Anak yang keracunan makanan biasanya mengalami muntah dan diare. Namun, kehilangan cairan dalam jumlah banyak ternyata dapat mengganggu kerja otak hingga daya ingat.
BEBER FAKTA—Bagi orangtua, muntah dan diare setelah keracunan makanan mungkin terlihat sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi dehidrasi jika berlangsung berulang.
Anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Sebab, kekurangan cairan dalam kondisi berat dapat berdampak serius pada tubuh.
💧 Saat Cairan Tubuh Terus Hilang
Ahli Ilmu Gizi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, M.Kes., menjelaskan risiko tersebut.
Menurut Prof. Meilinah, dehidrasi berat dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan daya ingat. Kondisi itu terjadi ketika tubuh kehilangan banyak cairan.
Kehilangan cairan juga dapat menyebabkan volume darah berkurang. Padahal, darah berperan membawa oksigen menuju otak.
“Dehidrasi itu bisa menyebabkan darah juga berkurang,” ujar Prof. Meilinah dalam wawancara dengan Kompas.com.
Ketika volume cairan dan darah menurun, pasokan oksigen menuju otak dapat ikut terganggu. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir.
🧠 Hipokampus Ikut Terdampak
Dampak dehidrasi tidak berhenti pada kemampuan berpikir. Prof. Meilinah menyebut kondisi tersebut juga dapat memengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan daya ingat.
Bagian otak itu adalah hipokampus.
“Dia mempengaruhi hipokampus,” kata Prof. Meilinah.
Ia juga menyebut dehidrasi akut dapat menyebabkan perubahan pada otak yang disebutnya sebagai shrinkage atau penyusutan sementara.
Perubahan tersebut dapat berpengaruh terhadap fungsi kognitif. Salah satunya adalah kemampuan mengingat.
🚽 Muntah dan Diare Membuat Risikonya Meningkat
Pada kasus keracunan makanan, kehilangan cairan dapat terjadi ketika muntah dan diare berlangsung terus-menerus.
Prof. Meilinah secara khusus menyoroti diare berair atau *watery diarrhea*. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh kehilangan cairan dalam jumlah banyak.
“Risiko besar untuk dehidrasi,” ujarnya.
Karena itu, muntah dan diare yang terjadi berulang tidak sebaiknya dianggap sepele. Kehilangan cairan yang terus berlangsung dapat membuat kondisi tubuh semakin serius.
Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih. Dehidrasi pada kelompok tersebut dapat berakibat fatal.
😣 Bukan Hanya Cairan, Tubuh Juga Mengalami Stres
Keracunan makanan juga dapat membuat tubuh mengalami tekanan. Muntah dan diare berat dapat memicu respons stres dalam tubuh.
Prof. Meilinah menjelaskan kondisi tersebut dapat meningkatkan hormon stres. Salah satunya adalah kortisol.
Hormon tersebut, menurut dia, juga dapat memberikan dampak buruk terhadap daya ingat.
“Ditambah lagi dengan diare yang terus-menerus bolak-balik ke WC dan muntah-muntah hebat, itu memicu hormon stres ya, kortisol,” jelasnya.
Dengan demikian, gangguan kemampuan berpikir dan daya ingat tidak semata-mata berasal dari makanan yang terkontaminasi.
Kondisi tubuh akibat kehilangan cairan serta tekanan dari muntah dan diare berat juga menjadi bagian dari persoalan.
🥤 Oralit untuk Mengganti Cairan
Ketika dehidrasi mulai terjadi, penggantian cairan menjadi hal penting. Prof. Meilinah menyarankan pemberian oralit untuk membantu mengganti cairan yang hilang.
“Oralit. Sebanyak yang dia mampu minum,” ujarnya.
Namun, pemberian oralit bukan berarti penanganan medis dapat diabaikan. Terutama ketika kondisi dehidrasi sudah cukup berat.
Prof. Meilinah menyarankan pasien segera dibawa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
👨👩👧 Orangtua Perlu Lebih Waspada
Pada anak yang mengalami keracunan makanan, orangtua perlu memperhatikan muntah dan diare yang berlangsung berulang.
Kehilangan cairan yang terus terjadi dapat meningkatkan risiko dehidrasi. Kondisi tersebut juga dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Prof. Meilinah menyebut kebutuhan cairan harian minimal sekitar 30 cc per kilogram berat badan.
Karena itu, kecukupan cairan perlu diperhatikan. Pertolongan medis juga perlu segera dicari ketika muncul tanda dehidrasi.
❤️ Jangan Tunggu Kondisi Memburuk
Keracunan makanan memang sering dimulai dengan keluhan yang terlihat sederhana. Mual, muntah, dan diare menjadi tanda yang umum muncul.
Namun, ketika cairan tubuh terus hilang, persoalannya dapat berkembang lebih jauh. Dehidrasi berat dapat memengaruhi pasokan oksigen ke otak dan fungsi kognitif.
Bagi anak, perhatian orangtua menjadi penting sejak gejala muncul. Memberikan cairan dan mencari pertolongan medis dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi akibat kehilangan cairan.(*/Red.01-BF)











