Langkah cepat kini diambil oleh Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa. Kampus ini resmi mengintegrasikan kurikulum literasi kesehatan mental dan melatih ratusan konselor sebaya demi mencegah depresi serta risiko bunuh diri.
BEBER FAKTA—Banyak mahasiswa terbiasa menyembunyikan rasa sakit di balik senyum tipis mereka setiap hari. Di tengah stigma yang masih tebal, pertolongan sering kali datang terlambat saat depresi melanda. Kondisi ini yang membuat Universitas Nusa Cendana (Undana) memilih untuk tidak lagi diam.
🎭 Fenomena Senyum Terselubung di Area Kampus
Masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda kini telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Rasa cemas dan depresi sering kali menjalar tanpa disadari oleh lingkungan sekitar. Senyum manis di luar sering kali menyimpan duka yang sangat mendalam.
Kondisi ini menjadi pembahasan utama dalam rapat koordinasi strategis di Rektorat Undana pada Rabu (29/7/2026). Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si. Pertemuan ini menggandeng Mennonite Central Committee (MCC) serta Yayasan Kerja Sama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI).
Langkah penyelamatan ini dinilai sangat mendesak karena luka mental bisa menular dengan cepat. Pemicunya makin beragam, mulai dari kekerasan fisik konvensional hingga tekanan kekerasan digital. Rizky Pradita Manafe, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari tim Mental Health Project mengingatkan bahaya paparan kasus tersebut.
“Hal ini sangat mendesak karena masalah mental dapat menular dan sangat mudah menyebar, termasuk perilaku bunuh diri. Begitu sebuah kasus terekspos, dampaknya bisa langsung terjadi di mana-mana. Hal ini juga berkaitan erat dengan kekerasan yang menjadi pemicu meningkatnya masalah mental dari hari ke hari. Tidak hanya kekerasan konvensional yang kita temui secara langsung, tetapi juga kekerasan digital yang intensitasnya semakin tinggi. Inilah yang membuat kita harus bergerak cepat,” jelas Rizky Pradita Manafe.
🚨 Jejak Duka dan Peringatan Bahaya
Data lapangan menunjukkan fakta yang cukup menyayat hati bagi dunia pendidikan. Sepanjang rentang tahun 2023 hingga 2026, terdapat 11 kasus bunuh diri di Kota Kupang. Empat kasus di antaranya melibatkan mahasiswa aktif dari Undana.
Sebagian besar korban terjebak dalam kondisi yang dikenal sebagai masked depression atau depresi terselubung. Mereka selalu terlihat aktif, berprestasi, dan ceria saat bertemu teman-teman. Padahal, mereka sedang menanggung beban mental yang amat berat secara diam-diam.
Zerlinda Christine Aldira Sanam, S.Psi., M.Psi., mengonfirmasi temuan yang cukup memilukan tersebut. Ia menyebut banyak anak muda pandai menyembunyikan luka mereka di depan publik.
“Dari luar tampak baik-baik saja, aktif, memiliki nilai akademis yang baik, dan ceria, namun menyimpan depresi berat di balik itu,” ungkap Zerlinda Christine Aldira Sanam.
🛡️ Hambatan Kurikulum dan Peluang PKKMB
Layanan Psikologi Terpadu (LPT) Undana mencatat fakta yang tidak kalah mengejutkan. Banyak mahasiswa baru berani melapor ketika berada di fase kritis atau pernah mencoba mengakhiri hidup. Situasi darurat ini mendorong pihak rektorat untuk segera merancang modul pertolongan pertama.
Namun, pengisian materi kesehatan mental pada mata kuliah reguler terhalang struktur kurikulum yang sudah bersifat tetap. Pihak kampus akhirnya memilih jalur yang paling fleksibel dan strategis. Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dipilih sebagai pintu masuk utama.
Ketua tim, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed., menerangkan skema edukasi awal tersebut. Langkah ini diambil untuk meruntuhkan tembok tebal berupa stigma sosial di masyarakat.
“Kami menyepakati bahwa di awal ini literasi kesehatan mental akan dimasukkan terlebih dahulu di PKKMB sembari kami menyiapkan modul pembelajarannya dengan perwakilan Layanan Psikologi Terpadu (LPT) Undana yang akan menjadi narasumber di tiap fakultas,” tutur Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo.
🤝 Pasukan Pendukung Sebaya di Tiap Fakultas
Selain membekali mahasiswa baru, program ini menyepakati dua langkah penguatan lain. Pihak kampus melibatkan tenaga kependidikan dalam program MCC serta mempertimbangkan kehadiran psikiater untuk kasus depresi berat. Langkah ini memastikan penanganan klinis berjalan cepat dan tepat.
Aksi nyata ini ditandai dengan perekrutan tim pendukung sebaya (peer support group). Tahap awal dimulai dengan melatih 30 orang kader utama melalui program Training of Trainers (ToT) mengenai Psychological First Aid (PFA).
Kader utama ini bertugas melatih 30 mahasiswa lain di sembilan fakultas Undana. Total sebanyak 270 kader fakultas dan 30 kader ToT siap siaga menjadi tempat cerita yang aman bagi sesama mahasiswa.
❤️ Kriteria Sahabat Tempat Berbagi Cerita
Menjadi seorang pendukung sebaya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada syarat karakter khusus yang harus dipenuhi oleh para calon kader. Syarat utamanya mencakup rasa empati tinggi, kemampuan bekerja sama, komunikasi yang baik, serta integritas diri.
Privasi menjadi kunci paling utama dalam menjaga kepercayaan mahasiswa yang sedang terluka. Anggota tim, Rizky Pradita Manafe, menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan curhatan kawan sebaya.
“Masalah mental adalah sesuatu yang privat sebenarnya, jadi dibutuhkan orang-orang yang bisa menjaga rahasia serta memiliki kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal yang mumpuni,” tambah Rizky Pradita Manafe.
🌅 Menatap Hari Esok Tanpa Stigma
Melalui program menyeluruh ini, Undana menetapkan target jangka pendek dan panjang secara terukur. Kampus ingin menekan risiko bunuh diri sekaligus meruntuhkan stigma negatif tentang kesehatan mental.
Sivitas akademika kini memiliki kawan setia yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Pertolongan dini kini hadir lebih dekat sebelum beban mental tumbuh makin berat.
Setiap jiwa bernilai dan tidak pernah sendirian dalam mengarungi badai kehidupan. Ruang aman telah terbuka lebar untuk melangkah bersama menuju pemulihan.(*Sumber: Humas Undana-FnT/Red.01-BF)











