
Dalam sambutan Sekda Jefri mewakili Wali Kota Kupang, Jefri Pelt menekankan pentingnya masyarakat untuk bisa menyaring dan menyajikan informasi secara baik dan benar di internet, khususnya media sosial.
Ia juga menyoroti perilaku warga yang lebih memilih merekam kecelakaan daripada membantu korban. “Sibuk adu cepat posting. Mau makan puji. Lalu dapat apa?” tegasnya.
Ia memberikan gambaran bagaimana berita baik cepat dilupakan dan hilang di tengah masyarakat, sebaliknya berita buruk atau hoax bisa bertahan lebih lama di dalam masyarakat. “Kita duduk bacarita hari ini, lalu bahas hoax yang sudah terjadi dari tahun 2019,” kilah Sekda Jefri.
“Sekarang, kita harus bisa mengontrol jari-jari kita saat meneruskan informasi lewat media sosial. Jangan sampai gara-gara jempol salah pencet, lalu kita berurusan dengan hukum,” kata Jefri Pelt.

Jefri menggambarkan kuatnya pengaruh gawai dalam keseharian masyarakat. “Gunakan jari Anda dengan bijak untuk membantu sesama. Kita tidak harus melakukan hal besar untuk bermanfaat bagi orang lain. Bahkan tindakan kecil dalam memfilter informasi sudah sangat berarti,” tambahnya.
Jefri berharap, dengan mengikuti Pelatihan Duta Anti Hoax, para peserta dapat menjadi duta-duta literasi digital di tengah masyarakat Kota Kupang.
Pelatihan Duta Anti Hoax akan digelar dalam dua hari, tanggal 5 dan tanggal 9 Desember. Selain pemateri dari Pemerintah Kota Kupang dan pemerhati media sosial lokal, juga dihadirkan pemateri dari Mafindo Pusat. (Vico Patty-BF)











