Jalangkote Makassar: Dari Teriakan Penjual hingga Jadi Warisan Kuliner

Foto: Istimewa
Sekilas mirip pastel, tetapi jalangkote menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Dari teriakan penjual yang berkeliling, jajanan ini tumbuh menjadi salah satu kuliner khas Makassar.

DI BERBAGAI sudut Kota Makassar, jalangkote bukan sekadar makanan ringan. Kudapan berkulit tipis dengan isian padat ini hadir dalam sarapan, hajatan, hingga pertemuan keluarga.

🥟 Lebih dari Sekadar Jajanan yang Mengenyangkan

Jalangkote menjadi salah satu makanan khas Makassar yang populer di berbagai kalangan. Ukurannya cukup besar dengan isian yang membuatnya mengenyangkan.

Di dalamnya terdapat sayuran, telur, bihun atau mi, serta daging. Isian sayurnya dapat berupa wortel, ubi, tauge, dan bahan lainnya.

Karena itu, warga setempat tidak hanya menikmatinya sebagai camilan. Jalangkote juga kerap hadir sebagai menu sarapan dan hidangan dalam berbagai acara.

Namun, ada satu pelengkap yang membuat pengalaman menyantap jalangkote terasa berbeda. Kudapan ini biasanya disajikan bersama sambal cair dari cabai dan cuka.

Perpaduan rasa pedas dan sedikit masam menjadi ciri khasnya.

🔍 Mirip Pastel, Tetapi Punya Karakter Sendiri

Bagi orang yang baru pertama melihatnya, jalangkote memang mudah disamakan dengan pastel. Keduanya sama-sama menggunakan kulit dari adonan pastry.

Meski begitu, jalangkote umumnya berukuran lebih besar dan memiliki kulit lebih tipis. Sementara itu, pastel dikenal dengan bentuk setengah lingkaran dan uliran di bagian pinggir.

Perbedaan juga muncul dari penggunaan rempah. Jalangkote biasanya memakai pala dan jintan dalam isiannya.

Rempah tersebut tidak digunakan dalam campuran isian pastel. Karena itu, meski beberapa bahannya serupa, keduanya menghadirkan rasa yang berbeda.

Jalangkote dapat berisi kentang, soun, sayuran, dan daging. Ada pula versi manis dengan isian ubi jalar dan kismis.

Sementara pastel biasanya berisi suun, telur, wortel, dan kentang. Beberapa jenis pastel juga menggunakan telur rebus sebagai isiannya.

Cara penyajiannya pun berbeda. Jalangkote identik dengan sambal cair bercampur cabai dan cuka.

Sebaliknya, pastel dapat disajikan bersama cabai rawit hijau atau sambal kacang.

🗣️ Dari Jalan dan Teriakan Penjual

Di balik nama jalangkote, terdapat cerita tentang cara jajanan ini dulu diperjualbelikan. Budayawan Bugis-Makassar Universitas Hasanuddin, Dr. Firman Saleh, S.S., S.Pd., M.Hum, menjelaskan asal-usul penamaannya.

Menurut Firman, nama jalangkote terdiri dari dua kata dalam bahasa Makassar. Jalang berarti jalan, sedangkan “kote” berkaitan dengan bunyi atau teriakan.

Nama itu dikaitkan dengan para penjual yang dahulu banyak berasal dari kalangan anak-anak. Mereka menjajakan makanan tersebut sambil berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

“Penamaan jalangkote itu dilihat dari namanya yah, ‘jalang’ itu kan jalan, kemudian ‘kote’ itu diambil dari penamaan ayam yang berbunyi. Kote artinya bunyi atau teriak, makanya jalangkote itu disebut yang dijajakan dengan cara berteriak,” jelas Firman.

Dari jalan-jalan tempat para penjual berkeliling, nama itu kemudian melekat pada makanan yang terus dikenal masyarakat hingga kini.

🏛️ Jejak Kuliner yang Diakui sebagai Warisan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jalangkote berarti penganan dari tepung terigu yang diisi taoge dan mi.

Kuliner ini juga telah mendapat pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Berdasarkan laman resmi Kemdikbud, jalangkote ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2015.

Sejarah pasti kemunculannya memang belum diketahui. Namun, masyarakat Bugis-Makassar telah menyajikan jajanan ini sejak dahulu.

Jalangkote dapat menjadi teman minum teh, suguhan bagi tamu, hingga bekal saat bepergian.

Firman menyebut jalangkote sebagai jenis makanan modern berdasarkan masa kemunculannya. Ia menyebut makanan tersebut dikenal sejak sekitar abad ke-19.

“Kalau sejarahnya itu kan makanan modern, sudah masuk makanan modern yah. Karena dia hadir nanti di abad ke-18 atau 19, seribu sembilan ratusan baru muncul,” jelasnya.

🍳 Dari Isian hingga Renyah di Wajan

Jalangkote kini tidak hanya ditemukan di Makassar. Jajanan ini juga telah banyak dijual di berbagai daerah di Indonesia.

Bagi yang ingin membuatnya sendiri, prosesnya relatif sederhana. Sayuran, daging, dan telur disiapkan sebagai isian.

Setelah itu, isian dibalut dengan kulit tipis dan dibentuk menyerupai pastel. Adonan kemudian digoreng hingga matang dan renyah.

Tahap terakhir justru menjadi bagian penting dari pengalaman menyantapnya. Jalangkote disajikan bersama saus pedas dengan sentuhan rasa masam.

❤️ Ketika Sebuah Kudapan Membawa Cerita Kota

Popularitas jalangkote membuat makanan ini tetap dekat dengan kehidupan masyarakat Makassar. Ia hadir dalam aktivitas sederhana, dari sarapan hingga pertemuan bersama keluarga.

Di balik kulit tipis dan isiannya, tersimpan pula jejak perjalanan para penjual yang dahulu berkeliling sambil berteriak menawarkan dagangan.

Kini, jalangkote tetap mudah ditemukan dan terus dicari, termasuk oleh para wisatawan yang datang ke Makassar.

Bagi sebagian orang, mungkin ia hanya tampak seperti pastel. Namun, bagi Makassar, jalangkote membawa rasa, cerita, dan jejak budaya yang telah diwariskan lintas generasi.(*/Red.01-BF)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *