Sederhana bentuknya, murah harganya, tetapi kaliadrem menyimpan rasa dan tradisi yang terus hadir di Bali. Kue berbahan tepung beras ini menjadi teman minum teh sekaligus pelengkap sajian saat Galungan.
BEBER FAKTA—Di antara beragam jajanan tradisional Bali, kaliadrem punya cara sendiri untuk menarik perhatian. Bentuknya sederhana, tetapi rasa gurih dan manisnya membuat kue ini tetap dicari.
🍵 Teman Sederhana di Sore Hari
Kaliadrem terbuat dari tepung beras, gula merah, kelapa, garam, dan air. Kue ini cocok disantap bersama teh atau kopi pada sore hari. Bentuknya bisa bulat seperti donat mini. Ada pula yang berbentuk segitiga dengan lubang di bagian tengah.

Lubang tersebut menjadi salah satu ciri khas kaliadrem. Jumlahnya bisa satu hingga tiga lubang pada setiap kue. Teksturnya sedikit liat. Saat digigit, rasa gurih dan manis berpadu di dalam mulut.
🌺 Dari Dapur Tradisional hingga Perayaan Galungan
Di Bali, kaliadrem bukan sekadar jajanan sehari-hari. Kue tradisional ini juga hadir dalam tradisi masyarakat.
Saat hari raya Galungan, kaliadrem biasanya menjadi salah satu pelengkap sajian. Karena itu, kue ini banyak dicari dan dijual di pasar-pasar tradisional. Harganya pun tetap terjangkau. Satu buah kaliadrem dihargai sekitar Rp500 hingga Rp1.000.
🌾 Berawal dari Beras yang Ditumbuk
Di balik bentuknya yang sederhana, pembuatan kaliadrem membutuhkan waktu. Prosesnya masih menggunakan cara tradisional. Beras ditumbuk hingga menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian dicampur dengan gula merah, kelapa parut, air, dan garam.
Setelah itu, adonan diuleni hingga memiliki tekstur halus dan lembut. Namun, adonan belum bisa langsung dibentuk.
⏳ Lima hingga Delapan Jam untuk Menunggu
Adonan kaliadrem harus didiamkan selama lima hingga delapan jam. Waktu tersebut menjadi bagian penting sebelum adonan kembali diolah. Setelah didiamkan, adonan kembali diuleni. Barulah adonan bisa dibentuk sesuai ciri khas kaliadrem.
Sebagian dibuat bulat menyerupai donat. Sebagian lainnya dibentuk menjadi segitiga. Untuk menghasilkan bentuk segitiga, pembuat kaliadrem menggunakan kojong. Cetakan tersebut terbuat dari daun pisang.
🥥 Wijen Menjadi Sentuhan Terakhir
Setelah bentuknya selesai, permukaan adonan ditaburi wijen. Tahap berikutnya adalah menggorengnya hingga berubah warna menjadi kecokelatan.
Kaliadrem kemudian dijajakan dengan cara sederhana. Sebagian penjual membungkusnya menggunakan plastik agar terbebas dari debu. Namun, di pasar-pasar tradisional, ada pula kaliadrem yang dijajakan begitu saja.
❤️ Murah, Sederhana, tetapi Punya Cerita
Proses panjang tidak membuat harga kaliadrem menjadi mahal. Satu buah kue tetap bisa dibeli dengan harga Rp500 hingga Rp1.000.
Rasanya yang gurih dan manis membuatnya cocok disantap bersama keluarga di rumah. Sementara itu, kehadirannya saat Galungan membuat kaliadrem tetap dekat dengan tradisi Bali.
Dari beras yang ditumbuk hingga kue kecokelatan yang siap disantap, kaliadrem menunjukkan kesederhanaan jajanan tradisional. Rasanya mungkin sederhana, tetapi perjalanan pembuatannya menyimpan bagian dari tradisi yang terus dinikmati.(*/Red.01-BF)











