Kesederhanaan ternyata bisa melahirkan warisan budaya yang bertahan lintas zaman. Itulah kisah tinutuan atau Bubur Manado, hidangan yang dahulu menjadi jalan keluar saat beras sulit didapat, namun kini menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara.
BEBER FAKTA — Di balik semangkuk Bubur Manado tersimpan cerita tentang perjuangan, kedekatan manusia dengan alam, dan semangat berbagi. Hidangan ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga merekam perjalanan panjang masyarakat Minahasa dalam menghadapi keterbatasan.
🌿 Berawal dari Keterbatasan
Sejak dahulu, beras menjadi bahan pangan yang tergolong mewah bagi masyarakat Minahasa karena harus dibeli. Kondisi itu mendorong warga memadukan beras dengan jagung, ubi, serta beragam sayuran yang tumbuh di sekitar rumah.
Dari kreativitas itulah lahir tinutuan. Bubur ini menjadi santapan sederhana yang mampu memenuhi kebutuhan keluarga dengan bahan yang tersedia di alam.
Tradisi mengolah bubur sebenarnya telah dikenal sejak lama di berbagai belahan dunia. Di Nusantara, setiap daerah kemudian mengembangkan bubur sesuai kekayaan alam dan budaya masing-masing. Sulawesi Utara pun melahirkan Bubur Manado sebagai ciri khasnya.
🥬 Alam Menjadi Sumber Kehidupan
Antropolog Jerman, Gabriele Weichart, mencatat bahwa masyarakat Minahasa memandang dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam.
Mereka mempertahankan tradisi leluhur sebagai pemburu, pengumpul makanan, dan petani. Karena itu, sayur-sayuran, jagung, umbi, serta beras menjadi bahan utama dalam kehidupan sehari-hari.
Perpaduan bahan-bahan tersebut kemudian menjadikan tinutuan bukan sekadar makanan, melainkan cerminan hubungan erat manusia dengan lingkungan.
🍲 Dari Kampung Menuju Kota
Seiring berkembangnya Kota Manado, masyarakat dari berbagai wilayah Sulawesi Utara datang membawa kebiasaan kuliner mereka. Salah satunya adalah tradisi membuat tinutuan.
Dari sinilah nama Bubur Manado semakin dikenal luas hingga menjadi identitas kuliner kota tersebut.
Sejarawan R.Z. Leirissa dalam *Minahasa di Awal Perang Kemerdekaan* juga menyoroti peran para zending pada awal abad ke-19.
“Konon, karena makanan adalah salah satu cara untuk mempererat hubungan, maka para zending berusaha mencari resep makanan yang sesuai untuk disajikan kepada masyarakat setempat.”
Bubur dengan rebusan sayuran dan cita rasa pedas kemudian dianggap mampu menyesuaikan selera masyarakat Minahasa.
❤️ Dari Santapan Rakyat Menjadi Warisan
Kini, Bubur Manado tidak lagi identik dengan makanan rakyat jelata. Hidangan ini justru menjadi salah satu ikon kuliner Sulawesi Utara.
Tinutuan dibuat dari beras yang dipadukan dengan kangkung, bayam, kacang panjang, daun kemangi, ubi merah, jagung pipil, serta daun gedi yang menjadi ciri khas Manado.
Masyarakat biasanya menyantapnya bersama ikan tongkol, ikan asin, sambal bakasang, atau dabu-dabu. Selain kaya rasa, bubur ini juga dikenal memiliki kandungan vitamin dan nutrisi dari beragam sayuran.
Saat ini, Bubur Manado mudah ditemukan di berbagai sudut Kota Manado. Hidangan yang lahir dari keterbatasan itu kini menjadi warisan budaya yang terus dinikmati lintas generasi.(*/Red.01-BF)











