Toleransi bukan sekadar slogan. Sekda Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, justru membuktikannya lewat kisah keluarganya sendiri yang hidup dalam perbedaan agama sejak lama.
BEBER FAKTA– Suasana Aula Kampus STIPAS Kupang, Sabtu (16/5), terasa hangat sekaligus penuh refleksi. Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, SH, membuka talkshow bertajuk “Merawat Moderasi Beragama, Menguatkan Wawasan Kebangsaan” yang digelar Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Kupang bersama Senat Mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang.
Talkshow tersebut menghadirkan tokoh lintas agama dan akademisi. Mereka duduk bersama, berbagi pandangan, sekaligus mengajak generasi muda menjaga persatuan di tengah keberagaman yang semakin kompleks.
✨ Sekda Kupang Blak-blakan Soal Keluarga Beda Agama
Dalam sambutannya, Jeffry E. Pelt langsung mencuri perhatian peserta. Ia membagikan kisah pribadi tentang kehidupan toleransi yang sudah ia alami sejak kecil.
Baca Berita sambil dengerin musik terkini yuuukk!!!: Tiktok @beber_fakta
Menurutnya, keberagaman bukan sesuatu yang asing dalam keluarganya. Justru, perbedaan agama, suku, dan budaya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Keberagaman itu sudah ada di dalam darah keluarga kami. Kami hidup dengan perbedaan agama, suku, dan budaya. Dan kami merasakan sendiri bahwa kalau saling menghargai, hidup itu menjadi indah sekali,” ungkap Jeffry di hadapan peserta talkshow.
Ia bahkan mengaku keluarganya memiliki anggota dengan keyakinan berbeda-beda, mulai dari Islam, Katolik hingga Protestan.
Karena itu, Jeffry menegaskan bahwa toleransi tidak boleh berhenti menjadi jargon seremonial. Sebaliknya, nilai tersebut harus hadir dalam tindakan nyata setiap hari.
“Bagi saya, toleransi itu bukan teori. Ini praktik hidup yang terus kami rawat di keluarga,” ujarnya.
☕ Anak Muda Diajak Duduk Bareng dan Saling Dengarkan
Selain berbicara soal keluarga, Jeffry juga mengenang masa aktivismenya saat menjadi bagian dari generasi Cipayung 88.
Ia mengaku hingga kini masih aktif berdiskusi dengan banyak tokoh muda lintas organisasi dan lintas iman. Bahkan, obrolan santai sambil minum kopi menjadi ruang penting untuk menjaga komunikasi antargenerasi muda.
“Kita sering duduk bersama, minum kopi, berdiskusi tentang banyak hal. Karena bangsa ini hanya bisa kuat kalau anak mudanya mau saling mendengar dan berjalan bersama,” katanya.
Menurut Jeffry, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menjaga persatuan bangsa. Sebab, anak muda menjadi kelompok paling dekat dengan perubahan sosial, perkembangan teknologi, sekaligus derasnya arus informasi digital.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun budaya dialog dibanding saling menyerang di media sosial.
🌉 Pesan Paus Fransiskus Disorot: “Bangun Jembatan, Bukan Tembok”
Momen paling menyentuh dalam talkshow itu muncul saat Jeffry mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus.
Ia mengatakan bahwa masyarakat saat ini harus lebih banyak membangun jembatan persaudaraan dibanding menciptakan sekat.
Jefri Pelt – “Paus Fransiskus mengatakan, kita dipanggil untuk membangun jembatan, bukan tembok. Kalimat ini sangat dalam. Di tengah situasi hari ini, mari kita membangun jembatan yang menghubungkan keberagaman kita”
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons hangat dari peserta talkshow.
Selain itu, Jeffry juga mengapresiasi Pemuda Katolik dan STIPAS Kupang karena telah menghadirkan ruang dialog sehat bagi generasi muda.
Menurutnya, forum seperti itu sangat penting untuk memperkuat moderasi beragama sekaligus memperdalam wawasan kebangsaan.
🔥 “Fanatisme Itu Produk Kebodohan”
Sementara itu, Pastor Moderator Pemuda Katolik Komda NTT, RD Jefry Bonlay, menyampaikan pesan yang tak kalah tajam.
Ia menilai dialog lintas iman harus terus diperkuat agar anak muda tidak terjebak dalam fanatisme sempit.
RD Jefry Bonlay – “Fanatisme itu produk dari kebodohan. Karena itu kita harus duduk bersama, saling mendengar, saling berbagi pengalaman hidup supaya bisa berjalan bersama dalam perbedaan”
Menurut RD Jefry Bonlay, kehidupan bersama tidak mungkin tercipta tanpa komunikasi dan keterbukaan.
Karena itu, ruang diskusi seperti talkshow tersebut harus terus diperbanyak di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia juga mengingatkan bahwa toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi wajib diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
🎯 Pemuda Katolik: Toleransi Jangan Sekadar Slogan
Ketua Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang, Valentinus Kopong Masan, mengatakan tema moderasi beragama dipilih karena kondisi sosial saat ini membutuhkan lebih banyak ruang edukasi dan refleksi bersama.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya bangga dengan slogan toleransi tanpa benar-benar menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
Valentinus Kopong Masan – “Moderasi beragama tidak boleh berhenti menjadi slogan bahwa NTT adalah Nusa Terindah Toleransi. Kita harus memastikan nilai itu benar-benar hidup dalam tindakan sehari-hari”
Valentinus menilai generasi muda memegang tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan bangsa.
Karena itu, ia mengajak anak muda menjadi teladan dalam menghargai perbedaan agama, budaya, maupun pandangan sosial.
Selain itu, ia berharap forum lintas iman seperti ini terus menjadi ruang belajar bersama agar masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi keberagaman.
🚨 Moderasi Beragama Jadi Tantangan Anak Muda Era Digital
Talkshow tersebut juga menjadi pengingat bahwa tantangan toleransi di era digital semakin besar.
Arus informasi yang cepat sering memicu kesalahpahaman, hoaks, hingga polarisasi sosial. Karena itu, generasi muda dinilai harus lebih bijak menyaring informasi dan mengedepankan dialog.
Di sisi lain, kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa ruang diskusi lintas agama masih menjadi cara efektif menjaga harmoni sosial di Kota Kupang.
Apalagi, Kupang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan kehidupan toleransi yang cukup kuat di Indonesia Timur.
Karena itu, banyak peserta berharap gerakan moderasi beragama tidak berhenti di ruang seminar, tetapi benar-benar hidup di lingkungan keluarga, kampus, komunitas, hingga media sosial. (Sumber: Siaran Pers Bag. Prokopim Setda Kota Kupang – Yesti Ola / Vip-BF)











