Kue Cerorot Pacung, Jajanan Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Foto: Istimewa
Di antara hiruk-pikuk Pasar Tejakula pada dini hari, kue cerorot masih menemukan penikmatnya. Dari tangan Ketut Darsini, jajanan khas Desa Pacung ini terus dibuat dan dijajakan meski perajinnya kini tinggal tiga orang.
🌴 Terbungkus Lontar, Punya Cerita

Kue cerorot bukan sekadar jajanan tradisional bagi warga Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Bentuknya langsung mencuri perhatian. Daun lontar dibentuk menjadi kerucut seperti terompet mini. Di dalamnya tersimpan adonan lembut dengan cita rasa manis.

Bahan pembuatannya juga sederhana. Ada tepung beras, gula pasir, gula merah atau gula Bali, serta santan kelapa.

Meski bentuk bungkusnya terlihat rumit, proses membuatnya tidak membutuhkan waktu lama. Seluruh proses dapat selesai dalam waktu kurang dari satu jam.

☕ Dari Dapur, Lalu Berangkat Sebelum Fajar

Darsini memulai proses dengan mencampur tepung beras dan air secukupnya. Setelah itu, adonan dicampur dengan gula pasir. Selanjutnya, ia menambahkan larutan santan kelapa dan gula merah. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam bungkus daun lontar yang sudah disiapkan.

Cerorot lalu dikukus hingga matang. Proses pengukusan membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

“Bahannya ada tepung beras, gula pasir, sama gula bali. Bikin sekilo jadinya 60 biji. Rebusnya itu sekitar 20 menit,” kata Ketut Darsini.

Dalam sehari, Darsini bisa membuat sekitar 300 biji cerorot. Setelah siap, ia membawanya ke Pasar Tradisional Tejakula.

Namun, waktu berjualan tidak panjang. Darsini mulai menjajakan cerorot sekitar pukul 03.00 Wita. Dua jam kemudian, sekitar pukul 05.00 Wita, aktivitas berjualan itu berakhir. Menurut Darsini, peminatnya cukup banyak.

👐 Ada Cara Unik Menikmatinya

Bagi yang belum pernah mencoba cerorot, cara menyantapnya juga punya keunikan tersendiri.

Darsini menjelaskan, pembeli bisa terlebih dahulu mengupas bungkus daun lontarnya. Setelah itu, isi kue dapat langsung dinikmati. Ada pula cara lain yang lebih khas. Cerorot bisa didorong sekaligus dipencet dari bagian bawahnya.

Bagian bawah yang berbentuk lancip diarahkan ke atas. Dengan cara itu, isi cerorot akan keluar dari bungkusnya. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis membuat cerorot cocok disantap sebagai teman minum kopi.

💍 Bukan Sekadar Teman Ngopi

Cerorot juga memiliki tempat dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Pacung.

Darsini mengatakan, kue tersebut kerap disajikan dalam upacara pernikahan di Desa Pacung. Dalam tradisi tersebut, cerorot memiliki makna simbolis. Kue cerorot menjadi simbol laki-laki.

Sementara itu, kue kaliadrem menjadi simbol perempuan. Karena itu, keberadaan cerorot tidak hanya berkaitan dengan urusan rasa. Jajanan ini juga hadir dalam salah satu momen penting kehidupan masyarakat.

🥺 Perajinnya Tinggal Tiga Orang

Di balik manisnya cerorot, tersimpan cerita tentang tradisi yang perlahan menghadapi perubahan.

Darsini bercerita, kini hanya tiga orang di Desa Pacung yang masih bisa membuat kue cerorot. Banyak warga memilih pekerjaan lain. Kondisi tersebut membuat jumlah perajin cerorot semakin sedikit.

Di tengah perubahan itu, Darsini masih menjalankan rutinitasnya. Ia membuat cerorot, membawanya ke pasar, lalu menjualnya sebelum matahari benar-benar terbit.

“Sehari itu bisa 300 biji, itu dijual paginya di Pasar Tejakula, dari jam 3 pagi sampai jam 5 pagi. hanya sebentar jualannya karena lumayan rame peminatnya,” tukasnya.

🌅 Dua Jam yang Menjaga Sebuah Rasa

Setiap dini hari, sekitar 300 cerorot menjadi bagian dari aktivitas Darsini di Pasar Tejakula.

Waktu jualannya memang singkat. Namun, selama masih ada pembeli, cerorot tetap memiliki ruang di tengah kehidupan masyarakat.

Kini, kue cerorot Pacung masih bisa dinikmati sebagai teman ngopi. Jajanan ini juga tetap hadir dalam upacara pernikahan masyarakat setempat.

Di balik bentuknya yang mungil dan sederhana, ada keterampilan yang terus dijalankan. Ada pula sebuah tradisi yang masih bertahan melalui tangan para perajinnya.(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *