Gagasan tentang Indonesia baru kembali dibicarakan dari Nusa Tenggara Timur. Di tengah perayaan 81 tahun kemerdekaan, para aktivis, Jurnalis dan komunitas berkumpul untuk mempertanyakan arah bangsa.
BEBER FAKTA—Sekretariat DPD GAMKI NTT di Maulafa, Kota Kupang, Selasa (25/8/2026), berubah menjadi ruang refleksi. Kursi plastik memenuhi teras berkanopi berukuran sekitar 6×10 meter.
Sore itu, aktivis, jurnalis, komunitas Beatbox Kupang, hingga komika Flobamora Komedi Klub datang. Mereka mengikuti Diskusi dan Bedah Buku #Reset Indonesia – Gagasan Tentang Indonesia baru.
🪑 Dari Teras GAMKI, Pertanyaan tentang Indonesia Mengemuka
Kegiatan tersebut digelar DPD GAMKI NTT bersama Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) serta AJI Kupang, juga berkolaborasi dengan Konferensi Republik, Nalar Institute dan Lakoat Kujawas.
Acara mengangkat refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Diskusi dimulai sekitar pukul 18.00 WITA, dua jam lebih lambat dari jadwal pada flyer. Winston Neil Rondo, Ketua GAMKI NTT, bertindak sebagai moderator.
Forum menghadirkan Sudirman Said, Sarah Lerry Mboeik, Dhandy Laksono dan Yanuar Nugroho. Benaya Harobu juga hadir sebagai salah satu dari empat penulis buku #Reset Indonesia.
Ketua AJI Kupang, Djemi Amnifu, membuka kegiatan melalui sambutan singkat. Setelah itu, Sudirman Said menyampaikan pandangannya melalui sambungan Zoom.
📖 Empat Generasi Membawa Gagasan tentang Indonesia Baru
Sudirman mengapresiasi gagasan Indonesia baru dalam buku tersebut. Buku itu ditulis empat penulis dari lintas generasi.
Mereka adalah Farid Gaban dari generasi Boomers, Dandhy Laksono dari Gen-X, Yusuf Priambodo dari generasi Millennial dan Benaya Harobu dari Gen-Z.
Menurut Sudirman, buku itu tidak berhenti pada kritik. Para penulis mencoba membaca persoalan masyarakat melalui pengalaman langsung di berbagai daerah.
“Buku ini adalah observasi empiris dari ke-empat penulis yang menyelami kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai daerah lewat tiga ekspedisi keliling Indonesia yang mereka lakukan,” ungkap Sudirman.
Tiga ekspedisi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengamatan para penulis. Mereka membawa pengalaman lapangan ke dalam gagasan yang ditawarkan melalui buku.
⚖️ Ketimpangan Membawa Diskusi pada Gagasan Reset
Dalam paparannya, Sudirman menyoroti ketimpangan dan ketidakadilan dalam pengelolaan pemerintahan oleh penguasa.
Ia menilai gagasan dalam #Reset Indonesia dapat menjadi jalan untuk keluar dari situasi tersebut. Ia menyebut gagasan itu sebagai upaya untuk “menuntun jalan pulang”.
Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Sarah Lerry Mboeik menyoroti persoalan perempuan yang dinilai belum mendapat perhatian serius pemerintah.
Sementara itu, Dandhy Laksono membahas ketimpangan pengelolaan sumber daya alam. Ia menyoroti penguasaan sumber daya alam oleh oligarki.
Yanuar Nugroho kemudian mengungkap persoalan kemiskinan. Ia membahas bagaimana kemiskinan direproduksi oligarki dan kekuasaan untuk melanggengkan kekuasaan.
🎤 Ketika Kritik Politik Bertemu Musik dan Komedi
Suasana diskusi tidak berlangsung kaku. Aksi beatbox dan sentilan para komika ikut mengisi ruang pertemuan.
Beatboxer dari komunitas Beatbox Kupang tampil di sela kegiatan. Komika Flobamora Komedi Klub juga menghadirkan humor di tengah pembahasan persoalan bangsa.
Perpaduan tersebut membuat forum tetap hidup. Kritik terhadap persoalan sosial dan politik hadir berdampingan dengan ekspresi seni komunitas.
Bagi para peserta, ruang diskusi tidak hanya menjadi tempat mendengar paparan. Forum itu juga mempertemukan aktivis, jurnalis dan komunitas dalam satu ruang.
🔎 #Reset Indonesia Tak Ingin Berhenti pada Kritik
#Reset Indonesia—Gagasan Tentang Indonesia Baru membawa pesan yang lebih jauh dari sekadar kritik.
Berdasarkan catatan yang dirangkum dari berbagai sumber tentang buku tersebut, para penulis menawarkan alternatif konkret.
Alternatif itu mencakup ide, mekanisme abstrak dan kerangka kerja untuk memulihkan keseimbangan sosial serta ekologis.
Buku tersebut juga membahas kegagalan struktural rezim. Pembahasannya mencakup deindustrialisasi, ekonomi ekstraktif, *state capture* atau penguasaan negara oleh kepentingan tertentu.
Selain itu, buku menyoroti keruntuhan sektor agraria dan maritim. Para penulis menggunakan data dan laporan lapangan sebagai bagian dari pembahasan.
🌱 Dari NTT, Gagasan Reset Kembali Diperbincangkan
Diskusi di Kupang akhirnya mempertemukan gagasan buku dengan realitas persoalan bangsa. Ketimpangan, perempuan, sumber daya alam dan kemiskinan menjadi bagian dari percakapan.
NTT menjadi tempat berlangsungnya refleksi tersebut pada momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Forum itu menghadirkan berbagai generasi dengan pengalaman dan sudut pandang berbeda.
Buku #Reset Indonesia sendiri menawarkan gagasan tentang Indonesia baru. Gagasan tersebut lahir dari pengamatan empat penulis melalui tiga ekspedisi keliling Indonesia.
Di akhir catatan tentang buku itu, satu hal menjadi garis besar. #Reset Indonesia memilih untuk tidak berhenti pada keluhan.
Ia membawa kritik, data, pengalaman lapangan dan gagasan perubahan ke dalam satu pembahasan tentang arah Indonesia. (Vic-BF/Die-BF)











