Se’i NTT, Warisan Kuliner Autentik yang Mengasapi Dunia dari Tradisi Masyarakat Rote

Foto: Istimewa / Olahgrafis: Diego Tristan-BF
Sepotong daging yang diasap berjam-jam ternyata menyimpan kisah panjang tentang tradisi, ketahanan, dan identitas masyarakat Nusa Tenggara Timur. Itulah Se’i, kuliner yang kini dikenal hingga mancanegara.

Di BALIK aroma asap yang menggoda, Se’i bukan sekadar hidangan khas Nusa Tenggara Timur (NTT). Kuliner ini lahir dari kearifan masyarakat Rote yang mewariskan cara mengolah daging dari generasi ke generasi hingga menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia.

🪵 Berawal dari Cara Bertahan Hidup

Se’i berasal dari masyarakat etnis Rote. Dalam bahasa Rote, “Se’i” berarti daging yang diiris tipis memanjang.

Tradisi ini muncul sebagai cara mengawetkan daging, terutama sapi dan babi, agar dapat dinikmati lebih lama. Masyarakat kemudian mengasapinya menggunakan kayu bakar, sehingga daging tidak hanya lebih awet, tetapi juga memiliki aroma yang khas.

🔥 Aroma Asap yang Tak Pernah Berubah

Hingga kini, proses pembuatan Se’i tetap mempertahankan cara tradisional. Daging diiris tipis, lalu dibumbui sederhana menggunakan garam dan bawang putih.

Selanjutnya, daging diasap perlahan di atas bara api memakai kayu khas NTT, seperti kayu kosambi atau lerak. Proses yang berlangsung selama berjam-jam itu menghasilkan tekstur yang empuk serta aroma asap yang meresap hingga ke serat daging.

Cara memasak inilah yang membuat Se’i memiliki cita rasa autentik dan mudah dikenali.

🍖 Dari Sapi hingga Ayam dan Ikan

Perjalanan Se’i terus berkembang. Jika dahulu identik dengan daging sapi dan babi, kini masyarakat juga menikmati varian ayam dan ikan.

Meski begitu, Se’i sapi tetap menjadi pilihan paling ikonik karena rasa dagingnya yang kuat dan teksturnya yang lembut.

🌍 Mengangkat Nama NTT Lewat Wisata Kuliner

Popularitas Se’i kini melampaui daerah asalnya. Banyak wisatawan menjadikan hidangan ini sebagai tujuan wajib saat berkunjung ke NTT.

Berbagai warung dan restoran lokal menyajikan Se’i bersama jagung bose dan sambal lu’at, pelengkap khas yang memperkaya cita rasa.

Kehadiran Se’i juga ikut menggerakkan wisata kuliner. Kuliner ini membantu memperkenalkan budaya NTT sekaligus mendukung perekonomian masyarakat setempat.

❤️ Lebih dari Sekadar Hidangan

Dari dapur-dapur tradisional di Rote hingga dikenal di berbagai daerah bahkan dunia, Se’i membuktikan bahwa warisan budaya dapat bertahan melalui cita rasa.

Setiap potong Se’i tidak hanya menghadirkan kelezatan, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi, identitas, dan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur yang terus hidup dari generasi ke generasi.(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *