Modal Nyawa, Kini Kuasai Bisnis Daging Babi di Kota Kupang

Nikson Edison Kadek

Nikson E. Kadek, kuasai penjualan daging babi segar d Kota Kupang


Nikson Edison Kadek, di kalangan pebisnis daging babi, ia biasa disapa om Nikson. Pria low profille ini dikenal sebagai pemasok daging babi yang sukses di Kota Kupang.


OM NIKSON bermitra dengan beberapa rumah makan Se’i babi (daging babi asap, khas NTT- Red) sebagai penyedia daging babi dan juga menyuplai daging babi bagi banyak lapak penjual daging babi segar di seantero Kota Kupang.

Di kantornya, di seputaran Oebufu, om Nikson menerima beberfakta.web.id untuk berbincang tentang kiprahnya dalam bisnis penyedia daging babi di Kota Kupang.

“Maaf ini kantor saya kecil saja, kebetulan saya juga punya usaha kost-kost-an, jadi saya pakai satu kamar ini untuk saya gunakan sebagai kantor. Di kantor ini saya mengatur bisnis saya sehari-harinya,” jelas om Nikson, sambil mempersilahkan beberfakta untuk masuk.

 

Ruang kantor om Nikson tidak besar. Dengan ukuran kurang lebih 3×3 meter persegi, lengkap dengan toilet di dalamnya. Ruangan kantor diberi cat berwarna putih, bersih, nyaman dan sejuk oleh hembusan AC. Meja dan kursi kerjanya diletakan menghadap ke pintu masuk, dengan dua buah kursi plastik putih untuk tamu menghadap ke meja kerja. Di tembok belakang agak ke atas, di belakang kursi kerja, tergantung dua buah neon box kecil lambang dari dua buah perusahaan milik om Nikson.

Membuka obrolan, om Nikson menceritakan bagaimana dirinya memulai usahanya.

Setelah tidak lagi melanjutkan sekolah, karena memang ia sudah tidak ingin melanjutkan pendidikannya, om Nikson hanya berpikir bagaimana kelanjutan hidupnya. Ia bertekad untuk bisa mandiri dan menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja.

Ia mengaku tidak secara terencana untuk berbisnis jualan daging babi. “Awalnya saya tidak berpikir untuk berjualan daging babi. Hanya bekerja mengikuti teman yang sudah lebih dulu mempunyai usaha berjualan daging babi,” kisahnya.

Nikson melanjutkan, saat dirinya mengambil keputusan untuk mulai serius berbisnis, ia meninggalkan pola hidup bersenang-senang, ia hanya berfokus untuk bisa berbisnis dan bisa mendapatkan hasil dari usahanya itu.

“Saya berusaha menjadikan kerja sebagai candu. Saya hanya berpikir tentang bagaimana meraih hasil yang lebih baik dari hari ke hari. Saya meninggalkan urusan happy-happy, benar-benar hanya berfokus pada kerja, mengembangkan bisnis penjualan daging babi segar saja,” jelas om Nikson.

Bagi om Nikson, lebih baik baginya untuk bekerja keras semasa muda, agar saat sudah tua, ia bisa menikmati hasil kerjanya.

“Prinsip saya adalah bagaimana saat muda ini saya bisa membangun bisnis dengan baik, sehingga saat tua nanti, saya bisa menikmati hasil dari usaha dan kerja keras itu,” tegasnya lagi.

Modal Nyawa

Ketika ditanya oleh beberfakta terkait modal awal sewaktu ia memulai bisnis, sambil tertawa, om Nikson menjawab, bahwa dirinya hanya bermodalkan nyawa saja untuk mulai usahanya.

“Kalau mau dibilang saya ini hanya bermodalkan nyawa saja saat mulai bisnis penjualan daging babi. Karena harga babi kan mahal, darimana saya bisa mendapatkan uang untuk membeli babi? Ya hanya dengan modal nyawa saja,” terangnya sambil tertawa.

Ia mengisahkan, pada awalnya ia meminta bantuan dari teman-temannya yang sudah lebih dulu memulai usaha penjualan daging babi untuk membeli babi yang sudah diincarnya dari penjual.

“Setelah mendapatkan babi dari penjual hewan, saya meminta bantuan dari teman-teman untuk membayar babi tersebut, dengan perhitungan nantinya setelah penualan, keuntungan akan saya bagi dengan teman yang telah membayar babi itu,” cerita om Nikson.

Dari sana sedikit demi sedikit om Nikson mulai mengumpulkan modalnya sendiri untuk membeli ternak babi dan kemudian menjual dagingnya.

Usahanya terus berkembang, dari awalnya ia hanya mempunyai dua buah lapak penjualan daging babi segar di Pasar Inpres Naikoten I, hingga akhirnya ia bisa mengembangkan usahanya.

600 Hingga 700 kilogram sehari

“Awalnya saya hanya mempunya dua buah lapak penualan daging babi segar di Pasar Inpres Naikoten I. Sehari hanya menjual lima puluh kilo saja, jika lagi hari baik, bisa sampai seratus kilo daging babi terjual,” jelas om Nikson

Kini usahanya telah berkembang pesat. Dalam sehari bisnis penjualan daging babi segarnya menembus angka 600 hingga 700 kilogram perhari.

“Sekarang dalam sehari saya bisa menjual daging babi sear sebanyak enam ratus hingga tujuh ratus kilo. Itu untuk rumah-rumah makan yang menjadi pelanggan saya, juga untuk lapak=lapak penjualan daging babi segar yang saya suplai,” terangnya.

Selain memasok dan menjual daging babi segar, om Nikson juga mempunya sebuah rumah makan se’i babi seputaran jln. Lalamentik, bilangan Oebufu, Kota Kupang, yang diberi nama Rumah Makan Se’i Babi Alaska.

Bisnis Kulit Sapi dan Properti

Setelah bisnis penjualan daging babi serta rumah makan se’i babi serta kost-kost-annya, kini om nikson mempunya dua perusahaan, CV. Alaska Edison NTT dan PT. Samudra Tali Arus.

Keduanya perusahaan itu mendasari perluasan usaha om Nikson di bisnis kulit sapi dan bisnis properti.

Muda Bekerja, Tua Bercerita

Diakhir obrolan, om Nikson menitipkan pesan untuk milenial dan orang yang baru mulai membuka atau menjalankan usahanya. Ia berpesan untuk selalu fokus dan tidak melupakan Tuhan.

“Untuk milenial dan teman-teman yang baru muai menjalankan usahanya, pesan saya, harus selalu fokus, terus mengandalkan Tuhan, pegang satu prinsip, ‘muda bekerja, tua bercerita’. Saat bekerja jangan mengambil resiko dengan hal-hal lain yang akan menjungkirbalikan usaha. Ingat ketika berusaha, harus fokus, komitmen, berdoa. Apa yang bisa dilakukan oleh orang lain untuk sukses, kita pun bisa melakukannya,” pesan om Nikson. (TIm-BF/Vip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *