relawan Ahmad Zaki Gugur Saat Bantu Korban Gempa NTT
“Output dari kegiatan ini bisa tercapai jauh lebih luas sehingga tujuan kita untuk menghasilkan kondisi masyarakat yang jauh lebih baik, lebih mandiri dan lebih sejahtera itu bisa tercapai,” ujar Jefri Bale.
💰 Pemkab Kupang Siapkan Rp600 Juta
Bupati Kupang, Yosef Lede, menyatakan pemerintah daerah siap memperkuat kolaborasi dengan Undana dan GMIT.
Menurut Yosef, budidaya ayam dan telur memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan. Komoditas itu juga dapat memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kita punya potensi lahan yang luar biasa, kita punya potensi sumber daya manusia. Memang kalau bicara di mana-mana, pasti dana yang menjadi persoalan. Tetapi lewat kolaborasi hari ini kita pastikan bahwa kami siap berkolaborasi,” kata Yosef Lede.
Sebagai langkah awal, Yosef menyampaikan rencana dukungan anggaran sekitar Rp600 juta.
Ia menegaskan anggaran tersebut diarahkan sebagai bantuan produktif, bukan kebutuhan konsumtif.
“Jangan diberikan sesuatu yang wow, kolaborasi tiga lembaga, tapi tidak melakukan apa-apa. Kita coba mulai dengan modal Rp600 juta,” ujar Yosef Lede.
Dukungan tersebut ditargetkan dapat mengembangkan sekitar 6.000 ekor ayam sebagai tahap awal program.
Pemkab Kupang akan melihat dampak program sebelum menentukan tambahan anggaran pada tahun berikutnya.
“Kalau sekiranya berdampak bagus, jalan bagus, pasti kita tidak usah segan-segan tahun depan kita anggarkan yang banyak,” kata Yosef Lede.
Yosef juga menilai Kabupaten Kupang berpeluang menjadi pemasok ayam dan telur untuk kebutuhan MBG.
Menurutnya, produksi lokal perlu diperkuat agar daerah tidak terus bergantung pada pasokan dari luar.
⛪ GMIT Dorong Ekonomi Jemaat
Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Samuel B. Pandie, menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai pelaku utama pemberdayaan ekonomi.
Samuel memperkenalkan gagasan model ekonomi dua dinar yang terinspirasi dari kisah Orang Samaria yang murah hati dalam Alkitab.
Menurutnya, model tersebut tidak hanya mengejar keuntungan. Pemberdayaan juga harus menggerakkan kehidupan dan menghadirkan pemulihan masyarakat.
“Secara ekonomi itu berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya, sedangkan pemberdayaan berkaitan dengan manusia sebagai pelaku,” kata Samuel Pandie.
Samuel juga menekankan pentingnya transparansi dan tata kelola dalam program pemberdayaan ekonomi.
Ia menyebut GMIT telah memiliki praktik pemberdayaan melalui usaha peternakan ayam. Salah satunya menunjukkan peningkatan produksi setelah dikembangkan secara bertahap.
“Ketika kita pelihara mulai 200 ekor, kita bisa sampai 600-700 telur per hari. Setiap tiga hari atau lima hari seminggu kita lepas yang baru dibeli itu. Kemudian dari 200 kita naikkan volumenya,” jelas Samuel Pandie.
Ia berharap kerja sama GMIT, Undana, dan Pemkab Kupang memperluas model tersebut melalui dukungan pengetahuan, kebijakan, dan akses pasar.(*/Red.03-BF)











