Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menggandeng Universitas Nusa Cendana untuk mengkaji pembentukan kawasan perdagangan bebas demi menghidupkan ekonomi warga di perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.
BEBER FAKTA—Langkah strategis ini menjadi tonggak awal perubahan lanskap wilayah terluar Indonesia. Daerah perbatasan yang dulunya identik dengan pertahanan kini bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
🌱 Harapan Baru dari Garis Batas Negara
Kawasan perbatasan Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) kini menatap babak baru perkembangan ekonomi. Selama ini wilayah perbatasan darat sering kali dipandang sebatas benteng pertahanan negara.
Kini pandangan tersebut mulai bergeser secara mendasar. Pemerintah berniat mengubah wilayah ini menjadi pusat perdagangan terintegrasi yang mampu mengangkat kesejahteraan warga lokal.
Pembahasan krusial ini mengemuka dalam program Undana Talk Episode 20. Acara tersebut tayang pada Rabu, 29 Juli 2026 melalui kanal YouTube POS KUPANG.
🤝 Sinergi Nyata Pemerintah dan Akademisi Undana
Rencana besar ini membutuhkan pijakan ilmiah yang kuat dan terukur. Oleh karena itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menggandeng para pakar dari Universitas Nusa Cendana (Undana).
Langkah ini menindaklanjuti analisis akademis dari Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D. dan Prof. Dr. David B.W. Pandie, M.S. Para ahli mengkaji secara mendalam kesiapan daerah perbatasan.
Pemerintah Provinsi NTT membutuhkan riset akademis sebagai landasan utama penyusunan kebijakan kawasan perdagangan bebas (FTZ) dan pelabuhan bebas. Kerjasama ilmiah ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang presisi.
“Sekarang ini kita sudah sampai pada tahap mempersiapkan kajian dan pra-uji kelayakannya (feasibility study). Kami tentu bekerja sama dengan para ahli dari Undana yang kami minta untuk meneliti bagaimana mempersiapkan wacana FTZ ini secara terukur,” jelas Melki Laka Lena.
📍 Menjangkau Empat Wilayah Strategis Perbatasan
Rencana pembentukan FTZ akan melingkupi tiga kabupaten perbatasan darat utama. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), dan Malaka.
Area pengembangan ini juga diperluas hingga ke wilayah Kabupaten Kupang. Penggabungan empat daerah ini membentuk ekosistem ekonomi terpadu yang saling menopang.
Kebijakan ini ditargetkan sanggup mengubah total wajah kawasan perbatasan. Potensi ekonomi warga lokal akan terintegrasi secara langsung dalam pasar regional.
🌾 Mengangkat UMKM Sebagai Tuan Rumah Ekonomi
Gubernur NTT menegaskan bahwa kawasan FTZ tidak boleh hanya menguntungkan investor besar. Pelaku UMKM dan Koperasi wajib menjadi pemain utama di tanah mereka sendiri.
Komoditas unggulan rakyat seperti beras, kopi, vanili, dan jambu mente akan didorong masuk ke pasar FTZ. Produk peternakan serta kelautan masyarakat juga siap diekspor ke Timor-Leste.
Pengembangan ekonomi rakyat ini menerapkan sistem konsolidasi terpadu secara berkelanjutan. Pasokan bahan baku dari kelompok usaha kecil akan dihimpun secara rapi sebelum masuk ke industri besar.
“Ini yang saya sebut namanya blessing in disguise, berkah yang datang justru yang akan kita seriusi dan harus berhasil di tengah segala kesulitan kita saat ini. Pastikan bahwa FTZ ini tuan rumah di negeri sendiri itu adalah pengusaha-pengusaha NTT, HIPMI, Kadin, dan juga tentunya dari UMKM dan koperasi NTT khususnya yang ada di perbatasan,”* tegas Gubernur Melki Laka Lena.
🛡️ Benteng Hukum dan Keamanan Kawasan Perbatasan
Penyusunan dokumen teknis dan studi kelayakan bersama Undana ditargetkan selesai pada periode 2026–2027. Jadwal ini dirancang tuntas sebelum memasuki dinamika tahun politik dan gelaran PON 2028.
Selain memacu pertumbuhan ekonomi, kajian riset ini disiapkan untuk menata regulasi wilayah. Penataan aturan sangat penting demi menciptakan ketertiban di garis batas negara.
Kebijakan ini diharapkan mampu meminimalisasi praktik penyelundupan barang melalui jalur tikus. Langkah tegas ini sekaligus menekan potensi kejahatan transnasional di perbatasan.
🕊️ Menatap Masa Depan Perbatasan yang Sejahtera
Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi tinggi atas keterlibatan aktif akademisi Undana. Sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci sukses pembangunan daerah.
Kajian ilmiah yang matang akan menjamin perancangan kawasan bebas berjalan terukur. Keberhasilan program ini ditentukan oleh dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Kini asa baru telah terbentang di sepanjang garis batas negara. Kawasan perbatasan NTT siap berdiri tegak sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan membanggakan.(*Sumber: Humas Undana-Audc/*Red.01-BF)











