Bika Ambon, Kue Legendaris Medan yang Menyimpan Misteri Nama hingga Kini

Foto: Istimewa
Bika Ambon bukan sekadar oleh-oleh khas Medan. Di balik aroma harum dan teksturnya yang unik, tersimpan kisah panjang tentang sejarah, budaya, dan misteri asal-usul namanya yang belum pernah benar-benar terjawab.

SETIAP orang yang berkunjung ke Medan hampir selalu membawa pulang Bika Ambon. Kue berwarna kuning keemasan dengan pori-pori menyerupai sarang itu telah menjadi bagian dari identitas kuliner Sumatera Utara selama puluhan tahun. Namun, di balik kepopulerannya, nama Ambon justru memunculkan pertanyaan yang terus hidup hingga sekarang.

🧁 Jejak Kuliner yang Melintasi Generasi

Meski bernama Bika Ambon, kue ini bukan berasal dari Ambon, Maluku. Hingga kini, asal-usul namanya masih menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan peneliti kuliner.

Dosen Tata Boga Universitas Negeri Medan (Unimed), Elsa Sabrina, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa versi mengenai penamaan kue legendaris tersebut.

Versi pertama menyebutkan kata “Ambon” berasal dari istilah dalam bahasa Melayu kuno yang berarti harum atau wangi. Makna itu menggambarkan aroma khas yang muncul ketika Bika Ambon dipanggang.

Sementara itu, versi lain menyebutkan bahwa dahulu para pedagang banyak menjual kue tersebut di kawasan Jalan Ambon, Kota Medan. Seiring waktu, masyarakat kemudian mengenalnya berdasarkan lokasi penjualannya.

📜 Resep Lama yang Terus Bertahan

Perjalanan Bika Ambon ternyata sudah dimulai sejak masa kolonial. Saat itu, kue ini berkembang di tengah masyarakat Tionghoa dan Melayu sebelum akhirnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Jika melihat sejarah kuliner di Medan, kue ini sudah ada sejak era kolonial dan berkembang di tengah masyarakat Tionghoa serta Melayu. Resepnya kemudian diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Elsa

Warisan tersebut tidak hanya menjaga cita rasanya, tetapi juga mempertahankan teknik pembuatannya yang khas hingga sekarang.

🍯 Fermentasi yang Menciptakan Keunikan

Keistimewaan Bika Ambon lahir dari proses yang tidak sederhana. Kue ini dibuat menggunakan tepung tapioka, telur, gula, santan, dan ragi.

Setelah semua bahan tercampur, adonan harus melalui proses fermentasi selama beberapa jam. Tahapan itu membuat adonan mengembang sempurna dan menghasilkan tekstur berongga seperti sarang dengan rasa yang lembut serta legit setelah dipanggang.

Proses tersebut menjadi alasan mengapa Bika Ambon memiliki karakter yang sulit ditiru oleh banyak kue lainnya.

❤️ Lebih dari Sekadar Oleh-Oleh

Di tengah berkembangnya berbagai tren kuliner modern, Bika Ambon tetap mempertahankan tempatnya di hati masyarakat. Kue ini bukan hanya memiliki nilai ekonomi sebagai oleh-oleh favorit wisatawan, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang menjadi bagian dari identitas budaya Sumatera Utara.

“Bika Ambon merupakan contoh bagaimana kuliner daerah mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Kue ini bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang kuat,” tambah Elsa.
🌟 Tetap Menjadi Ikon Medan

Hingga saat ini, Bika Ambon masih menjadi salah satu ikon kuliner Sumatera Utara yang paling dikenal di Indonesia.

Aroma yang khas, tekstur lembut berongga, dan rasa legit membuatnya terus dicintai lintas generasi. Di balik setiap potongannya, Bika Ambon membawa cerita tentang tradisi, warisan budaya, dan sejarah yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.(*/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *